PENGARUH IRIGASI TERHADAP PRODUKSI TANAMAN JAGUNG DI DESA AITOUN
Nilai rata-rata tahunan satuan kebutuhan air (SKA) irigasi tanaman jagung (jenis tanaman palawija) sebesar 0.47 l/det/ha atau hampir 0.5 l/det/ha. Dimana SKA tanaman jagung terjadi pasa musim tanam bulan juli-september dengan nilai rata-rata SKA sebesar 0.72. Defisit air untuk tanaman dan water stress (cekaman air) yang diakibatkannya berpengaruh terhadap evapotranspirasi tanaman dan hasil. Setiap jenis tanaman memiliki response yang berbeda-beda terhadap kekurangan air pada setiap fase pertumbuhannya, termasuk Jagung. Pemberian kedalaman air irigasi dan waktu pemberian sangat penting untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan memaksimalkan produksi. Tanaman jagung lebih toleran terhadap kekurangan air pada fase vegetatif dan fase pematangan/masak. Penurunan hasil terbesar terjadi apabila tanaman mengalami kekurangan air pada fase pembungaan, bunga jantan dan bunga betina muncul, dan pada saat terjadi proses penyerbukan. Penurunan hasil tersebut disebabkan oleh kekurangan air yang mengakibatkan terhambatnya proses pengisian biji karena bunga betina/tongkol mengering, sehingga jumlah biji dalam tongkol berkurang. Hal ini tidak terjadi apabila kekurangan air terjadi pada fase vegetatif. Kekurangan air pada fase pengisian/pembentukan biji juga dapat menurunkan hasil secara nyata akibat mengecilnya ukuran biji. Kekurangan ai pada fase pemasakan/pematangan sangat kecil pengaruhnya terhadap hasil tanaman (FAO, 2001 dalam Aqil dkk, 2008). Menurut Danarti dan Najiyati (1999) suhu optimum untuk pertumbuhan terbaik tanaman jagung berkisar antara 27 – 32 °C. Suhu yang terlalu panas dan pemberian air yang kurang mengakibatkan tanaman jagung tidak tumbuh dengan optimal. Doorenboss dan Kasam (1979) menyatakan bahwa tanaman jagung masih dapat tumbuh pada suhu di bawah 45°C dengan persyaratan kebutuhan air tanaman terpenuhi. Kurang pemberian air akan menyebabkan terjadinya cekaman, karena cekaman menghambat pembesaran sel sehingga daun, tinggi tanaman, dan indeks luas daun tanaman mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal (Islami dan Utomo, 1995). Tanaman jagung kurang efektif jika diberikan irigasi defisit. Sistem irigasi tetes dapat dikategorikan baik untuk diaplikasikan pada tanaman jagung. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat keseragaman jagung pada irigasi tetes antara lain : kondisi filter air, kondisi lubang emitter yang tersumbat oleh tanah, perubahan koefisien gesek pada pipa lateral karena tumbuhnya lumut dsb. Menurut Warrick (1983), tingkat keseragaman distribusi tetesan diklasifikasikan sebagai berikut : 90% sangat baik; 80-90% baik; 70-80% cukup dan Pengembangan jagung lahan kering umumnya dilakukan pada musim hujan, sehingga produktivitas tidak seoptimal apabila dilakukan pada musim kemarau di lahan sawah tadah hujan. Penyebabnya adalah intensitas penyinaran matahari dan jumlah debit air pada setiap fase yang berbeda terhadap pertanaman jagung. Implementasi dan inovasi teknologi ini memberikan dampak pada peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Pemanfaatan lahan sawah tadah hujan umumnya rata-rata hanya satu kali sampai dua kali (padi rendengan dan padi MKI), setelah itu lahan dibiarkan bero sehingga peluang keberhasilannya hanya dapat ditempuh melalui pertanaman jagung dengan sistem TOT pada lahan sawah tadah hujan. Penerapan teknologi pertanaman jagung sistem TOT pada lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan indeks pertanaman dari (100 dan 200) menjadi (200 dan 300). Jagung kurang efektif jika dilakukan irigasi defisit karena air adalah kebutuhan yang sangat penting untuk tanaman. Air adalah salah satu bahan fotosintesis sehingga kekurangan air dapat memperlambat laju fotosintesis.Jagung pada lahan kering lebih efisien menggunakan irigasi tetes. Karena kebutuhan air pada jagung dapat terpenuhi secara maksimal. OLEH ;SERVASIUS.A.MAU PPL PENDAMPING DESA AITOUN - BPP HAEKESAK KECAMATAN RAIHAT WEMORI KAB. BELU