Sawah paling banyak menggunakan air. Air diperlukan banyak untuk melumpurkan tanah, untuk menggenangi petak pertanaman, dan untuk dapat dialirkan dari petak satu ke petak yang lain. Ini berarti sawah memberikan beban paling berat kepada sumberdaya air. Oleh karena tanah sawah bersuasana reduktif (anaerob).Oleh karena itu pengelolaan tanah dan air perlu diperhatikan dengan melakukan pengolahan tanah serta penggunaan teknologi system pengairan yang sesuai dengan kebutuhan, dalam artian penggunaan air dengan bijak. Pengolahan Tanah SawahSebenarnya pengolahan tanah sawah untuk padi hibrida sama dengan jenis varietas lainnya, namun terdapat beberapa hal yang berbeda. Penjelasan proses budidayanya adalah sebagai berikut : Tahapan Pengelolaan PembibitanPersiapan persemaianTahapan-tahapan ini meliputi penyediaan benih, persiapan persemaian, pemeliharaan penyemaian, pindah tanam serta pemeliharaan bibit. Untuk 1 Ha lahan dibutuhkan benih padi hibrida bernas sebanyak 15 Kg. untuk pengolahan tanahnya diolah dengan menggunakan bajak rotary setelah pembajakan pertama dengan bajak singkal. Selanjutnya setelah pelumpuran diberi pupuk dasar dengan menggunakan pupuk NPK, urea, dan KCl. Setelah dilakukan pemupukan dasar maka selanjutnya dilakukan pemerataan kembali lahan sawahnya, dan dibuat bedengan untuk benih dengan lebar 1,5 m, tinggi 10 cm, dan jarak antar bedeng 30 cm. untuk mengurangi dan mencegah gulma pada areal pembibitan diberi herbisida pra-tumbuh 3-4 sebelum semai. Pemeliharaan dan Penyemaian Proses selanjutnya adalah penyemaian dan pemeliharaan, dalam proses ini benih dibagi sesuai dengan bedengan yang telah dibuat. Pada padi hibrida menggunakan bedengan dengan ukuran tertentu seperti diatas, sedangkan di tingkat petani hanya melakukan penebaran benih di lahan pembibitan tanpa bedengan. Untuk penebaran benih dengan cara dibenamkan pada padi hibrida, pembenaman benih tidak dianjurkan terlalu dalam, dikhwatirkan benih sulit untuk berkecambah. Pada padi hibrida pupuk persemaian diberikan 10 HST dengan UREA 5 Kg/100m2. Sedangkan pada tingkat petani hanya dengan cara ditabur langsung benih yang telah disiapkan sebelumnya karena tidak menggunakan bedengan. Pindah TanamSebelum pindah tanam pada lahan tanam, lahan tanam diolah dengan bajak dan rotary hingga terjadi pelumpuran yang sempurna. Persiapan lahan dilakukan 1 minggu sebelum pindah tanam. Selanjutnya membuat parit untuk keluar masuknya air irigasi. Hal ini juga sama dengan yang dilakukan oleh petani pada umumnya. Lahan selanjutnya dipupuk dengan menggunakan pupuk dasar UREA 100 Kg, SP-36 50 Kg, dan KCl 100 Kg/Ha yang diberikan 3 hari sebelum tanam. Kita dapat lihat terdapat perbedaan pemberian pupuk dasar. Pada tingkat petani tidak menggunakan pupuk dasar SP-36. Pupuk SP-36 digunakan pada pemupukan lanjutan. Selanjutnya lahan lahan tanam digaris, tujuannya agar bibit yang akan ditanam sesuai dengan jarak tanam dan garis yang telah ditentukana. Jarak tanam juga bervariasi biasanya 20x25 cm ; atau 25x25 cm. Pemeliharaan Tanaman dan PengairanPengairan berselang (intermitten) difokuskan pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan hanya dilakukan di daerah yang pengairannya dapat diatur. Cara pengairan berselang adalah: sewaktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak. Secara berangsur-angsur lahan diairi setinggi 2-5 cm hingga tanaman berumur 10 HST; Lahan tidak diairi sampai 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari kemudian diairi kembali setinggi 5-10cm; Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi air setinggi 5 cm,selanjutnya lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen. Jadi selain bisa menghemat air, ternyata pada padi hibrida lebih banyak anakannya dibading jika menggunakan benih lainnya. Penyunting : Yulia Tri SedyowatiEmail : yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber:1. Didiek Setiobudi, 2008, Teknik Pengelolaan Air Pada Padi Hibrida, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.2. http://andikaseptaa.blogspot.com/2012/10/pengelolaan-tanah-dan-air-untuk-tanaman_1177.html