SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO 5 : 1 I. PENDAHULUAN Upaya peningkatan produktivitas padi di kabupaten pasuruan masih berpeluang besar, terutama melalui penggunaan varietas padi unggul bersari bebas (non hibrida) yang hasil panennya dapat di tanam kembali, maupun penggunaan varietas padi persilangan sari (hibrida) yang hasil panennya tidak dapat di tanam kembali.Peningkatan produksi padi melalui penggunaan varietas unggul merupakan cara tepat, karena di mulai mudah di dapat di kios_kios pertanian, sehingga penyebarannya mulai merata. Namun, dari aspek harga varietas padi unggul masih tergolong mahal bagi petani_petani yang luas lahan sawahnya kecil. Sampai saat ini penggunaan benih padi bermutu di Kabupaten Pasuruan mulai meningkat, hanya 35 %, akibatnya upaya peningkatan produktivitas padi belum memuaskan. Selain penggunaan varietas unggul pada tanaman padi, cara dalam melaksanakan teknik budidaya padi juga berperan penting, terutama dalam teknik pengaturan jarak tanam & peningkatan populasi tanaman padi pada luasan lahan optimal. II. TEKNIK TANAM JAJAR LEGOWO Cara tanam padi jajar legowo merupakan salah satu teknik produksi yang memungkinkan dapat meningkatkan produksi tanaman padi secara optimal serta memberikan kemudahan dalam penanaman, pemeliharaan tanaman, aplikasi pemberian pupuk dan pengendalian organisme pengganggu tanaman serta yang lebih penting lagi memudahkan dalam aplikasi tata kelola penggunaan air permukaan, sehingga kelembaban dalam area pertanaman terjaga.Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo pada tanaman padi adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur kerapatan jarak tanam antar barisan. Implementasi sistem jajar legowo pada tanaman padi lebih di arahkan pada :1. Memudahkan penanaman dengan pengaturan jarak tanam, tergantung kondisi pada lahan & sistem irigasinya.2. Pengoptimalan penerimaan intensitas sinar matahari pada daun, sehingga diharapkan hasil asimilasi meningkat karena proses fotosintesis dapat berlangsung dengan baik, sehingga proses pengisian biji dapat optimal.3. Mempermudah pemeliharaan tanaman, terutama dalam penyiangan gulma, periode pemupukan lebih efisien, serta dalam periode pemberian air pada tanaman.4. Pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah dilakukan daripada cara tanam tanpa jarak teratur. 5. Populasi tanaman di mungkinkan bisa bertambah sebesar 30 %. Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo: 1. Jajar legowo 2 : 1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak antar barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam antar barisan.2. Jajar legowo 3 : 1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak antar barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam antar barisan.3. Jajar legowo 4 : 1. Setiap empat baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak antar barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam antar barisan. 4. Jajar legowo 5 : 1. Setiap lima baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak antar barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam antar barisan. Demikian seterusnya. Teknik Penggunaan Sistem Tanam Jajar Legowo a. Pembuatan Sistem Tanam Jajar LegowoHamparan lahan sawah yang sudah di olah tanah dan siap ditanami, 1 – 2 hari sebelum tanam air yang menggenang di hamparan dibuang hingga keadaan tanah dalam keadaan macak-macak. Tujuan dari pembuangan air dalam hamparan adalah agar memudahkan meratakan hamparan dan membentuk jarak garis-garis tanam secara jelas. Dengan menggunakan alat pembuat garis jajar legowo 5 : 1 , dibuat garis jarak tanam antar baris ( 20 cm (5x) x 10 cm ) x 40 cm baris kosong dengan cara ditarik pada lahan yang sudah siap ditanami. Arah baris tanam sebaiknya sesuai dengan arah aliran air pegairan atau di sesuaikan dengan kondisi lahan dan membujur dari arah barat ke timur atau sebaliknya. b. TanamUmur bibit padi yang siap di gunakan berkisar kurang dari 23 hari setelah sebar. Jumlah bibit yang ditanam pada setiap perpotongan garis-garis yang terbentuk pada hamparan sebanyak 1 – 2 tanaman, dengan cara mundur atau maju sesuai kebiasaan cara menanam padi. Pemeliharaan Tanaman Padi a. PenyianganPada cara tanam ini penyiangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan landak/osrok cukup satu arah yaitu searah dalam barisan. Jarak tanam dalam barisan 10 cm tidak perlu dilakukan penyiangan karena gulma akan kalah berkompetisi dengan pertumbuhaan tanaman padi. Dengan cara tanam ini, biaya penyiangan dapat di tekan sampai 40 %. b. PemupukanPemupukan dilakukan pada alur dalam antar baris yang berjarak 20 cm x 10 cm. Dengan cara ini pemupukan dapat terkosentrasi sepanjang tempat yang berjarak 20 cm x 10 cm dalam barisan tanaman, serta pupuk lebih dekat dengan perakaran tanaman sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman secara optimal. c. Pengendalian Hama dan PenyakitAdanya lorong-lorong yang berjarak 20 cm dan 40 cm, pancaran sinar matahari dan sirkulasi udara dapat diterima optimal dan kelembaban dapat diminimalisir sehingga perkembangan hama/penyakit mudah di pantau dan dikendalikan. d. Pemberian Air BerselangAdanya Pemberian air berselang adalah pengaturan kondisi sawah dalam kondisi macak_macak dan tergenang secara bergantian. Tujuan dari pengairan berselang adalah :1. Menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi lebih luas.2. Memberi kesempatan akar tanaman memperoleh udara lebih banyak sehingga dapat berkembang lebih dalam. Akar yang dalam dapat menyerap unsur hara dan air yang lebih banyak.3. Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar dan menyebabkan tanaman mudah rebah.4. Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah).5. Menyeragamkan fase pemasakan bulir gabah dan mempercepat waktu panen6. Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah) bila pemupukan dilakukan dengan sistem injak. Panen dan Pasca Panen Tanaman padi siap dipanen apabila jumlah malai yang mulai menguning mencapai 95 % dan telah berumur 30 – 35 hari setelah berbunga atau bila kadar air gabah sekitar 20 – 25 % agar tidak mudah rontok saat di panen. Pada saat perontokan gabah diusahakan dengan menggunakan alat perontok padi (Pedal Thresher/Mesin thresher) sehingga dapat mengurangi potensi kehilangan hasil. Untuk kadar air gabah siap simpan perlu di kering jemur hingga kadar air mencapai 12 – 14 %.