Loading...

Pengelolaan Nitrogen dalam Pengendalian Penyakit Tungro pada Padi Sawah

Pengelolaan Nitrogen dalam Pengendalian Penyakit Tungro pada Padi Sawah
Pengelolaan Nitrogen dalam Pengendalian Penyakit Tungro pada Padi SawahTungro merupakan salah satu penyakit penting padi di Asia tropis yang bersifat endemis dan hingga saat ini masih menjadi pembatas bagi stabilitas produksi padi. Tungro disebabkan oleh interaksi antara dua virus yang berbeda, yaitu Rice tungro bachiliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV) yang keduanya efektif ditularkan oleh wereng hijau sebagai vektor utamanya, Nephottetix virescens (Cruz et al. 2003). Dalam upaya peningkatan produksi beras nasional, varietas unggul padi sawah merupakan kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di Indonesia (Susanto et.al 2003). Varietas yang ideal memiliki karakter jumlah anakan sedang namun semua produktif (12-18 batang),batang kokoh dan pendek, umur genjah, daun tegak dan sempit, berbentuk hurup V, berwarna hijau dan sampai hijau tua, akar banyak, dalam dan menyebar sesuai kondisi iklim di Indonesia. Dengan beberapa sifat morfologis tersebut diharapkan varietas unggul mampu berproduksi 9 ton GKG/ha (Abdullah et al.2008).Di Indonesia padi sawah merupakan tanaman penyerap N lebih besar dibandingkan dengan jenis tanaman lain. Pemberian hara N secara berkelanjutan selalu dibutuhkan pada setiap musim, baik dalam bentuk organik maupun an-organik, karena kandungan N tanah pada umumnya rendah. Permasalahan muncul jika pemberian hara N terlalu berlebihan tanpa diimbangi dengan sistem pengelolaan tanaman secara tepat agar aman dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Ledakan hama dan penyakit sering terjadi pada pertanaman padi sawah beririgasi di daerah endemis yang menggunakan unsur hara N dosis tinggi. Pengaruh negatif dari penggunaan N dosis tinggi adalah melemahnya jaringan tanaman (succulent) sehingga lebih peka terhadap serangan hama dan penyakit. Hal tersebut tentu saja berdampak pada penurunan produktivitas, produksi tidak stabil dan berakibat kepada penurunan pendapatan. Perbaikan sistem produksi padi khususnya dalam penggunaan N perlu dilakukan untuk mencegah dan menekan kerugian tersebut (Makarim et al. 2007). Pemberian N yang berlebih menyebabkan tanaman padi menjadi lemah dan mudah terserang serangga vektor sehingga memungkinkan terjadi infeksi virus tungro. Selain itu juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi lebih rapat sehingga menyediakan lingkungan yang sesuai bagi kelangsungan hidup vektor serta mempermudah penularan dan penyebaran virus tungro (Praptaana dan Yasin 2008).Penggunaan N berkontribusi terhadap proses biologi dan epidemi penyakit tungro, sehingga perlu pengelolaan yang bijaksana, diintegrasikan dengan semua komponen pendukung kondisi tanaman dan agroekosistem yang sehat. Insidensi penyakit tungro merupakan hasil interaksi antara tanaman, virus tungro, vektor dan lingkungan, sehingga penggunaan N terlibat dalam dinamika penyakit tungro. Ketepatan penggunaan N dalam pengelolaan tanaman terpadu dan pengendalian tungro terpadu perlu didasari oleh pemahaman peran N terhadap tanaman serta interaksinya dengan insidensi penyakit tungro.Pengaruh pemberian N terhadap tanaman terlihat dari perubahan morfologi tanaman secara visual. Peran utama N bagi tanaman padi diantaranya untuk merangsang pertumbuhan pada fase vegetatif (batang dan daun), meningkatkan jumlah anakan dan bulir per rumpun. Kekurangan N pada tanaman padi akan berakibat pertumbuhannya terhambat (kerdil), daun menguning, dan sistem perakaran terbatas. Namun apa bila kelebihan unsur N akan menyebabkan pertumbuhan vegetatif lebih lama (terlamabat panen), tanaman mudah rebah, penurunan kualitas bulir dan respons yang tinggi terhadap serangan hama dan penyakit (Makaraim et al.2007).Dalam upaya peningkatan produksi padi diperlukan program manajemen pemupukan N spesifik lokasi. Dengan pengurangan pupuk N 32% diperoleh hasil peningkatan produksi gabah 5%. Selain itu terjadi pengurangan kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit serta terjadi ketahanan tanaman dari kerebahan dengan aplikasi N di bawah optimal (Peng et al.2010). Mengdiagnosis kebutuhan N berdasarkan warna daun merupakan salah satu langkah dalam manajemen pemupukan sebagai dasar dalam menentukan rekomendasi aplikasi N yang akurat. Mengoptimalkan dan mencegah aplikasi N berlebihan melalui penggunaan bagan warna daun (BWD) dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi dan perbaikan lingkungan (Norton et al. 2010). Pemupukan merupakan komponen penting dalam pencapaian produksi sekaligus dapat mempengaruhi respons tanaman padi terhadap hama dan penyakit akibat perubahan iklim mikro di bawah kanopi tanaman. Penggunaan pupuk berimbang secara tidaklangsung dapat mempengaruhi populasi wereng hijau dan insidensi tungro. Aplikasi pupuk berimbang dapat membantu tanaman padi menjadi lebih tahan terhadap hama dan penyakit (Chau et al.2003). Tiga hal penting dalam rangka pengendalaian penyakit tungro adalah : 1) bentuk N yang diberikan berhubungan dengan pengurangan kerentanan tanaman terhadap vektor yang secara sinergis dapat dipadukan dengan penggunaan varietas tahan, 2) ketepatan dosis atau berdasarkan diagnosis kebutuhan N, 3) waktu aplikasi berkaitan dengan tingkat kepadatan populasi vektor dan penuran virus tungro dengan susmber inokulum. Ruslia Atmaja - ppmkp ciawi/bppsdmpSumber : Iptek Tanaman Pangan Vol 8 No 2 Des 213 Puslitbang Tanaman Pangan.