Loading...

Pengelolaan Hara Tanaman Jagung

Pengelolaan Hara Tanaman Jagung
Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memiliki banyak fungsi. Selain sebagai bahan pangan utama bagi manusia, jagung juga merupakan bahan baku industri makanan serta sebagai bahan baku pakan, khususnya ternak unggas. Tanaman jagung dikenal sebagai tanaman yang rakus hara. Jika ditanam pada lahan yang kurang subur, akan memperlihatkan gejala yang mudah diamati, seperti pertumbuhan kerdil dan tidak menghasilkan buah/tongkol. Untuk itu, dalam usahatani jagung sangat penting memperhatikan pengelolaan hara. 1. Mengapa Pengelolaan Hara Penting? Pengelolaan hara penting dilakukan untuk menjamin ketersediaan hara yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung sehingga menghasilkan produksi yang optimal. Prinsip pengelolaan hara dilakukan melalui praktek pemupukan berimbang dengan memperhatikan kesuburan tanah setempat. 2. Hara yang Dibutuhkan Tanaman Jagung Untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya, tanaman jagung membutuhkan 13 unsur hara melalui tanah, yaitu: N, P, K, Ca, Mg, Cl, S, Fe, Mn, Zn, Cu, B, dan Mo. Dari ke 13 unsur tersebut, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: • Unsur hara primer Unsur hara primer merupakan kelompok unsur makro, dengan jumlah kebutuhan tanaman akan kelompok unsur ini cukup banyak. Termasuk dalam kelompok ini adalah unsur N, P dan K. Jika tanaman kekurangan ketiga unsur ini akan memperlihatkan pertumbuhan yang terhambat dan bahkan tidak dapat berproduksi • Unsur hara sekunder Unsur hara sekunder merupakan kelompok unsur hara makro, namun jumlah yang diperlukan dalam jumlah sedang. Termasuk dalam kelompok ini adalah unsur Ca, Mg, dan S. • Unsur hara mikro Unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit tetapi harus tersedia. Termasuk dalam kelompok ini yaitu unsur: Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. 3. Bagaimana Menentukan Kebutuhan Hara Tanaman Jagung? Menentukan kebutuhan hara tanaman jagung erat kaitannya dengan pemberian pupuk. Untuk tanaman jagung, pupuk yang diberikan umumnya mengandung hara makro primer, yaitu N, P dan K. Untuk menentukan kebutuhan hara dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya melalui penggunaan Bagan Warna Daun (BWD). Inovasi Bagan Warna Daun (BWD) dihasilkan International Rice Research Institute (IRRI). Inovasi ini memiliki skala warna 2-5, terdiri dari warna kuning-kehijauan sampai hijau tua. Penggunaan BWD untuk mengetahui takaran pupuk N (Urea). Cara penggunaan BWD pada tanaman jagung sebagai berikut: • Pilihlah 20 tanaman pada petak lahan secara acak. Daun yang akan diamati warnanya adalah daun yang telah terbuka sempurna atau daun ketiga dari atas, • Lindungi daun yang akan diamati warnanya dengan cara membelakangi matahari, sehingga daun atau plat BWD tidak terkena sinar matahari langsung. • Letakkan daun di atas BWD. Bagian daun yang dipantau adalah sekitar 1/3 dari ujung daun, kemudian bandingkan warna daun dengan warna BWD, skala yang paling sesuai dengan warna daun dicatat. • Jika warna daun berada diantara skala 2 dan 3 gunakan nilai 2,5; jika diantara 3 dan 4 gunakan nilai 3,5; dan jika diantara 4 dan 5 gunakan nilai 4,5. • Rata-ratakan nilai skala dari 20 daun yang diamati. Nilai rata-rata skala digunakan untuk menentukan tambahan takaran pupuk Urea. • Takaran pemupukan Urea perhektar yang digunakan: - Skala 4,0 sebanyak 192 kg /hektar- Skala 4,1 sebanyak 174 kg/hektar- Skala 4,2 sebanyak 155 kg/hektar- Skala 4,3 sebanyak 133 kg/hektar- Skala 4,4 sebanyak 107 kg/hektar- Skala 4,5 sebanyak 70 kg/hektar- Skala 4,6 sebanyak 0 kg/hektar 4. Kapan dan Bagaimana Cara Memberikan Pupuk yang Tepat? a. Pemupukan N Pemupukan N biasanya dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan Karena pupuk N umumnya mudah larut baik melalui air ataupun udara. Pemberian dilakukan sebanyak dua atau tiga kali. Untuk pemupukan dua kali, takaran yang digunakan: 1/3 bagian diberikan pada saat tanam, dan sisanya (2/3 bagian) diberikan pada saat taaman berumur 30 hari setelah tanam. Sedangkan pada pemupukan N tiga kali, pemupukan dilakukan pada pada saat tanam, tanaman berumur 30 dan 45 hari setelah tanam. Pemupukan N sebaiknya dilakukan dengan cara tugal atau larik, karena dengan cara ini dapat menghemat 55-66% pupuk N dibanding cara sebar atau siram (urea dilarutkan). b. Pemupukan P Pupuk P sebaiknya diberikan semuanya pada awal tanam. Pupuk P sebaiknya diberikan dengan cara larikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian secara larikan lebih efektif satu kali lipat dibanding secara tugal. Pemberian 60 kg P2O5/ha secara larik memberikan hasil yang setara dengan 120 kg P2O5 secara tugal c. Pemupukan K Pemupukan K diberikan dalam bentuk pupuk KCl. Pada tanah Ultisol, pupuk K lebih baik diberikan secara bertahap, yaitu 1/2 takaran pada awal tanam dan 1/2 takaran pada 45 hari setelah tanam. Namun jika pada tanah berkapur pemupukan sebaiknya dilakukan pada saat penanaman. Cara pemberian sebaiknya dilakukan secara larikan dan tugal. Sumber : Syafruddin, Faesal, dan M.Akil. 2007. Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung. Dalam: Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com