Loading...

PENGAWETAN PAKAN TERNAK

PENGAWETAN PAKAN TERNAK
PENGAWETAN PAKAN TERNAKKwalitas dan kwantitas ternak adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha peternakan. Pada usaha ternak ruminansia hampir 70 % komponen biaya produksi berasal dari pakan. Untuk itu perhatian terhadap standar asupan nutrisi ini sangat penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan reproduksi dari ternak. Hijauan Makanan Ternak merupakan bahan pakan utama bagi kehidupan ternak serta merupakan dasar dalam usaha pengembanagan peternakan terutama untuk ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba.Kendala utama di dalam penyediaan hijauan makanan ternak yakni produksinya yang tidak tetap sepanjang tahun. Pada saat musim penghujan, produksi hijauan makanan ternak akan melimpah, sebaliknya pada saat musim kemarau tingkat produksinya akan rendah, atau bahkan berkurang sama sekali. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan atau pengawetan hijauan agar hijauan pakan selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut. Tujuan dari pengolahan dan pengawetan hijauan adalah untuk memelihara dan mempertahankan kulitas dan kuantitas nutrisi hijauan dengan meminimalkan kehilangan pada saat pemanenan dan penyimpanan (Rotzdan Muck,1994 dalam mansyur et al 2007). Ada beberapa pengawetan teknologi pengawetan hijauan makanan ternak yang umum dilakukan diantaranya yaitu:HAY : adalah tanaman hijauan yang diawetkan dengan cara dikeringkan dibawah sinar matahari kemudian disimpan dalam bentuk kering dengan kadar air 12 % - 30 %,warna tetap hijau dan berbau enak. Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar hijauan secara secara bertahap tetapi berlangsung secara cepat. Tujuan menurunkan kadar air adalah agar sel-sel hijauan tersebut cepat mati dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Kelebihan Hay untuk menghemat biaya peralatan , lebih cepat prosesnya, dapat dikontrol kerusakan fisiknya, ternak tidak perlu penyesuaian cara makannya. Cara pembuatan Hay dengan metode hamparan dan metode pod. Prinsip dasar dari pengawetan dengan cara dibuat hay adalah dengan cara mengeringkan hijauan, baik secara alami menggunakan sinar matahari maupun mesin pengering (dryer). Syarat yang dibuat hay bertekstur halus, dipanen pada awal musim bunga, hijauan yang dipanen dari area yang subur.SILASE : adalah hijauan makan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar (dengan kandungan air 60-70%) melalui proses fermentasi dalam silo. Silo dapat di buat di atas tanah yang bahannya berasal dari : tanah, beton, baja, drum bekas, dll. Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian diberikan sebagai pakan ternak lainnya, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak, sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Tujuan pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di simpan dalam kurun waktu yang lama. Penggunaan silase, silase merupakan pakan yang disukai ternak terutama bila cuaca panas. Apabila ternak kita belum terbiasa mengkonsumsi silase , maka pemberiannya sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan.AMONIASI : Yaitu cara pengolahan kimia menggunakan Amoniak (NH3) sebagai bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya). Cara ini mempunyai keuntungan-keuntungan yaitu : murah, sederhana, mudah dilakukan, juga sebagaI pengawet, anti aflatoksin, tidak mencemari lingkungan dan efisien. CARA PEMBERIAN PAKAN PADA TERNAKPemberian silase pada ternak harus dilakukan dengan memperhatikan respon ternak. Silase mempunyai aroma dan rasa yang khas, maka tidak semua ternak langsung mempunyai respon yang baik. Pengambilan silase harus dilakukan dengan hati-hati, silo harus cepat-cepat ditutup agar udara tidak masuk. Silase palling baik disimpan dalam silo yang berukuran sesuai kebutuhan , sekali ambil isi silo habis. Misalnya, setiap hari dibutuhkan 100 kg silase, maka kapasitas silo juga 100 kg. Sebelum diberikan pada ternak silase diangin-anginkan terlebih dahulu, jangan diberikan langsung pada ternak. Untuk ternak yang belum terbiasa makan silase, pemberian dilakukan sedikit-sedikit dicampur dengan hiajauan segar yang dikurangi secara bertahap. Jika sudah terbiasa silase dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan ternak setiap hari. Oleh : Utami, SP (THL TBPP UPT BP4 Wilayah II Godean)