Penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan inovasi teknologi merupakan langkah yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dalam upaya membangun usaha tanaman hias. Dalam kondisi persaingan yang sangat ketat pada era pasar global, daya saing dapat diperoleh melalui peningkatan efisiensi dan nilai tambah dengan mnerapkan inovasi teknologi yang paling sesuai. Hal ini dibutuhkan untuk memenuhi kepuasan konsumen yang selalu menuntut produk bermutu tinggi dengan harga yang terjangkau. Tuntutan konsumen akan mutu produk tanaman hias makin meningkat sesuai dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Di negara maju, masyarakat mengharuskan penerapan system jaminan mutu sejak awal pada stadia produksi hingga ke tangan konsumen. Tuntutan tersebut ditandai dengan munculnya berbagai konsep jaminan mutu, seperti ISO-14000. Penerapan system standardisasi mutu menjadi penting, terutama untuk mengantisipasi masuknya produk-produk hortikultura berkualitas rendah dari luar negeri yang dihasilkan dari proses produksi yang tidak ramah lingkungan. Konsep standardisasi mutu juga dapat merangsang peningkatan mutu hasil di tingkat petani sesuai dengan standar ekspor. Hal tersebut akan meningkatkan nilai tambah produk yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan petani. Daya saing produk florikultura Indonesia masih tergolong rendah yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) penerapan sistem produksi yang kurang efisien, (2) tidak adanya jaminan mutu, kontinuitas dan ketepatan waktu pengiriman, harga produk yang terlalu tinggi, (3) pemilihan komoditas yang tidak sesuai dengan preferensi pasar, (4) biaya pengiriman yang sangat tinggi, (5) belum tersedianya informasi market inteligent, (6) regulasi perdagangan yang kurang kondusif, dan (7) intensitas promosi yang masih rendah. Dalam rangka mendorong peningkatan daya saing tanaman hias, diperlukan upaya pembenahan secara komprehensif berbagai segmen dalam pengembangan usaha tanaman hias, termasuk segmen produksi, pasca panen, distribusi dan pemasaran, regulasi perdagangan internasional dan tarif penerbangan internasional. Pada segmen produksi, pembenahan perlu diarahkan pada peningkatan efisiensi dan mutu produk tanaman hias. Seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat internasional terhadap produk yang aman dan ramah lingkungan, maka dibutuhkan penerapan Good Agriculture Practices secara konsisten. Ada 3 (tiga) alasan utama perlunya penerapan GAP dan SOP dalam budidaya tanaman hias, yaitu (1) mempertahankan produktivitas tetap tinggi secara berkelanjutan, (2) menjaga kelestarian lingkungan sistem produksi, dan (3) mempertahankan keamanan dan keselamatan pekerja serta konsumen. Litbang tanaman hias telah menghasilkan varietas dan teknologi unggulan yang siap dikaji dan dikembangkan kepada petani dalam upaya peningkatan produktivitas usahatani, pendapatan dan kesejahteraan serta penyediaan lapangan kerja di daerah perdesaan. Sejauh ini adopsi petani terhadap varietas dan teknologi tersebut masih tergolong rendah. Oleh sebab itu, pada tahun 2005 telah diinisiasi pelaksanaan program pengembangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) tanaman hias unggulan sebagai model. Pemilihan komoditas didasarkan pada ketersediaan teknologi yang relatif lengkap selain perkiraan dampak pengembangannya yang luas terhadap pembangunan perekonomian di daerah perdesaan. PTT adalah segala tindakan usahatani secara terpadu yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman optimal, kepastian keberhasilan panen, mutu produk tinggi dan aman dikonsumsi, serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologis. PTT bersifat spesifik lokasi dapat berbeda antar petani, integrasi teknologi maju dengan teknologi asli petani. Beberapa komponen PTT antara lain (1) penentuan pilihan komoditas adaptif sesuai sifat agroklimat dan musim tanam. (2) penyediaan lingkungan optimal yang tidak kondusif untuk perkembangan hama penyakit seperti rumah plastik, lindungan net atau jala, mulsa plastik, (3) varietas unggul (benih) tahan hama penyakit, (4) pola tanam, rotasi tanaman, (5) pengelolaan hara, tanah, air, gulma, (6) penerapan PHT, (7) pengelolaan tanaman optimal, (8) panen tepat waktu, (9) penanganan pasca panen, dan (10) pemasaran dengan efisien. Dampak kegiatan pengembangan PTT berupa penerapan inovasi teknologi yang mampu mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas serta mendorong berkembangnya sistem dan usaha tanaman yang inovatif dan berdaya saing.Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian