Loading...

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT JEMBRANA

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT JEMBRANA
Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap makhluk hidup yang dihinggapinya. Penyakit dapat menyerang semua makhluk hidup tak terkecuali hewan ternak. Untuk menyembuhkan penyakit pada hewan ternak, selayaknya ternak yang menderita diperiksa atau dibawa ke dokter hewan untuk konsultasi dan diobati atau tindakan lain yang diperlukan. Semakin cepat penyakit ditangani akan memberikan hasil lebih baik. Apabila terlambat akan berakibat fatal, sebab dapat menular kepada ternak yang lain bahkan tidak jarang menimbulkan kematian. Langkah yang paling tepat adalah mencegah sebelum penyakit itu datang menyerang. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang hewan ternak adalah Jembrana.Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular pada sapi Bali. Penyakit ini tergolong baru di Indonesia sebab hanya ditemukan pada Sapi Bali saja. Awalnya penyakit ini terjadi di Kabupaten Jembrana, Bali sekitar tahun 1964 dan saat ini telah menyebar ke seluruh Indonesia seperti Jawa Timur, Kalimantan,dan Bali. Ternak yang terjangkit penyakit ini ditandai dengan demam, peradangan selaput lendir mulut, pembesaran kelencar limfe preskapularis dan prefemoralis dan parotid, terkadang disertai keringat darah. Gejala umumnya adalah : masa inkubasi 4 – 12 hari disertai tanda-tanda; suhu tubuh meningkat hingga 42 derajat C; Diare yang bercampur darah; Terjadi pembengkakan pada kelenjar limfeprescapularis, prefemoralis,dan parotis; Terlihat adanya bercak darah pada kulit; Terlihat depresi; Kematian mendadak (Jika telah akut).Kerugian ekonomi yang diakibatkan penyakit ini cukup besar karena akan mempengaruhi lalu lintas ternak dan hasil olahannya antar pulau. Penyakit Jembrana disebabkan oleh retrovirus yang dinamakan lentiviridae family Retroviridae. Virus ini tergolong baru dan satu kelompok dengan virus HIV penyebab AIDS pada manusia. Sehingga tidaklah aneh kalau menarik perhatian dunia dan banyak para peneliti yang ingin meneliti lebih jauh tentang virus ini.Virus penyakit jembrana berbentuk pleomorf, beramplop dengan materi genetik tersusun atas single stranded Ribonucleic Acid (ss-RNA), yang berukuran antara 80 – 120 NM. Sumber utama penyebaran virus lentiviridae secara mekanis disebabkan oleh gigitan lalat penghisap darah seperti Tabanus sp. Penyakit jembrana karena sifatnya yang akut dapat menyebabkan kematian (mortalitas) yang sangat tinggi sekitar 17% dan mordibidatas juga tinggi. Sehingga, berdampak cukup signifikan pada produktivitas dan dunia pertanian karena Sapi Bali banyak digunakan sebagai sapi potong dan sapi pekerja.Virus Jembrana peka terhadap kloroform dan eter serta tahan terhadap sodium deosikolat (1:1000). Inaktif oleh formalin serta peka terhadap pH yang ekstrim (3 dan 12). Virus segera mengalami denaturasi jika dipanaskan pada suhu 55°C selama 15 menit. Agen yang terdapat dalam daging yang dipanaskan pada suhu 22 – 25 °C masih infektif selama 36 jam, atau dalam plasma yang disimpan pada suhu 4 °C infektif selama 72 jam dan stabil dalam jangka waktu yang lebih lama jika disimpan pada suhu – 70 ° C. Virus Jembrana dapat ditubuhkan pada hewan percobaan dan in vitro pada biakan sel. Virus dapat ditumbuhkan pada telur ayam berembrio melalui berbagai rute melalui allantois, korioallantois, selaput kuning telur dan intravenous. Kematian embrio terjadi setelah hari ke-47, ditandai perdarahan dibawah kulit dari embrio.Pada infeksi buatan pada sapi Ongole, persilangan antara sapi Bali dan Ongole, FH (Bos taurus) dan kerbau, babi, kambing dan domba menunjukkan terjadi infeksi dengan gejala klinis yang sangat ringan dan di dalam darahnya dapat dideteksi antibodi. lebih dari 1 tahun (6 bulan – 6 tahun). Umur sapi yang paling peka adalah lebih dari 1 tahun (6 bulan – 6 tahun). Umur sapi yang paling muda pernah dilaporkan adalah 4 minggu dan tertua 9 tahun. Tidak terdapat perbedaan kepekaan diantara jenis kelamin terhadap penyakit Jembrana. Untuk pengobatan dan pencegahan, dikarenakan penyebabnya adalah virus, sejauh ini belum ada antibiotika yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Vaksinasi yang biasa dilakukan hanya sekedar untuk mengurangi gejala yang terjadi yaitu menggunakan vaksin inaktif. Sapi Bali dapat sembuh dengan sendirinya setelah melewati gejala klinis, atau 5 (lima) minggu setelah infeksi. Namun demikian Sapi Bali akan tetap terinfeksi secara persisten sedikitnya selama 25 bulan dengan tidak menunjukkan gejala sakit. Pencegahan adalah hal yang terpenting untuk mengurangi resiko terkena penyakit jembrana. Caranya yaitu dengan mengkarantina sapi Bali yang sakit, pembakaran jika ditemukan sapi yang mati, pembakaran terhadap kotoran yang tercemar yang menjadi tempat hidup lalat (vektor). Selain itu melakukan pembersihan kandang dengan cara penyemprotan desinfeksi dan peralatan kandang seperti makan dan minum. (Penulis Inang Sariati). Sumber: 1. http://www.situs-peternakan.com/2014/10/penyakit-jembrana-penyakit-baru-yang-menyerang-Sapi-Bali.html2. https://www.google.com/search?q=PENYAKIT+JEMBRANA