G. Pengawetan Telur Dengan Pencucian H2O2 2%. Cara pengawetannya yaitu pertama-tama dengam menyiapkan H2O2 2% dalam ember. Kemudian telur-telur tersebut dicuci dengan H2O2 2% yang telah siap dalam ember. Telur tersebut digosok dengan kapas atau kain satu persatu sampai semua kulit telur bersih. Setelah itu letakkan dalam tempat telur dengan bagian yang runcing sebelah bawah dan bagian yang tumpul sebelah atas. Simpan pada tempat yang agak dingin dan lembab. Satu liter H2O2 2% dapat mengawetkan telur sebanyak 1000 – 1500 butir. Pengawetan telur dengan pencucian H2O2 2% dapat mempertahankan kualitas telur sampai hari ke-24.H. Pengawetan Telur Dengan Bahan Pembungkus. Pengawetan dengan bahan pembungkus dimaksudkan untuk mengasinkan telur melalui proses difusi. Bahan pembungkus yang lazim digunakan adalah semacam adonan yang terdiri dari bahan dasar bata merah halus, abu atau lempung dicampur dengan garam dan air. Untuk membuat adonan dapat dipakai berbagai variasi perbandingan antara bahan dasar dengan garam dan lamanya waktu penggaraman akan mempengaruhi tingkat keasinan telur. Berikut cara pengawetan dengan macam adonan :1. Pengawetan dengan bata halus dan garam. Pengawetan ini dengan memakai garam dan bata merah halus dengan perbandingan 1 : 3. Berikut bahan – bahannya yang dijelaskan secara rinci : 1). 100 butir telur itik yang sudah dibersihkan ; 2). 6 kg bata merah halus ; 3). 2 kg garam dapur (NaCl) ; 4). 2,5 liter air ; 5). Lima (5) sendok teh sendawa ; 6). 10 sendok makan gula merah. Cara pembuatannya : Pertama, bata merah halus, garam, sendawa, gula merah dan air dicampur dalam satu tempat (ember, baskom) secara merata sehingga merupakan adonan berupa bubur. Siapkan bata merah halus kering di atas nyiru. Kemudian celupkan telur ke dalam adonan, sehingga terbungkus kemudian angkat dan letakkan di atas nyiru yang berisi bata merah halus kering sambil telur diguling-gulingkan, sehingga terbungkus oleh bata halus kering. Kemudian telur disimpan. Setelah itu adonan yang melekat pada kulit telur dikupas dan telur dicuci sampai bersih kemudian direbus dan siap untuk dikonsumsi. Bahan adonan yang telah dikupas dapat dipergunakan kembali sebagai adonan baru dengan menambah air secukupnya dan garam sebanyak 20%.2. Pengawetan dengan abu halus dan garam. Pengawetan ini dengan memakai abu halus dan garam dengan perbandingan 4 : 1. Berikut bahan – bahannya yang dijelaskan secara rinci : 1). 100 butir telur itik yang sudah dibersihkan ; 2). 4 kg abu halus ; 3). 1 kg garam dapur (NaCl) ; 4). 2 liter air ; 5). Lima (5) sendok teh sendawa ; 6). 10 sendok makan gula merah. Pembuatannya serupa dengan pengawetan telur dengan bata merah dan garam.3. Pengawetan dengan lempung dan garam. Pengawetan ini dengan memakai lempung dan garam dengan perbandingan 2 : 1. Berikut bahan – bahannya yang dijelaskan secara rinci : 1). 100 butir telur itik yang sudah dibersihkan ; 2). 5 kg lempung ; 3). 2,5 kg garam dapur (NaCl) ; 4). 0,75 liter air ; 5). Lima (5) sendok teh sendawa ; 6). 10 sendok makan gula merah. Pembuatannya serupa dengan pengawetan telur dengan bata merah dan garam. Cara pembuatannya : Pertama, lempung, garam, sendawa, gula merah dan air dicampur dalam satu tempat (ember, baskom) secara merata sehingga merupakan adonan berupa bubur. Kemudian celupkan telur ke dalam adonan, sehingga terbungkus oleh adonan kemudian angkat dan diatur di suatu tempat untuk disimpan selama proses pengasinan. Setelah disimpan selama 7 – 12 hari telur telah menjadi telur asin. Setelah itu adonan yang melekat pada kulit telur dikupas dan telur dicuci sampai bersih kemudian direbus dan siap untuk dikonsumsi. I. Pengawetan Telur Beku (Frozen Egg) dan Telur Cair (Liquid Egg). Frozen Egg adalah telur cair yang dibekukan dengan suhu 0 – 10o F. Telur beku biasanya diperdagangkan dalam kemasan plastik kaleng atau pembungkus lainnya yang terbuat dari pol ethylen yang berfungsi untuk mencegah cairnya telur yang dikemas. Telur beku juga tersedia dalam bentuk campuran maupun putih atau kuning telur saja. Juga bisa ditambahkan gula (kuning telur), maupun garam dan/atau susu (putih telur dan/atau cairan telur). Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat telur beku antara lain telur segar (baik yang utuh, retak atau pecah), gula pasir (10 % dari berat total telur) dan garam (2,5% dari berat total telur). Garam dan gula selain berfungsi sebagai penambah rasa, berfungsi juga stabilisator pembekuan agar kebekuan teluer tetap bertahan meskipun diluar pendingin. Cara pembuatannya pertama memilih dan memisahkan mana telur yang baik dan telur yang busuk. Selain itu boleh juga dipisahkan kuning dan putih telurnya. Kemudian kuning telur ditimbang dan ditambah garam sebanyak 2,5% atau gula pasir 10 % dari berat total kuning telur. Selanjutnya kocok hingga tercampur rata. Sementara untuk putih telur tidak perlu ditambah dengan stabilator pembekuan. Setelah itu dicetak. Dalam pencetakan, usahakan agar volume kuning telur ataupun putih telur yang dimasukan dalam tiap cetakan disamakan dengan volume kuning telur dan putih telur pada umumnya (ukuran 1 butih telur). Kemudian telur dibekukan dengan suhu 0 – 10o F. Liquid Egg. Telur cair adalah cairan telur baik dalam bentuk cairan telur utuh, kuning atau putih saja, kuning telur bergula, cairan putih telur atau cairan telur dengan tambahan garam, ataupun campuran kuning dan telur dalam rasio tertentu. Dalam proses pembuatannya, telur cair dipisah anata putih dan kuning telur, kemudian diaduk masing-masing hingga homogen. Setelah itu mendapat perlakuan pasteurisasi sehingga terbebas dari mikroba patogen. Tetapi, karena pasteurisasi masih menyisakan sebagian mikroba pembusuk maka telur cair harus disimpan di dalam suhu 32oF. J. Tepung Telur (Telur Bubuk). Dengan membuat tepung telur dapat diperoleh beberapa keuntungan natara lain tahan lama, hemat tempat penyimpanan, mempermudah transportasi, risiko pecah tidak ada, tidak membutuhkan alat pendingin. Membuat tepung telur dapat dilakukan dengan 2 macam cara yaitu dengan Spray Drier dan Drum Drier. Dengan Spray Drier : Mula-mula telur dipecah dan dipisah antara kuning dan putih telur atau dicampur antara keduanya. Telur kemudian diaduk sebagai telur cair lalu dialukan fermentasi yang dimaksudkan untuk stabilitas rasa, aroma dan kelarutan. Setalah itu dilakukan pasteurisasi. Cairan telurnya menguap dan telur menjadi tepung. Bila dengan Drum Drier : Mula-mula telur cair yang telah diaduk difermantasi untuk stabilitas rasa, aroma dan kelarutan. Setalah itu dilakukan pasteurisasi. Setelah itu telur cair dialirkan ke dalam mesin yang telah dialiri uap panas, sehingga penguapan air pada telur agak lambat, yang mengakibatkan terjadi lapiran telur berupa kristal yangd isebut "Flake". Flake kemudian digiling menjadi tepung. Tepung telur bbiasanya diperdagangkan dalam kemasan dari karton yang dilapisi plastik. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : 1. Departemen Pertanian . Gema Penyuluhan Pertanian. Jakarta : Departemen Pertanian2. Suprapti, Lies. 2013.Pengawetan Telur : Telur Asin,Tepung Telur dan Telur Beku . Yogyakarta : Kanisius. (http://books.google.co.id/, diakses 28 Oktober 2014)