Pemanfaatan lahan rawa merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencapai swasembada pangan. Lahan rawa sebagian besar terdapat di empat pulau besar di luar Jawa, yaitu Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta sebagian kecil di Pulau Sulawesi. Lahan rawa lebak merupakan salah satu sumberdaya yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian tanaman pangan khususnya padi. Beragam teknologi pertanian untuk mengoptimalkan lahan rawa telah dikembangkan Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian, dan berbagai Universitas. Teknologi tersebut diantaranya berbagai varietas unggul adaptif, pengelolaan lahan dan air, pengelolaan bahan amiliorasi dan pemupukan sesuai status hara tanah dan tipologi lahan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta pengelolaan panen dan pasca panen. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pada lahan rawa lebak merupakan inovasi yang telah dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sama halnya dengan PTT padi sawah, penerapan PTT padi lahan rawa lebak didasarkan pada emapt prinsip, yaitu: 1. PTT bukan merupakan teknologi atau paket teknologi, melainkan merupakan pendekatan dalam pengelolaan tanaan, lahan dan air dengan sebaik-baiknya2. PTT memanfaatkan teknologi pertanian yang sudah dikembangkan dan diterapkan dengan memperhatikan unsur keterkaitan sinergi antar teknologi3. PTT memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial ekonomi petani4. PTT bersifat partisipatif yang berarti petani turut serta menguji dan memilih teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat melalui proses pembelajaran. Teknologi Unggulan Padi Rawa LebakDalam pendekatan PTT padi rawa lebak, ada beberapa acuan komponen teknologi untuk dirakit menjadi paket teknologi, teknologi tersebut adalah: • Varietas unggul baruVarietas unggul baru memiliki sifat potensi hasil yang tinggi, tahan rendaman, tahan hama penyakit, tahan kekeringan atau berumur genjah dan disukai petani. Beberapa varietas yang memiliki sifat tersebut adalah: Barito, Mahakam, Kapuas, Banyasin, Batanghari, Air Tenggulang, Siak Raya, Fatmawati, Ciherang, Cisokan, Batang Piaman, Batang Lembang, dll. Dan saat ini telah banyak dihasilkan varietas unggul untuk lahan rawa, yang termasuk dalam kelompok varietas INPARA atau inbrida padi rawa, diantaranya: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 4, Inpara 5, Inpara 6, Inpara 7, Inpara 8 Agritan, dan Inpara 9 Agritan. • Benih bermutu dan berkualitas tinggiBenih bermutu memiliki jaminan berupa sertifikat. Benih bersertifikat umumnya memiliki daya tumbuh yang baik. Penggunaan benih bermutu akan menghasilakn tanaman dengan pertumbuhan serentak. Penggunaan benih bermutu dapat menghindari penyulaman yang tentu saja akan bepengaruh pada produktivitas tanaman. • Pengelolaan hara spesifik lokasiPemupukan N untuk padi lahan rawa dianjurkan untuk menggunakan pupuk Urea tablet atau pupuk yang sifatnya lama terlarut. Urea yang diberikan sebanyak 150-200 kg per hektar. Sedangkan pemberian pupuk P dan K didasarkan pada status hara tannah atau berdasarkan hasil uji tanah dengan menggunakan Perangkata Uji Tanah Rawa (PUTR). • Pengelolaan airPengelolaan air penting dilakukan untuk menjaga agar tidak tergenang pada musim hujan, dan tidak kekeringan bila musim kemarau. Untuk itu, diperlukan sarana dan prasarana pendukung, seperti pintu-pintu airm saluran air, dan tabat-tabat. • Cara tanamCara tanam dilakukan dengan sistem tegel atau dengan sistem legowo 2:1 atau 4:1. • Pengendalian gulmaPengendalian gulma penting dilakukan untuk menghindari terjadinya perebutan hara dengan tanaman. • Penerapan pascapanenPenggunaan alat perontok gabah dengan alat pengering buatan akan membantu petani dalam mengatasi tenaga kerja yang langka dan dapat mengurangi kehilangan hasil akibat penanganan pascapanen. Sumber: Badan Litbang Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Lahan Rawa Lebak. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com