Loading...

PENDAMPINGAN BPP PATANGKEP TUTUI BARTIM DALAM PELAKSANAAN PANEN LOMBOK DI POKTAN HARAPAN MAKMUR KAMBITIN

PENDAMPINGAN BPP PATANGKEP TUTUI BARTIM DALAM PELAKSANAAN PANEN LOMBOK DI POKTAN HARAPAN MAKMUR KAMBITIN
Hari ini rekan rekan penyuluh pertanian dari BPP PATANGKEP TUTUI BARTIM KALTENG melaksanakan panen komoditi Lombok mendampingi POKTAN HARAPAN MAKMUR KAMBITIN PATANGKEP TUTUI BARTIM KALTENG , selain penyuluh pertanian turut Hadir juga ke lokasi pertanaman Lombok kepala seksi Ketenagaan penyuluhan NURSAM, SP dan Fungsional penyuluh pertanian kabupaten Barito Timur Isana wahyuni, SP Para petani cabai di POKTAN HARAPAN MAKMUR KAMBITIN PATANGKEP TUTUI BARTIM KALTENG memiliki cara agar mendapat hasil yang memuaskan. Mereka tahu bagaimana agar tak sekedar hanya menanam cabai layaknya petani lainnya. Bahkan, hingga hasil yang didapat mampu meraup laba cukup besar. Caranya, cukup mudah hanya berkat manajemen waktu tanam yang baik. Sehingga, petani menuai untung dari peningkatan harga cabai yang berkisar Rp50.000 per kilogram. Bapak Abadi , Ketua Kelompok Tani HARAPAN MAKMUR , KAMBITIN , Kecamatan PATANGKEP TUTUI BARTIM KALTENG, mengatakan, biaya produksi mulai pupuk hingga perawatan, per pohon ?menghabiskan Rp 5.000. Satu pohon bisa menghasilkan 5-6 ons atau setengah kilogram cabai. "Satu hektare lahan di desa ini 18.000 pohon cabai. Beda dengan desa sentra cabai lainnya di BARTIM, seperti DUSUN TENGAH , yang mungkin lebih banyak karena jarak antar pohon lebih rapat," kata ABADI , SELASA (20/3/2018) ABADI menyebut, biaya produksi satu hektare lahan cabai rata-rata Rp 90 juta. Dengan harga jual petani Rp 50.000 per kilogram, satu pohon cabai bisa menghasilkan Rp 25.000. "Apabila 18.000 pohon cabai bisa menghasilkan Rp 450 juta," ujarnya. Jika dihitung, keuntungan pemilik lahan cabai berlipat-lipat. Apabila dipotong biaya produksi, keuntungannya bisa mencapai Rp 360 juta per hektare. "Kalau soal keuntungan, ya banyak banget. Alhamdulilah," ungkapnya. ABADI mengatakan, bersama Dinas Pertanian BARTIM , kelompoknya mencari celah saat menanam cabai. Panen bulan ini merupakan hasil tanam pada September hingga Oktober tahun lalu. "Kami atur waktu perkiraan panennya agar dapat harga terbaik. Misalnya yang panen sekarang ini, adalah hasil kami tanam Agustus-Oktober 2017. Alhamdulillah sesuai perkiraan harga sekarang sangat baik. Intinya, petani jangan latah, tapi harus tahu di mana celah waktunya," tambah ABADI dan SUS . Sementara itu, KASI KETENAGAAN PENYULUH PERTANIAN NURSAM, SP meminta agar manajemen penanaman tersebut dijaga. Siklus harga cabai sudah diketahui, sehingga saat menanam bisa diperkirakan masa panen saat harga mahal. "Saya rasa manajemen di kelompok tani sudah bagus," kata NURSAM. Nursam, SP mengatakan masa panen di BARTIM sudah sepanjang tahun. Karena banyak daerah di PATANGKEP TUTUI BARTIM merupakan penghasil cabai, terutama KAMBITIN yang merupakan daerah sentra cabai BARTIM sekaligus REGIONAL. "Hanya saja karakteristik tiap daerah berbeda. Di PATANGKEP TUTUI BARTIM bisa panen sepanjang tahun, berbeda dengan di sini. Jadi kita harus benar-benar atur," kata NURSAM, SP. Kepala Dinas Pertanian BARTIM KALTENG, Ir.RIZA RAHMADI, MM, mengatakan, cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. "Pemerintah daerah telah menandatangani kerja sama dengan kelompok tani, salah satunya di kawasan Timur BARTIM untuk turut mengendalikan inflasi," kata ISANA WAHYUNI , SP selaku PENYULUH PERTANIAN . Bentuk kerja samanya, lanjut ISANA WAHYUNI , pemerintah daerah memberikan bantuan pertanian, lalu petani diminta menjual sebagian hasil panennya pada pemerintah untuk keperluan cadangan operasi pasar dengan harga yang telah disepakati bersama. Kesepakatan harga tersebut ditandatangai kedua belah pihak sebelum masa tanam dimulai. "Tentunya harga yang kami tawarkan tidak akan merugikan petani, sudah menguntungkan petani. Jadi petani tetap untung, harga pasar juga tetap bisa dikendalikan," terang ISANA WAHYUNI , SP. selaku PENYULUH PERTANIAN PEWARTA LUKMANUL CHAKIM PP. MUDA BARTIM KALTENG lukman23son@gmail.com