Hama tikus merupakan salah satu hama yang dapat merusak tanaman padi dan menyebabkan gagal panen. Gejala serangan terdapat tanaman padi yang terpotong -potong, terdapat bekas keratan/gigitan. Serangan hama tikus dimulai dari tengah petakan sawah dan dapat menyerang tanaman padi mulai dari pembibitan sampai panen. Kerugian yang diakibatkan oleh hama tikus dari ringan hingga gagal panen. Tanda kehadiran tikus - Terdapat feses atau kotoran - Kerusakan : akibat aktivitas mengerat - Tanda : Jejak kaki (foot print) di tanah sawah - Lubang aktif . Tanda lubang aktif vegetatif : licin dan basah karena digunakan untuk tempat tinggal tikus Tanda lubang aktif generatif : ditutupi dengan tanah dan terdapat banyak lubang lagi di dalamnya yang digunakan untuk berkembang biak. Pergerakan tikus dilakukan pada malam hari untuk mencari pakan, minum, pasangan dan orientasi kawasan. Aktivitas harian tikus mencapai 200 m per malam dan dapat mencapai 2 km ketika tidak ada sumber makanan. Pada fase vegetatif tikus hidup secara soliter, namun ketika fase generatif hidup berpasangan di dalam lubang. Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut Pengendalian secara kultur teknis - menanam jenis komoditas dan varietas yang sama secara serempak (minimal 100 ha) - Pengaturan jarak tanam lebih lebar dari biasanya - Meminimalisas ukuran pematang dan tanggul Sanitasi Membersihkan rerumputan yang berada di pertanaman (tikus kehilangan tempat sembunyi dan sumber pakan alternatif) Secara fisik dan mekanik Secara fisik dengan melakukan gropyokan secara berkala dan konsisten. Secara mekanik menggunakan sistem bubu TBS (Trap Barrier System) Musuh alami Menggunakan burung hantu sangat efektif untuk mengendalikan tikus. Dapat dilakukan dengan cara membuat sarang/rumah burung hantu (rubuha) di areal persawahan. Juwita Suri Maharani