Loading...

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI
Blas merupakan salah satu penyakit penting pada lahan kering di Indonesia, terutama pada tanaman padi gogo. Tapi sejak akhir 1980-an, perkembangan penyakit ini kian mengganas. Apa sebabnya? Penyakit blas yang semula hanya menyerang tanaman padi di lahan kering, justru mulai merambah tanaman padi di sawah irigasi. Karena itu, penyakit ini menjadi tantangan yang serius bagi petani, karena banyak ditemukan serangan penyakit blas leher pada lahan sawah irigasi. Lebih menguatirkan penyakit ini mampu menurunkan hasil yang sangat besar pada tanaman padi. Perlu diketahui, penyakit blas disebabkan cendawan Pyricularia grisea. Cendawan ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat. Pada jarak tanam yang rapat memiliki kelembaban udara mikro yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan cendawan P. grisea juga makin tinggi jika pemupukan urea berlebihan. Bahkan pada varietas rentan, serangan blas leher dapat mencapai 90% dan menyebabkan kehilangan hasil padi mencapai 70 %. Padi merupakan inang utama sebagai tempat berkembangnya jamur Pyricularia oryzae sehingga apabila tanaman padi tumbuh serempak di suatu hamparan dan sudah pernah ada gejala serangan sebelumnya maka besar kemungkinan blas ini akan segera menyebar apabila didukung oleh kelembapan dan suhu optimum yaitu antara 24º C - 28º C. Sebaran Penyakit Blas Penyebaran penyakit blas sangat luas dan bersifat destruktif. Apalagi jika kondisi lingkungan menguntungkan. Penyebaran yang demikian luas karena penyakit ini dapat menyebar melalui benih, angin, sisa tanaman padi di lapangan dan tanaman inang lainnya, terutama dari golongan graminae/rerumputan. Jamur P. grisea akan berkecambah pada kondisi optimum. Cendawan P. grisea dapat menjadi patogen pada beberapa tanaman penting lainnya. Misalnya, pada gandum, sorgum dan serealia lainnya. Bahkan lebih dari 40 spesies gulma rumput-rumputan dan gulma lainnya. Kenali Gejala Penyakit Cendawan P. grisea dapat membentuk bercak pada daun padi, buku batang, leher malai, cabang malai, bulir padi dan kolar daun. Bercak pada pelepah daun jarang ditemukan. Penyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun dan blas leher. Bentuk khas dari bercak blas daun adalah belah ketupat dengan dua ujungnya kurang lebih runcing. Bercak yang telah berkembang, bagian tepi berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih keabu-abuan. Bercak bermula kecil berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini terus membesar pada varietas yang rentan, khususnya bila dalam keadaan lembab. Bercak yang telah berkembang penuh mencapai panjang 1–1,5 cm dan lebar 0,3–0,5 cm dengan tepi berwarna coklat. Bercak pada daun yang rentan tidak membentuk tepi yang jelas. Bercak tersebut dikelilingi warna kuning pucat (halo area). Terutama pada lingkungan yang kondusif, seperti keadaan lembab dan ternaungi. Perkembangan bercak juga dipengaruhi kerentanan varietas dan umur bercak itu sendiri Bercak tidak akan berkembang dan tetap seperti titik kecil pada varietas yang tahan. Hal ini karena proses perkembangan konidia dari jamur P. grisea dalam jaringan inangnya terhambat. Pada lingkungan yang kondusif, bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya sebagian besar daun. Blas daun menyebabkan kematian seluruh tanaman pada varietas rentan yang masih muda sampai stadia anakan. Sedangkan blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher mengakibatkan leher malai. Akibatnya, tidak mampu menopang malai dan patah karena tangkai malai membusuk.Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir tanaman padi. Tidak hanya pada bagian daun dan malai, bagian batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah. Serangan P. grisea pada kolar daun (daerah pertemuan antara helaian daun dan pelepah) menimbulkan gejala blas kolar berwarna coklat. Blas kolar yang terjadi pada daun bendera atau pada daun kedua terakhir berpengaruh nyata pada produksi padi. Penyakit blas merupakan penyakit yang terbawa benih (seed borne pathogen), maka untuk mencegah penyakit blas dianjurkan tidak menggunakan benih yang berasal dari daerah endemis penyakit blas.Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kelebihan nitrogen dan kekurangan air menambah kerentanan tanaman. Diduga bahwa kedua faktor tersebut menyebabkan kadar silikon tanaman rendah. Kandungan silikon dalam jaringan tanaman menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel sehingga mempengaruhi terjadinya penetrasi patogen kedalam jaringan tanaman. Tanaman padi yang berkadar silikon rendah akan lebih rentan terhadap infeksi patogen. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi. Mengingat ketahanan varietas terhadap penyakit blas tidak bisa berlangsung lama maka penggunaan varietas tahan perlu didukung dengan komponen pengendalian lain. Fungisida merupakan teknologi yang sangat praktis dalam mengatasi penyakit blas, namun sering kali menimbulkan efek samping yang kurang baik diantaranya menimbulkan resistensi patogen dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu agar fungisida dapat digunakan seefektif mungkin dengan efek samping yang sekecil mungkin, maka fungisida harus digunakan secara rasional yaitu harus diperhitungkan tentang jenis, dosis, dan waktu aplikasi yang tepat. Beberapa jenis fungisida yang dianjurkan untuk mengendalikan penyakit blas adalah Topsin 500 F, Topsin 70 WP, Kasumiron 25/1 WP, dan Delsene MX 80 WP. (Penulis ; Suwarna Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber : Direktorat Perlindungan Tanaman, Kementerian Pertanian , Perkembangan Serangan Penyakit Blas (Pyricularia grisea Sacc.) Pada Tanaman Padi di Indonesia, 2013; http://sistem-pertanian-terpadu.blogspot.com/2014/08/cegah-blast-agar-padi-tak-bablas.html