PENGELOLAAN AIR SISTEM BASAH KERING LAHAN SAWAH PADA KEGIATAN SL-UPSUS PADI DI DESA SIDOMAKMUR KECAMATAN TANALILI
Pada dasarnya tanaman padi tidaklah memerlukan kondisi tergenang, bahkan penggenangan tidak baik pada tanaman padi dibandingkan dengan pemberian air secukupnya. Padi irigasi adalah pengguna air yang boros, yaitu menggunakan air 5000 liter air untuk menghasilkan 1 kg padi. Bila kondisi jenuh air bisa dipertahankan sepanjang pertumbuhannya, dapat menghemat air 40% air ditanah liat berlempung, tanpa pengurangan hasil. Penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi gulma merupakan masalah yang serius, penggenangan kontinyu sampai terbentuknya malai, dan penjenuhan kontinyu setelah itu dapat mengurangi penggunaan air sebesar 30–35% dibanding dengan digenangi terus menerus.Di Desa Sidomakmur, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara dilaksanakan pengakajian sistem Pengairan Basah Kering (PBK) dengan menggunakan pipa paralon (PVC) untuk mengukur tingkat ketersediaan air didalam tanah yang dapat dimanfaatkan tanaman padi sawah. Pengairan Basah Kering (PBK) dengan alat bantu pipa PVCPrinsip dari penerapan PBK adalah memonitor kedalaman air dengan menggunakan alat bantu berupa pipa PVC, Kegiatan ini melibatkan 20 orang petani kooperator dengan membagi dua lahan petani yaitu satu petak dipasang pipa PVC dan satu petak lagi dengan pengelolaan air cara petani. Pipa sepanjang 35 cm dengan diameter 21/5-3 inch dengan membuat lubang-lubang kecil setinggi 20 cm, pipa tersebut ditanam pada petakan sawah sedalam 20 cm dan pipi diatas permukaan tanah setinggi 15 cm.Setelah lahan sawah diairi kedalaman air akan menurun secara oradual ketika kedalaman air mencapai 15 cm dibawah permukaan tanah lahan sawah kembali di airi sampai ketinggian 5 cm. Pengamatan dilakukan setiap 3 hari untuk memantau kondisi air didalam pipa PVC. Bila air didalam pipa PVC masih setinggi 5 cm atau lebih, maka petakan sawah belum diberi air. Batas aman penggunaan air pada tanaman padi sawah adalah dengan ketinggian maksimal 15cm dari permukaan tanah namun jika tidak demikian kekhwatiran akan menurunkan hasil produksi karena ketersidan air merupakan inti dari kehidupan seluruh mahkluk hidup, khususnya tanaman padi,karena batas kemampuan akar merap air dari zona perakaran adalah 15 cm dari permukaan tanah.Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peningkatan jumlah anakan per rumpun yang diperoleh petani kooperator dengan perlakuan sistem (PBK) rata-rata lebih tinggi sekitar 30-40 anakan, selain peningkatan anakan yang diperoleh dengan pengelolaan system Pengaiara Basah Kering (PBK), pertumbuhan tanaman lebih sehat dan seragam dan yang lebih penting lagi yaitu penghematan air yang berimplikasi pada peningkatan luas tanam. Pengelolaan air dengan sistem Pengairan Basah Kering (PBK) telah mendapat respon yang positif baik dari petani, kelompok tani dan pemerintah. Di Desa Sidomakmur Kecamatan Tanalili Kabupaten Luwu Utara petani sangat merespon pengelolaan air dengan sistem Pengairan Basah Kering ini,kegiatan ini cocok dilaksanakan pada daerah irigasi teknis, setengah teknis dan sawah pompanisasi. Oleh : Yustin Penyuluh WKPP Desa Sidomakmur Kec. TanaliliBalai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tanalili