Efisiensi pemanfaatan air irigasi masih merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia. Di sepanjang saluran irigasi sekunder masih terjadi kehilangan air dalam jumlah yang relatif besar sehingga debit air yang masuk ke petak tersier menjadi berkurang. Di sisi lain, petani umumnya memasukkan air ke petakan sawah secara berlebihan hingga mencapai tinggi genangan 10 cm, padahal tanaman padi yang diairi dalam selang waktu tertentu (intermittent drainage) memberi hasil yang relatif sama tingginya dibanding kalau tanaman diairi secara terus-menerus. Bahkan hasil padi tidak berkurang jika lahan dibiarkan tidak menggenang selama beberapa hari setelah 2-3 hari dalam keadaan macak-macak. Penelitian di lahan sawah irigasi di Subang Jawa Barat menunjukkan pula bahwa tanaman padi yang diairi 9 hari sekali tidak berbeda hasilnya dengan yang diairi setiap hari. Apabila pengairan secara macak-macak dapat diimplementasikan oleh petani, terutama sejak tanaman berumur 36 hingga 85 hari setelah tanam, maka jumlah air irigasi yang dapat dihemat mencapai 40%. Kalau sumber irigasi berasal dari waduk maka kelebihan air dapat dimanfaatkan untuk mengairi tanaman pada musim tanam berikutnya. Berikut beberapa implementasi dan penjelasan yang dapat diterapkan dalam meningkatkan efisiensi pemanfatan air irigasi. 1. Implementasi pada lahan sawah tadah hujan melalui 1.1. Embung; pengairan tanaman pada musim kemarau dapat melalui pemanfaatan air limpasan hujan yang ditampung di kolam penampung air atau lebih populer disebut embung. Pada musim hujan, kolam dapat dimanfaatkan bagi pemeliharaan ikan. Teknologi embung telah berkembang di kalangan petani di Kabupaten Pati dan Rembang Jawa Tengah. Data penelitian di Pati menunjukkan keuntungan yang diperoleh dari penerapan teknologi embung mencapai sekitar 50% lebih tinggi daripada tanpa embung. Cara lain yang dilakukan untuk memanfaatkan air tanah adalah membuat 1.2.Sumur bor di areal pertanaman. Sumur dilengkapi dengan pompa air untuk menaikkan air ke permukaan. Untuk menggerakkan pompa digunakan mesin traktor pengolah tanah. Selain dapat menyelamatkan tanaman dari ancaman kekeringan pada musim kemarau, cara itu juga dapat meningkatkan intensitas tanam dari satu kali (padi) menjadi dua kali (padi-padi), atau bahkan tiga kali setahun (padi-padi-palawija). 2. Keterbatasan kesediaan air irigasi; Tanaman padi membutuhkan banyak air. Pengelolaan air pada padi sawah merupakan upaya untuk menekan kehilangan air dipetakan sawah guna mempertahankan atau meningkatkan hasil gabah per satuan luas dan volume air. Pengurangan air akibat perkolasi, rembesan, dan aliran permukaan dapat menekan penggunaan air irigasi. Ketersediaan air irigasi untuk budidaya padi sawah makin terbatas karena :a).Bertambahnya penggunaan air ). untuk sektor industri dan rumah tangga. b). Durasi curah hujan makin pendek akibat perubahan iklim. c). Cadangan sumber air lokal juga berkurang dan, d). Terjadinya pendangkalan waduk. 3. Strategi penghematan air sawah irigasi; diprioritaskan pada musim kemarau di aliran irigasi yang biasanya rawan kekeringan. Adapun alternatif strategi yang bisa dilakukan adalah: a). pemilihan varietas dan metode pengelolaan air (metode macak – macak, gilir giring dan alternasi basah kering). Dengan cara ini areal sawah yang dapat diairi pada musim kemarau menjadi 2 kali lebih luas. b). Pemilihan Varietas Umur Genjah dan atau Toleran Kekeringan; Umur varietas padi sawah berpengaruh terhadap tingkat konsumsi air. Makin pendek atau genjah (90 – 100 hari) umur tanaman padi, makin sedikit total konsumsi air bila dibanding dengan varietas padi sawah berumur lebih panjang (> 125 hari). Beberapa ciri varietas padi sawah yang relatif toleran terhadap kekurangan air adalah : laju transpirasi rendah dan air daun potensial tetap tinggi pada kondisi tanah kekurangan air,dan bersifat ampibi yaitu bisa ditanam pada lahan sawah dan kering 4. Rekomendasi Pengelolaan Air Berdasar Spesifik Lokasi: Penerapan pemanfaatan air irigasi bervariasi antara satu wilayah irigasi dengan wilayah irigasi lain karena perbedaan karakteristik berikut :a). distribusi curah hujan, b). kondisi infrastruktur jaringan irigasi, c). Tingkat kerawanan kekeringan, d). Parameter fisika tanah. e). hidrologi lahan. f). Teknik budidaya. g).Cara pengairan dari petak ke petak,h). Organisasi pemakai air 5. Tujuan Pengaturan air yang efisien adalah untuk: a). Meningkatkan intensitas tanam / memperluas tanam. b).Mengurangi kebutuhan debit air 15 harian. c). Mengurangi kebutuhan air untuk pertanaman padi secara total. Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yaho.co.id Sumber :Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.2013. Pengelolaan Air Irigasi Untuk Efisiensi. Kementerian Pertanian.