Target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan khususnya untuk komoditi pangan strategis padi, jagung, kedelai tampaknya bukan hanya sekedar wacana. Berbagai program langkah telah dilakukan pemerintah semenjak program swasembada pangan dicanangkan. Terhitung sejak tahun 2015 berbagai program telah disusun untuk pembangunan sarana dan prasarana pertanian, pembangunan jaringan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, bantuan penyediaan saprodi bagi petani, sekolah-sekolah lapang, upaya-upaya untuk mengurangi dampak kerugian petani akibat alam dan OPT seperti asuransi pertanian. Selain itu pemerintah juga merangkul berbagai pihak untuk dapat mendukung program swasembada pangan ini, diantaranya dari pihak TNI, praktisi pertanian, serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.Dengan keterlibatan semua pihak baik dari petani swadaya, penyuluh, TNI, akademisi diharapkan pengawalan dan pendampingan kepada petani agar dapat mengimplemantisikan teknologi dan meningkatkan produksi akan efektif. Peran penyuluh adalah melaksanakan pengawalan dan pendampingan pada pelaksanaan program-program pemerintah seperti GP-PTT, POL, RJIT, dan PAT, penyuluh berperan dalan meningkatkan kelembagaan petani dan kelembagaan ekonomi petani serta mengembangkan kemitraan dengan pelaku usaha. TNI berperan dalam menggerakan dan memotivasi petani untuk melakukan penanaman, perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi/ sarana prasarana pertanian lainnya, mendukung pelaksanaan program agar tepat sasaran misalnya pengawalan pupuk bersubsidi, pengawalan penyaluran bantuan benih dan lain-lain. Sedangkan mahasiswa selain mebantu pengawalan dan pendampingan pelaksanaan program pemerintah diharapkan juga dapat memfasilitasi introduksi teknologi dari perguruan tinggi.Kegiatan mahasiswa ini disinergikan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN), melibatkan 5 Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) dan 14 Universitas Negeri/ Institut Pertanian Negeri. Lima STTP yang terlibat adalah STPP Medan, STPP Bogor, STPP Magelang, STPP Malang, dan STPP Gowa. Sedangkan untuk PTN yang terlibat adalah Universitas Syah Kuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Lampung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Tanjungpura, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, Universitas Mataram, Universitas Tadulako, dan Universitas Hasanuddin.Kabupaten Jember mendapat pendampingan program UPSUS oleh mahasiswa dari STPP Malang dan Universitas Brawijaya. Pendamping yang diterjunkan ada yang masih berstatus mahasiswa dari mulai semester 4 ke atas, atau mereka yang sedang menyelesaikan KKN, selain yang berstatus sebagai mahasiswa, pendapingan UPSUS pajale oleh PTN juga melibatkan alumni, dan dosen. Di Kecamatan Bangsalsari, pendampingan UPSUS oleh mahasiswa dilaksanakan tahun 2015 dan 2016, mahasisawa yang diterjunkan melakukan observasi dan pengamatan di lapangan untuk kemudian membuat dan mengidentifikasi potensi dan kendala yang terjadi di tingkat petani. Selain itu, mereka juga terlibat dengan demontrasi plot yang bertujuan untuk mengenalkan teknologi dari PTN ke tingkat petani, tentunya dengan bimbingan dari dosen pendamping mata kuliah. Ditulis oleh : Yudi Cristian Windartha, Penyuluh Pertanian Kabupaten Jember