I. PENDAHULUAN 1.1. Latar BelakangTanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting. Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktifitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan, begitu juga dengan kesehatan manusia mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan tanah.Salah satu permasalahan saat ini yang dihadapi banyak petani adalah kesehatan dan kesuburan tanah yang semakin menurun. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala sebagai berikut; tanah cepat kering, retak-retak bila kurang air, lengket bila diolah, lapisan olah dangkal, asam dan padat, produksi sulit meningkat bahkan cenderung menurun. Kondisi ini semakin buruk karena penggunaan pupuk an-organik terus meningkat dan penggunaan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan juga meningkat.Perilaku usahatani lebih tertuju pada cara memupuk tanaman, bukan cara memupuk tanah agar tanah menjadi subur, sehingga dapat menyediakan sekaligus memberikan banyak nutrisi pada tanaman. Saat ini usahatani secara umum belum melibatkan tanah sebagai komponen yang mempengaruhi dan menentukan keputusan pengendalian dalam pengelolaan suatu agroekosistem. Dalam rangka memperoleh produksi dan kualitas yang tinggi pada budidaya tembakau telah dilakukan berbagai cara, diantaranya melakukan pemupukan baik dengan pupuk organik seperti, pupuk hijau, pupuk kandang, kompos, dan lain – lain.Salah satu kendala tanaman tembakau adalah persemaian yang kurang baik diakibatkan pada fase perkecambahan sering terserang penyakit rebah kecambah (Rhizoctonia solani), gejala serangan pangkal bibit berlekuk seperti terjepit, busuk, berwarna coklat dan akhirnya bibit roboh. Selain penyakit itu kendala dalam penanaman tembakau adalah pemupukan yang kurang memenuhi standar keamanan dan kesehatan lingkungan.Kita sebagai pelaku usaha pertanian harus menyadari bahwa menjaga kelestarian lingkungan adalah kewajiban bersama. Kondisi tanah pertanian harus kita lindungi agar tidak terjadi pemberian pupuk kimia berlebihan dan biologi yang tidak seimbang yang kemudian hari akan mengganggu kesuburan tanah serta mengganggu keseimbangan ekosistem.Seiring dengan program pemerintah untuk kembali menggunakan bahan- bahan alami / organik, maka dari itu para pelaku usaha pertanian harus kembali menggunakan pupuk organik serta pemanfaatan agens anatagonis secara berkesinambungan dalam kegiatan usaha taninya.Pupuk organik yang digunakan ada dua macam yaitu pupuk kotoran bebek dan petroganik sedangkan untuk kombinasinya menggunakan Trichoderma sp. Pupuk petroganik adalah sejenis pupuk organik yang beredar dipasaran yang memiliki kandungan C Organik 12,30 %, C/N Rasio 15,19 %, pH 8,03 , dan Kadar air 8,16 %.( www.petrokimia-gresik.com, 2012) Sedangkan untuk Trichoderma sp sendiri adalah mikro organisme berupa jamur/fungi yang menyebabkan terhambat, desintegrasi dan atau matinya patogen tumbuhan. Jamur/fungi Trichoderma sp efektif pada tanah masam, pH netral, perkecambahan propagulnya/hifa terhambat dan bahkan tidak dapat berkecambahan pada kondisi basa. Jamur ini sangat menyukai bahan yang banyak mengandung selulosa, seperti sisa – sisa batang jagung. Trichoderma sp menghasilkan enzim kitinase dan B – 1.3 – glukanase, dengan proses antagonis parasitisme. ( Ir. Budi Utoyo, 2011 ).1.2. Identifikasi Masalah Dari latar belakang diatas dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :1. Kombinasi penggunaan pupuk organic dengan pupuk hayati (Trichoderma sp ) manakah yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanaman padi.2. Kombinasi dosis berapa penggunaan pupuk organic dengan pupuk hayati (Trichoderma sp) yang dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanaman padi. 1.3. Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari karya tulis ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi puuk organic dan pupuk hayati (iTrichoderma sp) manakah yang paling bagus untuk meningkatkanpertumbuhan dan produktivitas tanaman padiKarya tulis ini diharapkan bisa memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu dan pengembangan teknologi budidaya pertanian, serta penerapannya dalam pemanfaatan pupuk organik dan agens antagonis (TRichoderma sp). II. TINJAUAN PUSTAKA2.1. Morfologi Tanaman Padi a. Akar Tanaman padi merupakan tanaman berakar serabut yang memiliki banyak bulu – bulu akar. Perakaran akan berkembang baik jika tanahnya gembur, mudah menyerap air, dan subur.b. Batang Tanaman padi banyak memiliki batang – batang dalam satu rumpun bisa 35 – 47 anak batang. bentuk batang kecil bulat, agar lunak , batang berwarna hijau dari bawah sampai daun bendera. c. Daun Daun tanaman padi berbentuk panjang dan sempit tulang daun bergaris garis pada permukaan daunnya. Pada permukaan daun atas memiliki bulu – bulu halus.d. Syarat Tumbuh Tanaman padi pada umumnya menghendaki tanah yang subur , gembur, banyak mengandung unsur hara makro dan mikro, serta memiliki pengairan yang stabil, karena tanaman padi pada saat tertentu harus di genangi terus dikeringkan. Mengacu sesuai sistem pengairan secara berselang (Intermitten). Tanaman padi memerlukan curah hujan rata – rata 1.500 – 3.500 mm/tahun. Penyinaran cahaya mataahari yan kurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik sehingga produktivitasnya rendah, oleh karena itu lokasi untuk tanaman padi sebaiknya dipilih di tempat terbuka dan waktu tanam disesuaikan dengn jenisnya. Suhu udara yang cocok untuk petumbuhan tanaman berkisar antara 21 – 32,30 oC. tergantung pada varietasnya. 2.2. Penyakit Pada Tanaman PadiPenyakit yang sering menyerang pada padi adalah Penyakit hangus batang atau damping off merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani. Meskipun jenis penyakit ini tidak begitu meluas namun memiliki gejala yang sangat nampak, yaitu gejala serangannya sama dengan yang disebakan oleh cendawan phytium dan phytohthora. tanda - tanda serangannya adalah menyebabkan bibit terserang layu, karena terdapat gelang gelang yang berwarna hitam, tepat pada batang permukaan tanah. Mula mula daun layu dan berwarna kuning, bila dibelah batang yang terserang terlihat kering dan berwarna kecoklatan dan di dalamnya ditumbuhi cendawan penyakit hangus batang yang disebabkan oleh cendawan rhizoctonia solani pada pembibitan ini tidak begitu meluas, untuk mengatasi atau mencegah serangan ini dapat dilakukan beberapa macam cara, baik secara kimiawi atau dengan memanfaatkan agen hayati atau musuh alaminya. 2.3. Pengendalian Secara HayatiPengendalian hayati adalah teknik pengendalian OPT dengan melibatkan peranan musuh alami dari OPT tersebut. Agen hayati mencakup pengertian mahluk hidup yang dimanfaatkan sebagai agen pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didefinisikan sebagai pengaturan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian (De Bach, 1997, dalam Oka, 1998).Pengendalian secara hayati adalah kerja dari beberapa faktor biotis seperti parasitoid, predator dan patogen terhadap mangsa atau inang, sehingga menghasilkan suatu keseimbangan umum yang lebih rendah dari pada keadaan yang ditunjukkan apabila faktor tersebut tidak ada atau tidak bekerja (Stern et al., 1959).Pengendalian hayati memanfaatkan spesies-spesies mahluk hidup tertentu untuk mengendalikan hama penyakit tanaman. Pemanfaatan ini dimungkinkan karena adanya interaksi antara dua spesies mahluk hidup atas keuntungan yang satu memangsa atau sebagai parasit dan lainnya dirugikan karena dimakan atau meningkatkan efisiensi dan aktivitas musuh alami sehingga peranannya semakin nyata. Penggunaan pestisida dapat menurunkan populasi musuh alami, oleh sebab itu mengurangi penggunaan pestisida dapat membantu melindungi dan melestarikan musuh alami atau sering disebut istilah teman para petani (De Bach, 1997, dalam Oka, 1998), potensi musuh alami akhir- akhir ini sudah banyak dikembangkan, artinya pengendalian OPT sudah banyak memanfaatkan peran musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen serangga dan agens antagonis.2.3.1. Kelebihan dan Kekurangan Agen Hayati1. Kelebihan agens hayati, antara lain :• Selektifitasnya tinggi dan tidak dapat menimbulkan ledakan hama baru dan resurgensi hama.• .Faktor pengendali (agen) yang digunakan tersedia di lapang.• Agens hayati (parasitoid dan predator) dapat mencari sendiri inang atau mangsanya.• Agens hayati (parasitoid dan predator, patogen) dapat berkembang biak dan menyebar.• Tidak menimbulkan resistensi terhadap serangga inang atau mangsa ataupun kalau terjadi sangat lambat.• Pengendalian ini dapat berjalan dengan sendirinya karena sifat agens hayati tersebut.• Tidak ada pengaruh samping yang buruk seperti pada penggunaan pestisida• Pengendalian hayati relatif murah2. Kelemahan agens hayati, antara lain :• Pengendalian terhadap OPT berjalan lambat.• Hasilnya tidak dapat diramalkan• Dalam pelaksanaannya pengendalian hayati memerlukan pengawasan pakar dalam bidangnya. 2.3.2. Bioekologi Trichoderma spTrichoderma sp. masuk dalam kelas Euascomycetes dan family Hypocreaceae. Konidiofor hyaline, bercabang dan pyramidal. Konidia ( dengan diameter rata – rata 3 µm ) berbentuk sel tunggal, bulat dan pada permukaannya halus ataupun permukaannya ada yang sedikit kasar. (Smith, etal,1990). Agens antagonis patogen tumbuhan yang telah banyak dikembangkan dan disosialisasikan kepada para petani adalah cendawan Trichodema sp. Klasifikasi cendawan Trichoderma sp. adalah sebagai berikut :Kingdom :Fungi Divisi :AscomycotaSubdivisi :PezizomycotianaKelas :SordariomycetesOrdo :HypocrealesFamili :HypocreaceaeGenus :TrichodermaSpecies : Trichoderma spCendawan marga Trichoderma terdapat lima jenis yang mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride, Trichorderma hamatum dan Trichorderma polysporum. Jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii,Trichorderma viride. Trichoderma sp. umumnya penghuni tanah, khususnya pada tanah organik. Cendawan ini dapat hidup sebagai saprofitik atau parasitik terhadap cendawan lain, bersifat antagonistik dan banyak digunakan sebagai pengendalian biologi (Sundheim dan Tromsno, 1988).Trichoderma sp. juga ditemukan pada permukaan akar bermacam-macam tumbuhan, pada kulit kayu yang busuk, terutama kayu busuk yang terserang cendawan dan pada sklerotia atau propagul lain dari cendawan lain. Cendawan Trichoderma sp. dapat hidup pada beberapa macam kondisi lingkungan. Trichoderma hamatum dan Trichoderma pseudokoningii dapat berdaptasi pada kondisi kelembaban tanah yang sangat tinggi. Trichoderma viride dan Trichoderma polysporum terbatas pada daerah yang mempunyai suhu rendah. Trichorderma harzianum sangat umum ditemukan di daerah yang beiklim panas, sedangkan Trichorderma hamatum dan Trichorderma koningii tersebar luas pada kondisi iklim yang bermacam–macam. Kondisi kering dalam waktu yang lama mengakibatkan populasi Trichorderma spp. Semakin menurun atau dengan kata lain kurang stabil (Rifai, 1969, dalam Sri Sukamto dkk, 1994). Suhu optimum untuk pertumbuhan Trichorderma harzianum adalah 15-310 C, tetapi pertumbuhan terbaik rata-rata pada suhu 300 C dan untuk suhu maksimum 300–360 C. Sedang suhu optimum untuk pertumbuhan Trichorderma koningii adalah 260 C. Pertumbuhan normal untuk cendawan Trichorderma harzianum pada pH 3,7-4,7 sedangkan Trichorderma koningii pertumbuhan optimumnya pada pH 3,7-6,0 (Domsch et al., 1980, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).2.3.3. Mekanisme Antagonis Cendawan Trichoderma sp.Trichoderma sp. dapat bersifat antagonis terhadap banyak cendawan karena mempunyai banyak cara untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan cendawan lain. Ada tiga mekanisme antagonis cendawan Trichoderma harzianum terhadap patogen tular tanah yaitu sebagai kompetitor baik ruang maupun nutrisi, antibiosis yaitu mengeluarkan ethanol yang bersifat racun bagi patogen dan sebagai mikro parasit (Sudantha, 1995, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).Trichoderma koningii dan Trichoderma viride dapat menghambat secara nyata terhadap cendawan Fusairum annosus dan Rhizocthonia solani dengan antibiotika menguap yang dihasilkannya. Disamping itu Trichoderma koningii dan Trichoderma viride juga dapat menggulung Fusarium annosus dan Rhizocthonia solani. Trichoderma koningii dapat mempengarui Phytophthora Palmivora cendawan penyebab panyakit busuk buah kakao dengan perubahan warna menjadi kuning. Diduga hal ini karena adanya antibiotika yang dikeluarkan oleh Trichoderma koningii tersebut. cendawan antagonis yang lain seperti Trichoderma pseudokoningii dan Trichoderma aureoviride berdasarkan pengamatan menandakan kontak langsung secara fisik dengan Phytophthora Palmivora (Dennis dan Webster, 1971, dalam Sri Sukamto dkk, 1994).2.4. Standar Pupuk Organik Petroganik Pupuk organik petroganik yang memiliki kandungan C Organik 12,30 %, C/N rasio 15,19 %, pH 8,03, dan kadar air 8,16 %, (www.petrokimia-gresik.com. 2012). Keunggulan petroganik ini adalah memiliki kadar C – Organik tinggi, berbentuk granular sehingga mudah dalam pengaplikasian, aman dan ramah lingkungan (bebas mikroba patogen), bebas dari biji – bijian gulma, dan kadar air rendah, (www.petrokimia-gresik.com. 2012). Manfaat dari petroganik ini yaitu bisa menggemburkan dan menyuburkan tanah, meningkatkan daya simpan dan daya serap air, memperbaiki tata udara dalam tanah, memperkaya unsur hara makro dan mikro, menyediakan sumber energi untuk pertumbuhan organisme tanah sehingga membantu menyuburkan tanah, dan mengoptimalkan pertumbuhan akar tanaman dalam tanah. (www.petrokimia-gresik.com. 2012). 2.5. Pupuk Kandang Bebek Pupuk kandang bebek yang baik adalah kotoran bebek yang telah mengalami fase pemasakan atau pengkomposan untuk mengurangi kadar air dan menetralkan pH,sehingga dapat memudahkan penggunaan dan atau pengaplikasian dilapangan. (sugiartoagribisnis.wordpress.com,2012) III. METODOLOGI3.1. Metode PenelitianMetode percobaan yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 2 kali ulangan, dalam setiap satu ulangan terdiri dari10 m2 tanaman, jadi keseluruhan t120 m2. Perlakuan kombinasi pupuk organik dan Trichoderma sp adalah sebagai berikut :Tabel 1. Notasi Perlakuan Kombinasi Penggunaan Pupuk Organik dan Trichoderma sp pada Tanaman Padi (Oryza sativa) No. Notasi Dosis Perlakuan Pupuk Organik dan Trichoderma sp (volume)1. A Pupuk Organik Petroganik + 0 % Trichoderma sp2. B Pupuk Organik Petroganik + 50 % Trichoderma sp3. C Pupuk Organik Petroganik + 100 % Trichoderma sp4. D Pupuk Kandang Bebek + 0 % Trichoderma sp5. E Pupuk Kandang Bebek + 50 % Trichoderma sp6. F Pupuk Kandang Bebek + 100% Trichoderma spKeterangan : 0 % Trichoderma sp = 0 g + 250 g bahan organik 50 % Trichoderma sp = 4 g + 250 g bahan organik 100 % Trichoderma sp = 8 g + 250 g bahan organik Adapun model linier ( RAK ) untuk tiap pengamatan pada penelitian ini adalah : Xij = U + ti + rj + eijXij = respon perlakuan ke – i dan kelompok ke – jU = harga rata – rata populasiti = pengaruh pada perlakuan ke – irj = pengaruh pada perlakuan ke – jeij = pengaruh dari faktor Random terhadap perlakuan ke – I pada kelompok j Hasil uji statistik F pada taraf nyata 5 % yang menunjukan perbedaan maupun tidak, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan taraf nyata 5 % dengan rumus sebagai berikut : LSR 0,05 = SSR 0,05 x SxSx = Keterangan : LSR : Least significant rangesSSR : Studentized significant rangesSx : Galat baku rata – rata 3.2. Rancangan Analisis Berdasarkan model linier, disusun tabel analisis varians untuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) pada Tabel 2.Tabel 2. Analisis Varians Rancangan Acak Kelompok Sumber ragam DB JK KT Fh F.05Ulangan (r) r - 1 = 2 JKU/2 ∑xj2/ t- x..2/rt KTU/KTG Perlakuan (t) t – 1 = 6 JKP/6 ∑xj2/ r – x..2/rt KTP/KTG Galat (r – 1) (t – 1) = 12 JKG/12 JKT-JKU-JKP Total r.t – 1 = 27 ∑ij2 – x..2/rt Sumber : Toto Warsa dan Cucu S. ahyar, 19823.3. Pembuatan Lahan Persemaian Tanah yang digunakan untuk lahan persemaian adalah tanah yang sudah diolah serta diratakan dengan ukuran lebar 1 meter, panjang sesuai kondisi lahan,dan di sekelilingnya dibuat parit. Dipinggir lahan persemaian dikelilingi oleh plastic untuk mengurangi hama tikus. Lahan persemaian per1m2 diberi 100 gram Trichoderma sp dengan cara dicampur dengan pupuk organik.3.4. Penaburan benihBenih yang dipakai adalah benih yang bermutu hasil dari seleksi benih air garam.kemudian diperam sehari semalam lalu benih ditabur secara merata. Penyiraman persemaian dilakukan 2 kali yaitu pada pagi dan sore hari, penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma – gulma yang tumbuh. Persemaian dilakukan selama 15 hari.3.5. Persiapan Lahan Lahan untuk penanaman dipupuk dasar oleh campuran pupuk organik petroganik atau pupuk kandang bebek, dan Trichoderma sp sesuai dengan notasi perlakuan. 3.6. Penanaman Bibit Penanaman padi menggunakan sistem legowo 2 : 1, dengan jarak tanam 20X20X40 cm. Bibit padi yang ditanam hanya 2 – 3 tanaman per lubang Penanaman dilakukan pada pagi hari.3.7. Pengairan Pengairan dilakukan secara berselang (Intermitten) yaitu dua hari di genangi dan satu hari dikeringkan sampai tanah menjadi retak – retak supaya udara didalam tanah bisa keluar masuk untuk merangsang pertumbuhan akar serabut dan bulu – bulu akar.3.8. Pemupukan Pemupukan hanya dilakukkan pada umur 2 minggu sesudah tanam dan satu bulan sesudah tanam. Dengan menggunakan pupuk organik petroganik/ kotoran bebek dicampur dengan agens antagonis (Trichoderma sp) sesuai notasi perlakuan.3.9. Penyiangan Penyiangan dilakukan mulai tanaman berumur satu minggu setelah tanam, dengan cara mencabut tumbuhan pengganggu yang tumbuh disekitar tanaman utama, penyiangan berikutnya dilakukan apabila gulma mulai tumbuh lagi.3.10. Pengendalian Hama dan Penyakit Untuk pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan manual dan preventif. IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengamatan Penunjang Hasil pengamatan penunjang selama percobaan berlangsung tidak menunjukan adanya kerusakan tanaman yang signifikan yang diakibatkan oleh hama maupun penyakit, karena usaha preventif secara teratur dan penggunaan Trichoderma sp yang bisa bermanfaat untuk mengendalikan penyakit pada tanaman khususnya tanaman padi, sedangkan disekitar bibit tumbuh beberapa jenis gulma, seperti eceng gondok ,dan tanaman air lainnya. Namun keduanya dapat ditanggulangi secara manual (dicabut). 4.2. Pembahasan4.2.1. Kondisi Awal Tanah Kondisi tanah penelitian yang kurang subur dan tidak terlalu gembur, pH netral 7,08, dengan kandungan N, P, dan K yang sangat rendah , menganjurkan untuk menggunakan banyak bahan organik , supaya dapat meningkatkan kesuburan tanah, menggemburkan tanah, dan mengikat air lebih banyak. 4.2.2. Populasi Awal Jamur Tanah penelitian yang bertempat di Desa Cikasungka, Kecamatan Cikancung total jamur/fungi 1,3 X 105 cfu/g, total jamur untuk kombinasi pupuk petroganik + 100 % Trichoderma sp yaitu 1,8X105 cfu/g, sedangkan untuk kombinasi kotoran bebek + 100 % Trichoderma sp hasilnya sama dengan total jamur dalam tanah yaitu 1,3 X 105 cfu/g.4.2.3. Populasi Akhir Jamur Menghitung populasi akhir jamur pada sample tanah yang memakai kombinasi pupuk organik petroganik + 100 % Trichoderma sp yaitu 1,4 X 105 cfu/g, untuk tanah yang memakai kombinasi pupuk kotoran bebek + 100 % Trichoderma sp adalah 1,0X 105 cfu/g, dan populasi total jamur pada tanah yang memakai pupuk NPK Phonska adalah 3,8 X 105 cfu/g.4.2.4. Pelaksanaan dan Hasil Percobaan Pada pelaksanaan percobaan serangan hama dan penyakit masih pada taraf yang wajar dibawah ambang ekonomis, dengan demikian hal tersebut tidak sampai mengganggu pertumbuhan tanaman karena dapat diatasi dengan cara manual (ditangkap dengan tangan lalu dimatikan) . pengendalian gulma saat pelaksanaan percobaan dilakukan secara rutin dengan cara manual yaitu mencabuti gulma – gulma yang tumbuh di lahan pertanaman, sehingga gulma yang tumbuh tidak sempat untuk dapat mengganggu tanaman utama baik dalam hal persaingan unsur hara maupun media tempat tumbuh tanaman. Peningkatan jumlah anakan padi per rumpun, disebabkan oleh suplai makanan dari hasil fotosintesis, apabila dilihat dari penggunaan pupuk organik dan Trichoderma sp dapat memberikan pengaruh terhadap kualitas , kuantitas daun padi itu sendiri karena tidak ada campuran dari unsur kimia yang biasa dikatakan bahwa daun padi hasil percobaan ini bebas dari unsur kimia dan menjadi padi organik. Bobot per 1000 bulir padi mengalami kenaikan,ini erat kaitannya dengan proses fotosintesis serta penimbunan atau penyimpanan hasil fotosintesis. Sebagian dari hasil fotosintesis digunakan untuk respirasi dan asimilasi, kemudian kelebihannya disimpan pada bagian – bagian tertentu dari tanaman terutama batang dan akar tanaman. Sedangkan hasil proses fotosintesis itu sendiri salah satunya dipengaruhi oleh berisinya bulir padi secara penuh. Berdasarkan hasil analisis berbagai parameter yang diamati pada percobaan di atas menunjukan bahwa, pada pengamatan utama yang dilakukan secara periodik diketahui terdapat perbedaan antara masing – masing perlakuan, pada pengamatan tinggi tanaman, jumlah anakan dan berisi secara penuh bulir padi dan tidak terlalu banyak hama dan penyakit maka perlakuan B ( Kombinasi Pupuk Petroganik + 50 % Trichoderma sp) lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Pertumbuhan tinggi tanaman erat kaitannya dengan pembelahan dan perpanjangan sel, hal ini sesuai dengan peran bahan organik dan jamur/fungi khususnya Trichoderma sp yang dapat menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, dengan demikian karbohidrat yang dihasilkan cukup besar, sehingga proses pembelahan, dan perpanjangan sel lebih cepat dan dapat meningkatkan laju pertumbuhan tanaman akan berjalan lebih tinggi (Sri Setyadi Haryadi,1991). Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pemberian pupuk organik petroganik dan + 50 % Trichoderma sp memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman jumlah anakan dan bulir padi berisi secara penuh, Hal ini menunjukan bahwa perlakuan B pupuk organik petroganik + 50 % Trichoderma sp memberikan pengaruh yang lebih baik dan efisiensi terhadap tanaman padi.V. KESIMPULAN DAN SARAN5.1. KesimpulanDari hasil pembahaan diatas bisa ditarik kesimpulansebagai berikut :1. Kombinasi takara pupuk organic Trichoderma sp yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda dan memberikan pengaruh yang sama terhadap berbagai perlakuan tanaman padi.2. Kombinasi penberian 250g/m2 pupuk organik petroganik + 50 % Trichoderma sp dapat memberikan pengaruh paling baik terhadap pertumbuhan tanaman, penambahan jumlah anakan produktif dan berisi secara penuh bulir padi.5.2. SaranPenulis menyarnkan penggunaan pupuk petroganik lebih baik dikarenakan sudah teruji kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, dan pupuk organik ini mudah diaplikasikan dikarena praktis dan ekonomis, kemudian penggunaan pupuk kotoran bebek yang banyak disekitaran lokasi bisa dimanfaatkan untuk pupuk dasar sehingga dapat kerjasama menumbuhkan peternakan bebek, sehingga bisa dijadijan bahan untuk membuka lapangan usaha baru serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi dibidang pertanian.Selain itu penulis menyarankan untuk mengembangkan dan menciptakan kombinasi berbagai macam pupuk organik dan agens antagonis Trichoderma sp yang bisa dijadikan pupuk maupun pestisida organik ramah lingkungan sehingga dapat menjaga kestabilan dan kesuburan tanah, dikarenkan hal yang berhubungan dengan sesuatu yang berasal dari alam akan memberikan manfaat bagi fisik dan kimia tanah, serta bisa menjaga kesehatan manusia yang sudah banyak terkontaminasi oleh bahan – bahan kimia. DAFTAR PUSTAKAAbdullah, A.&Sudarmanto, 1986. Budidaya Tanaman Padi. CV yasa guna, Jakarta.Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah Jawa Barat, 2010. Pengembangan Jamur Trichoderma sp di daerah jawa barat. BandungCahyono, B. 1995,. Budidaya Tanaman Padi, CV Yasa Guna .Jakarta..Darmawijaya , 1977 . Unsur Hara Makro Peranannya Dalam peningkatan Produksi, Warta BPPK , Vol 3. No. 4.DwijoSeputro.1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan, PT. Gramedia JakartaHardjowigeno, S. 2003, Ilmu Tanah. Akapres/akademi Presindo. Jakarta.www.petrokimia-gresik.com 2012/06/23/standar pupuk organik petroganikLingga, P.dan Marsono.2001.Petunjuk Penggunaan Pupuk.Penebar Swadaya.Schmidt Fergusson.1951.Rainfall Types.Based On Wet and Dry Periods.Area For Indonesia With Western New Guinea. Kementrian Perhubungan Jawatan Metereologi dan Geofisika. Verhandeling No.42 Jakarta.Warsa, Toto & Cucu S.Ahyar 1982. Perencanaan dan Analisis Percobaan. Bagian Statistik Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran Bandung.