Tikus salah satu hama utama pada tanaman padi di Indonesia. Hama ini harus diperhatikan khusus, karena kehilangan hasil produksi yang diakibatkan oleh serangan hama tikus sangat tinggi. Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah jenis hama pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan karena tikus itu mampu ”belajar” dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Tikus memiliki indera penciuman yang berkembang dengan baik. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (berahi) dan mendeteksi anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya Sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus sawah, perlu diketahui terlebih dahulu biologis dan ekologi tikus, sehingga petani akan lebih mudah mengidentifikasi untuk selanjutnya melakukan pengendalian. Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera sebagian tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke sawah setelah pertanaman padi menjelang fase generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Biasanya hama tikus ini akan menyerang bagian akar dan batang yang akan menggerokoti bagian tersebut hingga habis dan lama-kelaman akan mengakibatkan tanaman mati. Sebagai binatang pengerat, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tikus akan mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambah panjang dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya. Jika sudah mengetahui biologi dan ekologi tikus, diharapkan petani dapat mengendalikan tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan di lapangan. Pengendalian tikus sawah harus dimulai secara dini, yakni dimulai pada saat sawah bera (setelah panen), pada masa vegetatif dan masa generatif. Usaha untuk mengendalikan tikus ini sudah banyak dilakukan oleh para petani, mulai dari fisik, cara hayati, sanitasi, kultur teknik, mekanik dan kimia. Tetapi dalam pelaksanaan pengendalian ditingkat lapang belum optimal, karena kesadaran dan rasa kesatuan petani dalam usaha pengendalian belumlah maksimal, dan belum semua petani menerapkan sistem budidaya tanaman berdasar prinsip PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Baru-baru ini upaya pengendalian tikus di Kecamatan Mengwi dilakukan melalui suatu gerakan pengendalian (gerdal) padat karya. Gerdal dilakasanakan di tiga subak yang berada di dua desa, yaitu subak Cemagi Let di desa Cemagi, subak Munggu dan subak Cemagi Anyar di desa Munggu. Gerdal padat karya dilaksanakan selama tiga hari yaitu mulai dari tanggal 17 hingga 19 Juni 2020. Dalam kegiatan ini pengendalian OPT tikus dilakukan dengan sistem pengumpanan. Pengumpanan ini dimaksudkan dapat menekan populasi tikus yang ada di lapangan, sehingga kehilangan hasil petani dapat diminimalisir. Kegiatan Gerdal padat karya kali ini dipimpin langsung oleh bapak Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung (bapak I Wayan Wijana, S.Sos, M.Si) dengan melibatkan POPT-PHP Kec. Mengwi, PPL wilbin desa Cemagi dan Munggu, Kabid, Kasie dan staf Bidang Produksi pada Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Badung, BPTPH Provinsi Bali dan anggota kelompok tani (subak) di dua desa. Gerakan pengendalian padat karya ini merupakan kegiatan bantuan dari BPTPH Provinsi. Tikus yang telah terbunuh/tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi. Namun yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi. Disamping itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. Cara monitoring antara lain dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. Dan tidak kalah pentingnya adalah mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar. Semoga kegiatan gerdal padat karya kali ini dapat menekan populasi tikus sehingga kegiatan produksi pertanian tidak terganggu dan kehilangan hasil padi dapat diminimalisir. Penulis : I Made Winantara, SP dan I Gede Putu Darmawan, SP (POPT-PHP Kecamatan Mengwi)