Padi selain ditanam pada lahan sawah tanaman padi juga bisa dibudidayakan pada lahan kering atau sering kita sebut dengan budidaya padi gogo rancah. Pada sistem budidaya padi gogo rancah seolah-olah kita anggap tanaman padi seperti tanaman palawija. Sehingga kebutuhan air dalam sistem ini sangatlah minim. Sistem budidaya padi gogo biasanya dilakukan pada tanah-tanah yang kering atau tanah tadah hujan. Kelebihan sistem tanam gogo rancah dibanding sistem sawah diantaranya adalah penghematan tenaga kerja tanam, penghematan tenaga kerja pemeliharaan dan tentunya lebih menghemat waktu. Adapun kekurangan cara tanam gogo rancah adalah produksi yang dihasilkan tidak sebesar dengan sistem tanah sawah.Upaya peningkatan luas panen, produktivitas dan produksi salah satunya dilakukan melalui penerapan teknologi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Pengolahan TanahPengolahan tanah sagatlah berbeda jika dibandingkan dengan pengolahan padi jenis yang lain, sebab padi gogo ditumbuhkan pada lahan kering. Pengolahan tanah dilakukan 2 kali, pengolahan tanah pertama dilakukan pada musim kemarau atau setelah turun hujan pertama, dan pengolahan kedua saat menjelang tanam, Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul, atau traktor atau ternak secara disingkal, Kemudian lahan dibiarkan atau dikelantang, Apabila sudah turun hujan terus menerus atau kontinyu yang memungkinkan untuk tanam, lahan diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan sambil meratakan tanah sampai siap tanam, Apabila kondisi lahan berlereng sampai bergelombang, setelah pengolahan tanah pertama lakukan pembuatan teras gulud atau perbaikan teras yang rusak (konservasi lahan). Sedangkan jika pengolahan tanah pada jenis padi biasa tidak perlu menggunakan guludan, sebab tanah dilumpurkan.Pada guludan atau bibir teras usahakan menanam tanaman penguat teras berupa rumput unggul dan dapat dikombinasikan dengan tanaman legume pohon, sehingga secara periodik dapat dipangkas untuk pakan ternak. Pada lahan yang terbuka dan relatif datar perlu dibuat bedengan memanjang, dengan lebar bedengan sekitar 5 meter. Antara bedengan di buat saluran sedalam 20 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase, Pembuatan drainase sangat diperlukan, karena bila terjadi hujan terus menerus pada beberapa tempat akan terjadi genangan yang menyebabkan kelembaban tanah yang tinggi yang dapat merangsang munculnya jamur upas yang dapat menyerang padi gogo.PenanamanDi lahan kering, kegiatan tanam baru dapat dilakukan bila curah hujan sudah cukup stabil atau curah hujan mencapai 60 mm /dekade (10 hari), biasanya dicapai pada akhir bulan Oktober sampai akhir Nopember, Penanaman benih padi gogo menggunakan alat bantu tugal, Benih ditanam dengan kedalaman sekitar 5 cm (cukup dalam untuk menghindari dari gangguan semut, dll), kemudian ditutup dengan tanah, Dianjurkan untuk menanam lebih dari 3 (tiga) varietas padi gogo dan setiap varietas ditanam pada bedengan yang berbeda (Sistem mozaik). Penanaman dengan sistem mozaik akan mengurangi terjadinya ledakan penyakit blas. Penanaman sebaiknya menggunakan sistem tanam jajar legowo (2:1 atau 4:1) dengan jarak tanam 30 x 20 x 10 cm, Untuk membuat larikan sistem legowo dapat dibantu dengan alat semacam caplak untuk padi sawah yang mempunyai 4 titik/mata berjarak 20 cm dan 30 cm, ditambah 2 titik paku berjarak 6-7 cm, dengan ketinggian tersebut pada saat operasional, alat akan membentuk 4 larikan dengan kedalaman 4-5 cm dan 2 garis paling pinggir sebagai panduan untuk operasional alat selanjutnya, Bila keadaan lahan tidak datar atau berlereng, sebaiknya pengaturan barisan tanaman harus memotong lerang, agar bila terjadi hujan yang relative tinggi dapat mengurangi terjadinya aliran permukaan yang menyebabkan erosi, Setelah terbentuk larikan dengan jarak tanam legowo, benih ditanam sebanyak 4-5 butir/lubang, kemudian ditutup dengan tanahPemupukanPemberian pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Waktu pemupukan menunggu sampai kondisi lahan dalam keadaan lembab. Bila dilakukan dalam kondisi kering, maka kadar air tanah dan yang ada di jaringan tanaman juga akan terserap oleh pupuk yang diberikan. Bila hal itu terjadi dan berlangsung lama akan terjadi plasmolisis dan tanaman akan layu bahkan dapat mematikan tanaman. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi dengan menggunakan bagan warna daun (BWD). Secara umum pupuk yang diperlukan untuk padigogo adalah : 90 kg N/ha (200 kg Urea/ha), 36 kg P2O5/ha (100 kg SP36/ha), 60 kg K2)/ha (100 kg KCl/ha), Waktu pemupukan adalah; 10-15 hst dengan jenisdan takaran pupuk yang diberikan adalah 50 kg Urea, 100 kg SP 36, dan 100 kg KCl/ha, Pupuk urea susulan diberikan sesuai BWD.PemeliharaanUntuk mengurangi kerugian akibat dari gangguan hama dan penyakit, perlu dilakukan strategi pengendalian yang terencana, dengan menerapkan konsep pengendalian hama secara terpadu (PHT), Monitoring secara terjadwal harus dilakukan agar keberadaan hama dan penyakit bisa diketahu sejak awal, Untuk mengurangi penyakit blas (penyakit utama pada padi gogo) gunakan varietas tahan penyakit, Pengendalian gulma pada pertanaman padi gogo sebaiknya dilakukan lebih awal, yaitu pada umur 10- 15 hari setelah tanaman tumbuh atau menjelang pemupukan pertama. Penyiangan kedua dilakukan pada umur 30-45 hari atau menjelang pemupukan susulan pertama, Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan kored. Sebaiknya ada atau tidak adanya gulma tanah tetap dikored, agar sedikit dapat memotong akar.Perbedaan paling nyata adalah pada pengelolaan padi gogo, dimana pengelolaan dilaku kan pada lahan kering.Penyunting : Yulia Tri SedyowatiEmail : yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber:1. BPTP. 2009. Pengelolaan Sumber Daya Terpadu (PTT) Padi Gogo. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Barat.2. http://andikaseptaa.blogspot.com/2012/10/pengelolaan-tanah-dan-air-untuk-tanaman_1177.html