Lahan merupakan faktor penting dalam pembangunan pertanian. Namun saat ini banyak lahan pertanian yang telah beralih fungsi. Menjadi kawasan industri dan perumahan misalnya. Untuk itu, para pelaku pertanian harus mengelola lahan peraniannya dengan baik.Menurut pengertiannya, lahan (land) atau sumberdaya lahan (land resources) adalah lingkungan fisik yang terdiri dari relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan tanah. Menurut pengertian tersebut, lahan atau sumberdaya lahan merupakan sebuah ekosistem. Mengapa? Karena di lahan terjadi hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan dengan lingkungannya. Seiring meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber pangan, serta untuk menjaga kualitas dan kelestarian lahan, maka penting dilakukan pengelolaan lahan yang efektif, efisien, optimal. Kegiatan pengelolaan penting dilakukan untuk menjaga dan mempertinggi produktivitas lahan tersebut dengan mempertimbangkan kelestariaannya. Dalam sistiem pertanian berkelanjutan, pengelolaan lahan merupakan salah satu komponen pengelolaan teknologi pertanian. Mengapa demikian?. Karena sistim pertanaman intensif dapat mengarah pada pertukaran antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan kerusakan lingkungan seperti menurunnya kesuburan tanah dalam jangka panjang. Kegiatan pengelolaan lahan bertujuan untuk (1) mengatur pemanfaatan sumberdaya lahan pertanian secara optimal; (2) mendapatkan hasil maksimal; dan (3) mempertahankan kelestarian sumberdaya lahan.Dalam mengelola lahan pertanian dapat dilakukan beberapa cara, diantaranya: 1. Mengelola Kesuburan Tanah Mengelola kesuburan tanah merupakan langkah untuk menjaga agar tanah tetap subur. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola kesuburan tanah, diantaranya: a. Sistem bera Sistem bera dilakukan pada lahan yang sudah diolah cukup lama dan tidak subur lagi. Caranya, biasanya lahan diistirahatkan (tidak ditanami) dalam satu musim tanam. Dalam pelaksanaannya, petani sebaiknya membagi lahannya menjadi dua bagian, satu bagian diberakkan dan satu bagian tetap digarap untuk memenuhi kebutuhan keluarga. b. Olah jalur dan olah lubang Olah jalur dan olah lubang merupakan cara pengolahan tanah secara terbatas dalam satu jalur bagian lubang tanam yang akan ditanami. Cara ini umumnya dilakukan pada lahan kering. Selain membantu mengendalikan eorsi, olah jalur juga akan sangat membantu dalam menjaga kelembaban tanah, karena air hujan akan dapat bertahan dalam jalur. 2. Menentukan Pola Tanam Menentukan pola tanam atau kalender tanam, umumnya dilakukan dengan meganalisa kesesuaian lahan dan iklim tanaman dalam satu tahun. Penentuan pola tanam sangat penting dan erat kaitannya dengan kondisi iklim, khususnya terkait musim hujan. Cara yang dilakukan untuk menentukan pola tanam umumnya dengan mempertimbangkan hasil analisis ketersediaan air, periode pertumbuhan, dan kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan. 3. Menentukan Sistim Tanam Penentuan sistem tanam erat kaitannya dengan efisiensi penggunaan lahan yang disesuaikan dengan kesuburan tanah dan ketersediaan air. Ada beberapa sistem tanam yang dapat digunakan, diantaranya: Kebun pekarangan, (2) Sistem monokultur, (3) tumpang sari, dan (4) rumput hutan (kehutanan dan peternakan, Pengembangan sistem ini dapat berhasil di daerah yang petaninya mempunyai ternak, tapi tidak ada ladang untuk penggembalaan. Selain sebagai pakan ternak, rumput berfungsi sebagai pencegah erosi yang ditanam sebagai penutup tanah, penguat teras dan guludan serta penguat tebing-tebing pada tanah yang miring. Dalam usaha pertanian, rumput dapat dimanfaatkan sebagai mulsa dan pupuk kompos) 4. Mengelola Hara Tanaman Dalam mengelola lahan melalui pengelolaan hara tanaman, dilakukan dengan: (1) menentukan kebutuhan hara; (2) mengelola hara berimbang dan terpadu; dan (3) mempertahankan kandungan hara dalam tanah. 5. Mengelola Pengairan Dalam pengelolaan lahan pertanian, tidak akan terlepas dari pengelolaan pengairan dan tata irigasi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaga ketersediaan air bagi tanaman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola pengairan diantaranya: a. Sumber AirSumber air bagi tanaman diantaranya dapat berasal dari air tanah yang tersedia di lahan, air sumur, atau air hujan. b. Cara Pemberian Untuk pengelolaannya, air sumur dapat diberikan langsung (menyiram) atau dengan menggunakan saluran irigasi tetes. Sedangkan untuk mengelola air hujan dapat dibuat embung untuk menampung dan menyimpan air. c. Saluran Pengendali AirSaluran pengendali air umumnya dibuat pada daerah-daerah dataran tinggi, yang bertujuan untuk mengendalikan aliran permukaan. Saluran pengendali air dibuat pada teras gulud, teras bangku dan teras sepanjang garis kontur untuk memang aliran permukaan dan mengalirkannya ketempat pengeluaran yang sesuai. 6. Menerapkan Prinsip Pertanian OrganikPenerapan prinsip pertanian organik dalam pengelolaan lahan erat kaitannya dengan upaya mengurangi kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida. Upaya penerapan pertanian organik diantaranya dengan memanfaatkan bahan organik. Bahan organik tanah umumnya berasal dari bahan jaringan tanaman, jaringan hewan dan produk tanaman lainnya. Sisa tanaman yang dapat digunakan sebagai pupuk diantanya jerami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jerami 5 t/ha secara nyata dapat meningkatkan produksi padi dan mampu mensubstitusi pupuk KCl 50 kg/ha. Apabila jerami dikomposkan terlebih dahulu, takaran anjuran kompos jerami adalah 2 t/ha. Penyusutan dari jerami segar menjadi kompos berkisar 40-50%. Dari ternak, kotoran ternak merupakan limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Dari berbagai jenis kotoran ternak, umumnya petani lebih menyukai kotoran ayam, karena kandungan nitrogennya lebih tinggi dibandingkan kotoran ternak lain. Sumber : Adimihardja.A.,Mappaona, Arsil Saleh. 2002. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.Anynomous. 1997. Kumpulan Informasi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia. Jakarta.Anynomous. 2005. Pupuk organik tingkatkan produksi pertanian. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr276057.pdf.Sumarno. 2006. Pemanfaatan jerami untuk pupuk kandang. http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/2/file/Bagian-Ketiga.pdf..Djaenuddin, D., H. Marwan, H. Subagyo, A. Mulyani, N. Suharta. 2003. Kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Bogor. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com