Loading...

Penerapan Teknologi Budidaya Sayuran Organik

Penerapan Teknologi Budidaya Sayuran Organik
Pengembangan produksi sayuran sampai saat ini berkembang cukup baik, peningkatan produktivitas meningkat secara signifikan, sehingga pendapatan petani juga ikut meningkat. Tetapi upaya peningkatan produksi masih banyak menggunakan cara konvensional, yang menggunakan bahan anorganik masih sangat menonjol. Pertanian organik merupakan teknik produksi yang dianggap relatif baru oleh sebagian besar petani hortikultura. Cara ini diharapkan merupakan teknik yang paling praktis untuk dapat dilaksanakan oleh petani dalam rangka meningkatkn pendapatan petani. Selama ini, petani sering mengekploitasi lahan pertanian untuk keperluan produksi tanaman tanpa memperhatikan rekomendasi pemupukan dan kaedah lingkungan, sehingga pada gilirannya tidak mampu meningkatkan produksi itu sendiri. Pemberian pupuk buatan dan pestisida yang jauh diatas ambang batas akan dapat memberikan kontribusi negatif terhadap kelestarian lingkungan, sehingga berdampak buruk terhadap mutu produksi, mahluk hidup, dan pencemaran lingkungan. Dalam rangka mengembangkan teknologi budidaya sayuran organik ke petani guna mengurangi dampak negatif dimaksud, maka salah satu tanaman yang paling respon terhadap perlakuan pemberian pupuk (kompos) pada budidaya organik adalah tanaman kubis. Karena secara teknis budidaya, tanaman kubis merupakan komoditi yang membutuhkan bahan organik lebih banyak dan crop dari daun kubis dimaksud langsung dikonsumsi oleh manusia. Dengan demikian pada gilirannya manusia sebagai konsumen utama sayuran tersebut, akan leluasa untuk mengkonsumsi. Selain faktor tersebut, kubis merupakan tanaman yang mempunyai pasar luas, baik dalam negeri maupun untuk kepentingan ekspor. Hal yang sering menjadi masalah adalah penerapan teknologi budidaya yang tidak berdasarkan kepada teknologi anjuran dan perlakuan pasca panen yang masih konvensional yang berdampak kepada tingginya kehilangan hasil. Pengembangan komoditas sayuran di daerah sentra produksi sangat memerlukan perhatian yang serius dari semua instansi terkait, mulai dari teknologi budidaya sampai dengan pengolahan hasil. Pemberdayaan kelembagaan ekonomi petani melalui kegiatan yang menyentuh tatanan dan perilaku petani itu sendiri akan dijadikan prioritas utama. Perlakuan budidaya yang dapat meningkatkan pendapatan petani seperti penerapan teknologi budidaya organik, merupakan langkah awal, karena dianggap mampu memperbaiki kesuburan tanah, lingkungan, dan mengurangi biaya produksi. Keberhasilan pengembangan komoditas sayuran organik sering dikaitkan juga dengan tingkat sumberdaya manusia petani itu sendiri yang masih rendah, sehingga perlu sekali diadakan peningkatan SDM melalui pelatihan, sekolah lapang, dan magang ke daerah sentra produksi yang telah maju serta cara lain yang mampu memperbaiki taraf hidup petani itu sendiri. Kunci keberhasilan penerapan teknologi budidaya sayuran organik, adalah:- Menggunakan bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 12 ton/ha sebelum tanam;- Penambahan bahan organik berupa kompos sebanyak 6 ton/ha yang diberikan pada saat tanaman berumur 25-30 hari;- Pupuk buatan diberikan hanya 450 kg/ha (urea 80 kg, TSP 90 kg dan KCl 80 kg);- Intensitas penyemprotan pestisida hanya 3 kali. Penurunan tingkat penggunaan pestisida ditandai oleh tingkat pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang cukup baik. Dengan menggunakan pupuk organik yang cukup, menunjukkan pengurangan gejala serangan hama dan penyakit;- Penyemprotan I (pertama) dilaksanakan pada tanaman berumur satu minggu untuk menghindari hama, penyemprotan II (kedua) pada umur dua minggu, dan penyemprotan III pada umur 30 hari, karena sedikit gejala serangan. Pada pertanian non organik, biasanya intensitas penyemprotan mencapai 20-30 kali/musim tanam sehingga biaya produksi tinggi. Penerapan teknologi budidaya sayuran organik yang sempurna dapat mengurangi jumlah penggunaan pestisida. Cara terbaik mengurangi penggunaan pestisida yang berbahaya itu adalah dengan mengurangi kontak dengan pestisida. Pemerintah telah mengeluarkan anjuran pengurangan penggunaan pestisida seminimal mungkin, dan dapat digunakan benar-benar pada saat dibutuhkan. Penerapan teknologi budidaya sayuran organik secara terus menerus, diharapkan pada saatnya nanti petani tidak menggunakan pestisida lagi karena tanaman tidak menunjukkan gejala serangan. Pada prinsipnya, penerapan teknologi budidaya sayuran organik yang sempurna dapat mengurangi penggunaan pestisida, berarti berusaha mempertahankan musuh alami, pada gilirannya nanti para petani tidak lagi menggunakan pestisida, berarti keseimbangan ekosistem akan tercapai kembali dan produk yang dihasilkan bebas residu (bahan kimia) yang sangat merugikan manusia dan lingkungan. Untuk mencapai produk kubis yang bebas residu, maka pendampingan dan pengembangan penerapan teknologi budidaya organik harus terus dilaksanakan dan laju pengembangannya terus dipacu. Pengembangannya dapat diarahkan dari komoditi ke komoditi lain terutama komoditi sayuran. mengurangi penggunaan pestisida, berarti berusaha mempertahankan musuh alami, pada gilirannya nanti para petani tidak lagi menggunakan pestisida.Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan