Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting dan mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional. Pemanfaatan jagung selain sebagai makanan pokok bagi sebagian penduduk Indonesia, juga sebagai bahan baku industri pangan dan pakan. Sebagai upaya antisipasi kelebihan produksi akibat Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) jagung dalam kegiatan SL-PTT pada program peningkatan produksi jagung, hendaknya diikuti dengan penerapan teknologi panen dan pascapanen guna meningkatkan mutu produk primer jagung. Selanjutnya, produk primer jagung bermutu tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk sekunder dan tersier guna meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan pengolahan berbagai produk olahan makanan yang dapat diterapkan di perdesaan, seperti produk tepung jagung, dodol jagung, mie jagung, tape jagung, tepung maizena, dll. Jagung merupakan komoditas yang potensial untuk diolah menjadi bahan pangan dan bahan baku industri, sehingga penanganan setelah panen perlu mendapat perhatian. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah komoditas jagung yaitu melalui pengembangan agroindustri perdesaan. Melalui pengembangan agroindustri jagung perdesaan, sebagian nilai tambah usaha yang selama ini dinikmati oleh perusahaan besar dari kegiatan pengolahan hasil akan bergeser kepada petani. Upaya pengembangan agroindustri jagung di perdesaan perlu didukung oleh kelembagaan yang mantap, baik kelembagaan petani (kelompok tani, gabungan kelompok tani, asosiasi), kelembagaan permodalan dan koperasi, maupun kelembagaan penunjang lainnya. Pengembangan agroindustri jagung melalui penerapan dan pengembangan teknologi produk olahan makanan, pemanfaatan limbah dan pakan ternak akan meningkatkan nilai gizi masyarakat, nilai tambah produk, menyerap tenaga kerja serta meningkatkan pendapatan bagi petani jagung dan pelaku industri lainnya di perdesaan, sehingga akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan menurunkan angka penganguran di wilayah tersebut. Produksi Jagung Dari seluruh produksi jagung yang dihasilkan di Indonesia, 89% ditanam pada lahan kering, sedangkan yang ditanam pada lahan sawah irigasi hanya 11%. Sebagian besar jagung ditanam pada musim hujan mencakup 57%, sedangkan pada musim kemarau 43%. Karena sebagian besar pertanaman jagung diusahakan pada lahan kering, baik pada musim hujan maupun musim kering maka seringkali waktu panen bertepatan dengan kondisi curah hujan yang cukup tinggi. Hal itu menyebabkan penurunan mutu hasil jagung di tingkat petani karena tertundanya penanganan pascapanen akibat kadar air biji masih relatif tinggi. Oleh sebab itu, aspek penanganan panen dan pasca panen jagung menjadi sangat penting, terutama terkait dengan penyediaan alat dan mesin (pemipilan), pengeringan serta peningkatan kapasitas petani melalui pengembangan teknologi tepat guna penanganan panen dan pascapanen jagung. Kandungan Gizi JagungJagung merupakan sumber karbohidrat. Proporsi jagung sebagai sumber karbohidrat yaitu 16,6%, sedangkan beras 55,6%, dan selanjutnya diikuti oleh ubikayu, ubijalar, dll. Komponen utama biji jagung yaitu karbohidrat, protein, dan lemak/minyak. Kandungan gizi jagung (jagung kuning atau jagung putih) meliputi Kalori (361 kal), Protein (8,7%), Lemak (4,5%), Karbohidrat (72,4%), Air (13,1%), dan Vit A (350 S1) khusus jagung putih. Pemanfaatan JagungPemanfaatan jagung terbagi ke dalam beberapa tujuan, masing-masing memiliki persyaratan mutu yang berbeda, baik tekstur, kadar air maupun persyaratan mutu lainnya seperti kandungan aflatoksin. Pemanfatan jagung dapat ditingkatkan melalui peningkatan konsumsi jagung per kapita. Hal ini dapat dilakukan melalui diversifikasi makanan dengan mengembangkan jagung sebagai pangan pokok alternatif/substitusi beras. Sebagai bahan baku industri, jagung dimanfaatkan antara lain untuk industri makanan, minuman, kimia, farmasi, dan industri lainnya. Teknologi Penanganan Panen dan PascapanenPenerapan teknik penanganan pascapanen yang baik diharapkan mampu memberikan proteksi terhadap jagung pipil, sehingga mutunya tetap terjaga saat dikonsumsi sebagai bahan pangan atau pakan. Perlakuan setelah panen yang sangat mempengaruhi kualitas jagung pipil, meliputi pemanenan, pengupasan tongkol, penjemuran tongkol, pemipilan, pengeringan jagung pipil, dan pengepakan. Namun di antara proses tersebut yang merupakan proses kritis yaitu pengeringan. Hal ini disebabkan adanya pembentukan mikotoksin aflatoksin yang dihasilkan oleh cendawan apabila jagung tidak segera dikeringkan. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan