Loading...

PENGAIRAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG

PENGAIRAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG
Salah satu upaya peningkatan produktivitas guna mendukung program pengembangan agribisnis jagung adalah penyediaan air yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Pengairan merupakan faktor penting dalam budidaya tanaman jagung. Penyediaan air yang cukup untuk pertumbuhan tanaman jagung amat perlu diperhatikan. Kekurangan air berpengaruh pada produktivitas tanaman. Kelebihan air (lahan tergenang dalam jangka waktu lama) juga menyebabkan tanaman jagung mati. Oleh karena itu, pengelolaan air harus diusahakan secara optimal, yaitu tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran, sehingga efisien dalam upaya peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam dan peningkatan intensitas pertanaman. Tanaman jagung membutuhkan air yang cukup, terutama pada fase pertumbuhan vegetatif sampai masa pengisian biji dalam tongkol. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Pangan menunjukkan bahwa tanaman jagung yang kekurangan air dan mengalami kelayuan selama 1 - 2 hari pada periode pembungaan dapat menurunkan hasil sampai 22%. Bila kelayuan tanaman terjadi hingga 5-8 hari, penurunan hasil jagung dapat mencapai 50%. Sebagian besar pertanaman jagung di Indonesia terdapat di lahan kering, dan sebagian kecil pada lahan sawah beririgasi dan lahan sawah tadah hujan. Jagung merupakan tanaman yang tergolong tidak tahan kelebihan air dan kekurangan air, dan relatif sedikit membutuhkan air dibandingkan padi. Oleh karena itu pengaturan ketersediaan air sangat penting. Pada pertanaman di lahan kering yang umumnya ditanam saat musim hujan, peluang terjadinya kelebihan air cukup besar, oleh karena itu untuk menghindari agar tidak terjadi kelebihan air maka perlu dibuat saluran-saluran drainase. Di daerah-daerah atau tanah-tanah kering, pengairan lahan kebun jagung biasanya dilakukan 1 - 2 minggu sekali atau tergantung pada keadaan air tanah. Pengairan tanaman jagung pada musim kemarau bersumber dari air tanah yang dipompa maupun air permukaan dari jaringan irigasi. Agar distribusi air lebih efektif ke tanaman, petani umumnya membuat saluran air di antara barisan tanaman dengan menggunakan cangkul atau bajak ditarik ternak. Cara pengairan adalah dengan mengalirkan air melalui saluran pemasukan air. Selanjutnya, lahan dileb selama beberapa waktu hingga tanahnya cukup basah. Seusai tanah dileb, airnya segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan air. Ketepatan pemberian air sesuai dengan tingkat pertumbuhan tanaman jagung sangat berpengaruh terhadap produksi. Periode pertumbuhan tanaman yang membutuhkan adanya pengairan dibagi menjadi lima fase, yaitu fase pertumbuhan awal (selama 15-25 hari), fase vegetatif (25-40 hari), fase pembungaan (15-20 hari), fase pengisian biji (35-45 hari), dan fase pematangan (10-25 hari). Penurunan hasil terbesar terjadi apabila tanaman mengalami kekurangan air pada fase pembungaan, bunga jantan dan bunga betina muncul, dan pada saat terjadi proses penyerbukan (fase 2). Penurunan hasil tersebut disebabkan oleh kekurangan air yang mengakibatkan terhambatnya proses pengisian biji karena bunga betina/tongkol mengering, sehingga jumlah biji dalam tongkol berkurang. Hal ini tidak terjadi apabila kekurangan air terjadi pada fase vegetatif. Kekurangan air pada fase pengisian/pembentukan biji (fase 3) juga dapat menurunkan hasil secara nyata akibat mengecilnya ukuran biji . Kekurangan air pada fase pemasakan/ pematangan (fase 4) sangat kecil pengaruhnya terhadap hasil tanaman. Terdapat berbagai metode pemberian air bagi tanaman jagung ke dalam diantaranya model genangan, model alur (furrow), model bawah permukaan (sub surface), model pancaran (sprinkler) dan model tetes (drip). Berikut penjelasan beberapa model pemberian air pada tanaman jagung :A. Model Alur adalah suatu model pemberian air dengan cara menekan air ke dalam tanah; Metode ini banyak dipakai untuk tanaman jagung, tembakau, kacang tanah, ubi- ubian/kentang, tebu, dan kapas. Pada umumnya irigasi lain hampir semua lahan di basahi dengan air (terendam), namun di dalam metode ini hanya 20% saja yang direndami (basah), jadi evaporasi yang hilang sangat banyak direduksi. Metode alur/furrow ini bervariasi dari 3,00 m panjangnya untuk kebun sampai 500 meter untuk keperluan tanaman pangan, tetapi umumnya sekitar 100 sampai 200 meter.sedangkan kemiringannya antara 0 - 5%.B. Model bawah permukaan, permukaan, pemberian airnya langsung ke akar tanaman, adapun kondisi yang baik untuk metode ini adalah: tanah tak tembus air dengan kedalaman antara 2 sampai 3 meter; pada zona perakaran terdapat tanah lempung (loam) atau lempung pasiran (sandy loam); topografi lahan sama; kemiringan sedang; dan kualitas air irigasi baik.C. Model tetes adalah sistem untuk memasok air tersarang ke dalam tanah melalui suatu pemancar/emitter. Model tetes menggunakan debit kecil dan konstan tekanan rendah. Air akan menyebar di tanah baik ke samping maupun ke bawah karena adanya gaya kapiler dan gravitasi. Untuk model tetes secara tepat dilakukan pada tanaman yang membutuhkan air dengan kondisi ketersediaan air yang terbatas. Dengan memanfaatkan model tetes tersebut dapat pula dilakukan dengan pemupukan sebagai penunjang untuk pertumbuhan tanaman yang optimal. Salah satu kendala dalam pembuatan jaringan model tetes yaitu diperlukannya biaya yang tidak sedikit. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber :1. Memahami Tentang Pengelolaan Air Irigasi. http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/, diakses 19 Mei 2016)2. Rukmana, Rahmat. 1997. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta : Kanisius (https://books.google.co.id, diakses 19 Mei 2016)3. Silandro P, Twiko. 2015. Analisis EFisiesnsi Irigasi Tetes dengan Interval Pemberian Air Irigasi Tanaman Jagung (http://www.slideshare.net/, diakses 19 Mei 2016)4. Pusat Pelatihan Pertanian. 2015. Pelatihan Teknis Budidaya Jagung Bagi Penyuluh Pertanian dan Babinsa : Pengairan Tanaman Jagung (www.pertanian.go.id, diakses 12 Mei 2016)