Upaya peningkatan produksi padi dihadapkan kepada berbagai kendala dan masalah. Kekeringan dan banjir yang tidak jarang mengancam produksi di beberapa daerah, penurunan produktivitas lahan pada sebagian areal pertanaman, hama dan penyakit tanaman yang terus berkembang dan tingkat kehilangan hasil pada saat dan setelah panen yang masih tinggi, merupakan masalah yang perlu dipecahkan. Kini dan ke depan, upaya peningkatan produksi padi perlu dikaitkan dengan efisiensi, daya saing produksi, dan kelestarian lingkungan. Hal ini penting artinya dalam upaya peningkatan pendapatan petani, ketahanan pangan, dan keberlanjutan usahatani. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah adalah suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. Penerapan inovasi teknologi padi dengan pendekatan PTT dapat meningkatkan pendapatan petani tanpa merusak lingkungan. Di era revolusi hijau, pengembangan varietas unggul yang dibudidayakan dengan input kimia secara tidak terkendali untuk memacu produksi padi ternyata menurunkan kualitas lahan, lingkungan, dan efisiensi sistem produksi, sehingga keuntungan yang diperoleh petani dari usahatani padi relatif tidak seimbang dengan biaya dan tenaga yang diinvestasikan. Belajar dari pengalaman ini, telah diupayakan untuk menghasilkan inovasi yang mampu meningkatkan produksi dan pendapatan petani tanpa merusak kualitas lahan dan lingkungan. Inovasi tersebut populer disebut Pengelolaan Tanaman Terpadu, sejalan dengan tuntutan revolusi hijau lestari yang lebih mengedepankan peningkatan pendapatan petani dan pelestarian sumber daya alam. Prinsip utama penerapan PTT padi sawah adalah: 1. Partisipatif, yaitu petani berperan aktif dalam pemilihan dan pengujian teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, serta meningkatkan kemampuan melalui proses pembelajaran di laboratorium lapangan. Partisipasi aktif petani dan penyuluh pertanian, merupakan kunci utama keberhasilan penerapan inovasi teknologi padi dengan pendekatan PTT; 2. Spesifik Lokasi, yaitu memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial-budaya, dan ekonomi petani setempat; 3. Terpadu, yaitu sumber daya tanaman, tanah, dan air dikelola dengan baik secara terpadu; 4. Sinergis atau Serasi, yaitu pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan keterkaitan antarkomponen teknologi yang saling mendukung; dan 5. Dinamis, yaitu penerapan teknologi selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan IPTEK serta kondisi sosial-ekonomi setempat. Penerapan PTT padi sawah diawali dengan pemahaman terhadap masalah dan peluang pengembangan sumber daya dan kondisi lingkungan setempat dengan tujuan:• Mengumpulkan informasi dan menganalisis masalah, kendala, dan peluang usahatani padi;• Mengembangkan peluang dalam upaya peningkatan produksi padi; dan• Mengidentifikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani di wilayah setempat. Tahapan pelaksanaan PTT mencakup dua kegiatan, yaitu:1. Penentuan prioritas masalah secara bersama oleh anggota kelompok tani. Permasalahan setiap petani dikumpulkan, dikelompokkan, dan dicarikan alternatif pemecahannya; dan2. Analisis kebutuhan dan peluang introduksi teknologi atas dasar permasalahan tersebut. Komponen teknologi yang diterapkan dalam PTT, dikelompokkan ke dalam teknologi dasar dan teknologi pilihan. Komponen teknologi dasar sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Penerapan komponen teknologi pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. Komponen Teknologi Dasar, meliputi:1. Varietas unggul baru, inbrida atau hibrida;2. Benih bermutu dan berlabel;3. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos atau pupuk kandang;4. Pengaturan populasi tanaman secara optimum;5. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanaman; dan6. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dngan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT). Komponen Teknologi Pilihan, meliputi:1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam;2. Penggunaan bibit muda (3. Tanam bibit 1-3 batang per rumpun;4. Pengairan secara efektif dan efisien;5. Penyiangan dengan landak atau gasrok; dan6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan