Loading...

PENGAIRAN BASAH KERING (PBK) UNTUK TANAMAN PADI SAWAH

PENGAIRAN BASAH KERING (PBK) UNTUK TANAMAN PADI SAWAH
PENGAIRAN BASAH KERING (PBK) PADA TANAMAN PADI SAWAH Sumber air semakin hari semakin berkurang terbukti setiap tahun pada musim kemarau debit air semakin berkurang, Kebutuhan air yang terus menerus dapat mengakibatkan berkurangnya ketersediaan air sehingga perlu untuk mengefisienkan penggunaan air dalam budidaya padi. Salah satu cara pengifiesensinya melalui metode Pengairan Basah Kering (PBK) Pengairan Sistem Basah Kering pada dasarnya merupakan pengembangan dari cara Intermitten (terputus-putus), dengan melengkapi alat bantu sederhana berupa paralon yang dibenamkan kedalam tanah. Metode basah kering ini pada dasarnya mengatur pemberian air sesuai kebutuhan tanaman padi. Ditinjau dari penerapan konsep hemat air, cara PBK ini merupakan salah satu teknik penghematan dalam budidaya padi sawah yang mudah diterapkan melalui alternasi genangan air (flooded) dan non genangan air berdasarkan fase pertumbuhan tanaman. Beberapa Manfaat Pengairan Sistem Basah Kering (PBK) adalah sebagai berikut : Menghemat penggunaan air 15% sampai 30% di banding cara konvensional yaitu dengan penggenangan air secara kontinyu. Meningkatkan produktivitas air, Mengurangi populasi wereng coklat, nematoda di daerah perakaran, Mengurangi emisi gas metan Dapat memperbaiki kualitas hasil gabah. Bersinergi dengan pemupukan. Serapan hara tinggi pada kondisi tanah basah-kering. Dapat menekan keracunan tanaman akibat akumulasi besi (Fe) dalam tanah Apabila dikombinasikan dengan pengendalian gulma menggunakan cara manual (tangan gasrok/landak) dan pemupukan, maka pupuk dapat bercampur dengan tanah sehingga pemakaiannya lebih efisien Menghambat perkembangan hama (penggerek batang, wereng coklat, keong mas) dan penyakit (busuk batang, busuk pelepah daun) tanaman padi Tanaman padi lebih tahan rebah, kriteria sistem perakaran yang lebih dalam. Bahan yang perlu dipersiapkan dalam pembuatan alat kontrol PBK antara lain : paralon diameter 15 cm, penggaris, spidol, solder, cethok. Adapun cara membuat alat kontrol PBK yaitu potong paralon sepanjang 40 cm, separuh dari tabung ( 20 cm) dibuat lubang-lubang ukuran 5 mm dengan jarak antar lubang 2 cm sepanjang 20 cm, sisa sepanjang 20 cm, tidak perlu dilubangi. Tabung silinder yang sudah dilubangi, dipasang pada jarak 50 - 75 cm dari pematang, dengan tahapan pemasangan adalah sebagai berikut : tekan paralon secara vertical ke bawah, gunakan balok untuk memudahkan, cek jarak dari permukaan tanah 20 cm (tabung 40 cm), keluarkan tanah dari dalam paralon sampai kedalaman 20 cm. Untuk mengetahui keadaan air di petak sawah maka dilakukan pengamatan terhadap alat dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : waktu pengamatan yaitu pada pagi hari, untuk mengamati perubahan tinggi air dalam selinder dibutuhkan mistar (30 cm) dan ajir bambu, tempat pengukuran tidak boleh berubah posisi, ajir bambu dimasukkan ke dalam silinder selanjutnya diangkat dan bagian yang basah diukur dengan mistar. Saat tanam sampai umur tanaman 7 hari tanah cukup digenangi air 1 - 2 cm, lalu dari 7-60 HST dilakukan pemberian air mengikuti pembacaan tinggi permukaan air dalam selinder paralon. Pemberian air dilakukan bila air dalam selinder turun mencapai 15 cm dari permukaan tanah. Drainase permukaan dilakukan bila permukaan air dalam selinder lebih dari 5 cm, di atas permukaan tanah. Selama periode 60-75 HST, tanah digenangi 2-5 cm. Selama periode 75 HST - 10 hari menjelang panen, cara pemberian air kembali mengikuti pembacaan air dalam selinder. Pada periode 10 hari menjelang panen, tanaman tidak perlu lagi diairi dalam selinder, supaya tanah relative kering sehinga memudahkan dalam pemanenan dan agar mutu hasil panen lebih tinggi. Tempeh, Februari 2019 Winarni Ningsih,SP.