Loading...

PENGARUH LINGKUNGAN DALAM BUDIDAYA PADI

PENGARUH LINGKUNGAN DALAM BUDIDAYA PADI
Hasil gabah yang tinggi merupakan hasil dari proses optimal yang terjadi di dalam tubuh tanaman, didukung oleh proses di dalam tanah dan lingkungan yang sesuai. Proses yang terjadi tersebut perlu dikaji secara ilmiah, sehingga dapat dicarikan komponen teknologi budidaya yang tepat, sesuai dengan karakteristik lokasi dan varietas tanaman, serta menggunakan pendekatan sistem (sistem, lingkungan, proses dan output). Faktor lingkunganFaktor lingkungan dalam pertanaman padi dibedakan atas faktor lingkungan abiotik dan biotik, sebagai berikut:1. Faktor lingkungan abiotikFaktor lingkungan abiotik antara lain yaitu kondisi kesuburan, fisik dan biologi tanah; ketersediaan dan kualitas air; serta ada tidaknya faktor penghambat pertumbuhan tanaman. Faktor-faktor ini perlu dievaluasi dan diterjemahkan menjadi suatu kebutuhan akan cara budidaya yang tepat, misalnya sistem pengairan dan drainasi diperlukan untuk lahan sawah yang keracunan besi; pemberian hara mikro diperlukan pada tanah ber-pH tinggi; bahan organik diperlukan untuk tanah bertekstur kasar; pemberian kapur diperlukan untuk tanah masam. Teknologi pemecahan masalah setempat perlu diterapkan berdasarkan informasi karakteristik lokasi. Karakteristik lokasi lainnya, seperti status hara menandakan diperlukannya hara-hara tertentu (macam dan jumlah pupuk tertentu) untuk pertumbuhan tanaman yang optimal, misalnya tekstur tanah kasar memerlukan pemberian pupuk urea secara bertahap sebanyak tiga kali, sedangkan tanah bertekstur halus cukup dua kali. 2. Faktor lingkungan biotikFaktor lingkungan biotik antara lain yaitu apakah suatu daerah merupakan daerah yang endemik penyakit dan hama tertentu atau tidak. Daerah yang endemik penyakit dan hama tertentu ini perlu menerapkan varietas yang toleran terhadap hama/penyakit tersebut, serta menerapkan pengendalian hama/penyakit terpadu yang sesuai. Varietas Inpari 9 Elo tahan penyakit tungro dengan potensi hasil 9,3 ton/ha, begitu pula Inpari 31. Varietas Inpari 15 Parahiyangan tahan penyakit blast ras 033 dengan potensi hasil 7,5 ton/ha. Varietas lain yang relatif toleran blast, yaitu Inpara 6,7; Inpago 7,8; dan Inpari 33. Adapun varietas Inpari 28 Kerinci tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III dengan potensi hasil 9,5 ton/ha. Varietas relatif tahan wereng batang coklat, antara lain Inpari 31, 33 dan Inpago 9, sedangkan yang relatif tahan HDB, yaitu Inpara 4, 8, 9; Inpari 32 HDB dan Inpari 33. Bila varietas yang akan ditanam sudah terpilih (misalnya berdasarkan toleransi terhadap penyakit tertentu), selanjutnya dicari jarak tanam yang sesuai, varietas dengan jumlah anakan sedikit lebih sesuai untuk ditanam lebih rapat (hasil tinggi mengandalkan populasi), sebaliknya varietas dengan jumlah anakan banyak ditanam berjarak lebih lebar (hasil tinggi dengan memanfaatkan banyaknya anakan). Pengaruh lingkungan dalam budidaya padiBerbagai kondisi lingkungan abiotik yang mempengaruhi kebutuhan akan cara budidaya padi, antara lain sebagai berikut:1. Air terbatas Lingkungan dengan ketersediaan air terbatas memerlukan upaya optimasi luas lahan per komoditas dan pola rotasi setahun. Selain itu kondisi ini memerlukan pengelolaan air secara hemat melalui pengaturan waktu pemberian air dengandengan cara buka tutup saluran ke petakan, serta penggunaan varietas yang lebih toleran kekeringan (Inpago 4, 5 dan 8). Varietas Inpago 4, 5, 6, 8 dan Inpago Lipigo 4 berpotensi produksi tinggi (6,2 - 8,4 ton/ha), serta pada umumnya tahan terhadap blas yang merupakan penyakit utama padi gogo, dan toleran terhadap keracunan aluminium. Beberapa varietas padi sawah irigasi yang relatif toleran terhadap kekeringan , antara lain Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19 dan Inpari 20 dengan potensi hasil 8,0 - 9,5 ton/ha. Keempat varietas unggul ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan penyakit hawar daun bakteri. 2. Air berlimpahLingkungan dengan ketersediaan air berlimpah pada umumnya terjadi sewaktu musim hujan ekstrim di daerah rawa pasang surut atau sawah rawan banjir. Kondisi ini memerlukan pengaturan air agar pertanaman padi tidak terendam, mengingat tanaman padi pada umumnya akan mati apabila terendam penuh selama 7-10 hari. Selain itu juga diperlukan penggunaan varietas yang lebih toleran rendaman (Inpara 4, Inpara 5, Inpari 29 Rendaman dan Inpari 30). Varietas Inpari 29 Rendaman dan Inpari 30 Ciherang Sub 1 disarankan untuk lahan sawah irigasi rawan banjir dengan potensi hasil 9,5 ton/ha dan 9,6 ton/ha, sedangkan Inpara 4 dan Inpara 5 disarankan untuk dikembangkan di daerah rawa lebak dangkal dan sawah rawan banjir dengan potensi hasil 7,6 ton/ha dan 7,2 ton/ha. Kedua varietas ini tahan terhadap penyakit HDB patotipe IV dan VIII.3. Tanah salin (konsentrasi Na+ dalam larutan tanah tinggi) Tanah salin dicirikan dengan kesulitan tanaman menyerap air, termasuk hara yang berkompetisi dengan hara kation lain (K+, Ca++ dan Mg++). Kondisi ini memerlukan upaya pencucian garam dengan cara menggenangi lahan lalu membuang airnya beberapa kali. Untuk itu, draenasi sewaktu pengolahan tanah dianjurkan; begitu pula pemberian bahan organik untuk mengikat (menahan) kation-kation bebas. Varietas yang disarankan yaitu Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan yang toleran terhadap salinitas pada fase perbenihan, berdaya hasil tinggi (9,5 ton/ha dan 9,6 ton/ha), tahan penyakit blas dan agak tahan terhadap hama wereng batang coklat atau Inpari Unsoed 79.4. Tanah alkalin (pH tinggi) dan keracunan FeTanah alkalin berpeluang kahat hara mikro, untuk itu diperlukan pemberian Zn, Cu, S (ZA), bahan organik dan pengaturan air. Varietas yang disarankan yaitu Impart 7, serta Inpago 4, 5, dan 9. Tanah berdraenasi buruk dan keracunan besi memerlukan draenasi dan irigasi untuk perbaikan aerasi dan pencucian Fe, asam organik dan garam, dengan cara mengeluarkan air genangan (pompa) dan memasukkan air irigasi (pompa) dilakukan beberapa kali. Varietas yang disarankan untuk tanah yang keracunan Fe, yaitu Inpara 6,7, 8 dan 9.5. Tanah bertekstur kasarSelain memerlukan pemberian pupuk urea secara bertahap sebanyak tiga kali, tanah bertekstur kasar juga memerlukan pemberian bahan organik untuk: (1) memperbaiki sifat fisik tanah (struktur tanah lebih remah sehingga memudahkan perkembangan akar tanaman serta meningkatkan kapasitas menahan air dan hara); (2) memperbaiki sifat kimia dan fisik-kimia tanah (sebagai sumber hara N, meningkatkan KTK-tanah atau daya menahan dan melepas hara); (3) dan memperbaiki mikrobiologi tanah (karbon dari bahan organik merupakan sumber energi bagi mikroba penambat nitrogen, mikroba perombak ikatan karbon dan pelepas hara N dan P).Pertanaman padi yang cukup populasi, sehat (cukup hara dan terhindar hama dan penyakit) dengan jenis varietas yang sesuai dengan lingkungannya, akan mampu berproduktivitas tinggi. Penulis : Diana Prasastyawati/ Penyuluh Pertanian Pusat Sumber informasi:1. Praptana Heru. R dan Mejana Made Jana. 2014. Padi, Jagung dan Kedelai Unggul Baru Toleran Dampak Perubahan Iklim. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian2. Makarim Karim Abdul dan Suhartatik Endang. 2015. Setting Budidaya Padi Berbasis Sains. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian