Tanaman jeruk membutuhkan air yang cukup banyak dalam pertumbuhannya (walaupun perlu bulan kering yang tegas selama 3-4 bulan). Kebutuhan air untuk tanaman jeruk diperkirakan sebanyak 50 liter air/m2 lahan setiap bulan. Dalam rangka memilih lokasi untuk penanaman jeruk, khususnya yang berskala agribisnis harus diperhatikan adanya sumber-sumber air untuk menghadapi musim kemarau. Pertimbangan-pertimbangan tersebut menyangkut apakah banyaknya air pada musim hujan yang dapat ditampung, misalnya di embung dapat mencukupi untuk mengairi tanaman pada musim kemarau. Apabila air yang ditampung di embung ini tidak dapat mencukupi kebutuihan pada musim kemarau, maka harus ada upaya-upaya lain seperti pembuatan sumur sekaligus dengan pipa-pipanya sehingga memungkinkan ketersediaan air pada musim kemarau. Kendala yang dihadapi dalam penyediaan air adalah sering kali tidak tersedia dalam jumlah yang cukup pada waktu yang diperlukan. Oleh karena itu, perlu sumber air, cara pemanfaatan air, dan pengelolaannya. Sebaliknya, pada lokasi di lahan sawah atau lahan pasang surut diperlukan saluran drainase/parit untuk menampung dan membuanf kelebihan air. Biasanya parit dibuat dengan kedalaman 30 cm. Pengairan pada Lahan Kebun Jeruk RakyatPengairan dilakukan secara tradisional dengan pembuatan bak-bak penampung air atau membuat sumur-sumur. Air dialirkan melalui slang atau secara manual/diambil dengan ember untuk disiramkan ketanaman jeruk. Umumnya, penyiraman ini dilakukan pada musim kemarau. Sedangkan di lahan-lahan sawah dan lahan pasang surut, umumnya air berlebihan sehingga petani membuat saluran-saluran drainase agar tanaman jeruk tidak tergenang air. Pengairan pada Lahan Kebun Jeruk SwastaPengairan tanaman jeruk pada kebun jeruk swasta yang umumnya di lokasi lahan kering bahkan di lahan-lahan berbukit, umumnya telah dibuat saluran-saluran air dengan deep iirigation yang dapat diatur jumlah kebutuhan air sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, ketersediaan air bagi tanaman jeruk akan selalu terpenuhi sekalipun pada musim kemarau. Teknik Pengeringan dan Pengairan Tanaman Jeruk Salah satu teknik untuk memproduksi buah jeruk di luar musim adalah teknik pengeringan dan pengairan. Buah jeruk yang melimpah pada saat panen, merupakan salah satu masalah dalam pengelolaan agribisnis jeruk, akibatnya tidak terpasarkannya hasil produksi dan harga hasil panen menjadi sangat rendah.Untuk memecahkan masalah ini, dilakukan manipulasi pembungaan atau pembuahan di luar musim agar akumulasi panen pada musim yang sama dapat dihindarkan. Umumnya, panen raya jeruk pada Mei, Juni, Juli, dan Agustus. Biasanya bunga jeruk muncul pada awal musim hujan dan buah dipanen lima bulan kemudian. Waktu panen jeruk dapat dipercepat atau ditunda dengan mengatur waktu pembungaan. Untuk mempercepat pembungaan dapat dillakukan dengan pengairan apabila musim kemarau telah berlangsung paling tidak selama 1,5 bulan. Pada saat itu, tanaman jeruk diairi dengan volume air yang tinggi dan dipupuk dengan Urea (dosis ¼ dosis normal). Dalam waktu beberapa hari kemudian, tanaman akan berbunga. Untuk mempertahankan agar bunga tidak gugur, tanaman harus selalu memperoleh pengairan yang cukup. Setelah pembungaan, perlu diperhatikan keseimbangan antara jumlah tajuk dengan jumlah buah yang terbentuk agar tajuk dapat mendukung perkembangan buah secara optimal. Penundaan waktu pembungaan dapat dilakukan dengan cara memetik semua bunga yang muncul pada awal musim hujan atau tanaman disemprot dengan gibrelin (100 ppm) pada musim kemarau (kira-kira 1 dan 3 bulan setelah musim kemarau. Kemudian pada musim hujan, tanaman dikeringkan dengan membuat drainase dan menutup tanah di bawah tajuk tanaman dengan mulsa plastik agar tanah dibawah tajuk tidak dapat curahan air hujan. Penutupan ini berlangsung antara 1,5 - 2,5 bulan tergantung kondisi tanaman. Apabila daun tanaman jeruk sudah menunjukkan gejala mengkerut (jangan sampai daun kering), mulsa plastik dibuka. Selanjutnya, tanaman disiram dengan volume air yang cukup banyak dan dipupuk dengan Urea ¼ dosis. Beberapa hari kemudian tanaman akan berbunga.Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat)Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian