Loading...

PENGEMBALIAN JERAMI PADI KE SAWAH DALAM BENTUK BOKASHI DI KECAMATAN JETIS

PENGEMBALIAN JERAMI PADI KE SAWAH  DALAM BENTUK BOKASHI DI KECAMATAN JETIS
Sebagian besar petani di Kecamatan Jetis belum membudayakan pengembalian jerami ke lahan sawah, padahal nutrisi yang terkandung di jerami padi sangat menunjang kesuburan tanah dan pensuplai zat hara yang dibutuhkan untuk tanaman. Sehingga perlu diadakannya sosialisasi dan demonstrasi cara pembuatan bokashi jerami kepada kelompok-kelompok tani di Kecamatan Jetis. Sosialisasi dan demonstrasi cara pembuatan bokashi jerami dilaksanakan di Desa Josari Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo yang melibatkan perwakilan dari seluruh kelompok tani yang ada di Desa Josari dan didampingi oleh petugas penyuluh pertanian, dengan harapan cepat terdiseminasikan informasi secara cepat.Kandungan unsur hara yang terkandung di jerami adalah 0,5 - 0,8% N, 0,07 - 0,12 P2O5, 1,2 - 1,7% K2O dan 4 - 7% Si. Unsur yang dimiliki jerami ini sangat berguna untuk memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh. Jerami yang telah diolah menjadi bokashi mampu memperbaiki sifat-sifat tanah, baik fisik, kimia, dan biologi tanah.Pada tanah-tanah berliat pemberian bokashi jerami dapat memperbaiki porositas tanah, sehingga kelebihan air dapat mudah dihilangkan atau didrainasekan. Hal ini penting pada tanah-tanah yang ditanami tanaman bukan padi. Sebaliknya pada tanah pasir, daya menahan air menjadi lebih baik, mempertahanan perakaran tidak mudah kekeringan serta mencegah kehilangan hara melalui pencucian. Secara fisiokimia, pemberian kompos jerami dapat meningkatkan ketersediaan P melalui pembebasan P-terfiksasi, membentuk senyawa komplek dengan Fe maupun Al sehingga mampu sebagai penyangga pH tanah. Disamping itu dengan penambahan jerami terkomposkan dapat meningkatkan KTK tanah sehingga kehilangan hara-hara mineral dapat berkurang. Jerami yang telah mengalami proses bokashi dapat meningkatkan absorpsi hara, kadar K dan menurunkan kadar Fe tanah.Selain bahan untuk bokashi dari jerami juga dilengkapi dengan bahan dari kotoran ternak untuk memperkaya unsur hara bokashi yang akan dibuat. Limbah ternak dapat lebih bermanfaat setelah melalui proses pengolahan, menjadi bokashi. Keengganan peternak untuk memproses kotoran ternak menjadi kompos disebabkan oleh lama waktu yang dibutuhkan selama proses pengomposan. Namun dengan diolah menjadi bokashi, kotoran ternak dapat didekomposisi menjadi kompos dalam waktu yang lebih singkat (3-4 minggu). Dengan menggunakan cara ini didapat kandungan hara kompos yaitu N total (0,68%); P total (0,225%); C-organik (11,2 %); Kalium (0,55%) dan rasio C/N (16,47). Tahapan pembuatan dilakukan dengan cara berikut ini.Bahan-bahan yang dibutuhkan: Kotoran ternak 800 kg; Jerami 200 kg; Kapur gamping 2%; Pemacu mikroorganisme 1 liter; Air secukupnya. Alat-alat yang digunakan: Sekop; Cangkul; Terpal; Alat pengangkut dan mengumpulkan kotoran (grobak sorong); Tempat pembuatan dan penyimpanan (semacam gudang).Bangunan tempat pembuatan: (a) Sebaiknya dibuatkan tempat/bangunan khusus untuk membuat bokashi, tidak terkena sinar matahari maupun air hujan secara langsung. (b) Ukurannya dapat disesuaikan dengan jumlah bokashi yang akan diproduksi dan ketersediaan lahan tempat untuk membangun. (c) Atap terbuat dari bahan asbes atau lainnya diusahakan agar tidak bocor kalau hujan. Tiang dan rangka atap dari kayu. Proses pembuatan: (a) Sebelum dilakukan pembuatan bokashi tempatnya terlebih dahulu harus disiapkan. Diusahakan tempat pembuatan bokashi terlindung dari terik matahari langsung atau hujan ( tempat yang beratap). Saat pembuatan kompos diusahakan agar tidak tergenang air ataupun terkena air hujan karena akan menjadi busuk. (b) Jerami dicacah dengan menggunakan alat pencacah, usahakan selembut mungkin. (c) Kotoran sapi (faeses) yang bercampur dengan sisa pakan, di kumpulkan pada satu tempat, ditiriskan atau dikering anginkan selama satu minggu agar tidak terlalu basah. Bisa menggunakan kotoran yang sudah kering. (d) Kotoran sapi tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi pembuatan dan dihamparkan dengan ketinggian 25-30 cm kemudian ditaburi kalsit/kapur dan dekomposer. (e) Setelah dihamparkan jerami diatasnya sebagai penutup. Sirami adonan kompos tadi dengan air dengan syarat tidak berlebih (kemel). Untuk membuat 1 ton bahan pembuatan bokashi (kotoran ternak) membutuhkan 20 kg kapur. (f) Langkah berikutnya adalah sama dengan langkah diatas untuk lapis/sap kedua, ketiga, dan keempat. (g) Tutup dengan rapat adonan bokashi tersebut dengan terpal. (h) Setelah satu minggu diperam, adonan dapat diaduk/dibalik (apabila menghendaki, apabila tidak sempat dibalik juga tidak apa-apa dikarenakan mikroorganisme pengurai segera cepat menyebar) secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu bisa diukur dengan memasukkan telapak tangan ke dalam tumpukan bahan, bila terasa hangat berarti terjadi proses pemeraman. (i) Minggu kedua dilakukan pembalikan lagi. Demikian seterusnya sampai pada minggu keempat. Pada saat ini pupuk telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau. (j) Pemeraman dilakukan selama 1 bulan. Kelembaban dan temperatur harus tetap dijaga agar sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembang. (k) Kemudian pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan (misalnya batu, potongan kayu, rafia) sehingga pupuk yang dihasilkan benar-benar berkualitas. (l) Selanjutnya pupuk organik siap diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk dasar atau dapat disimpan pada tempat yang terlindung dari terik matahari dan hujan. (Rudy Wijayanto/admin)