Perubahan iklim di Indonesia yang tidak menentu menjadi salah satu kendala yang mengkhawatirkan bagi peningkatan produksi padi. Dampak perubahan iklim terhadap pengembangan pertanian berupa banjir dan kekeringan sering terjadi di lahan sawah yang menyebabkan kegagalan panen (puso). Bahkan dengan semakin berkurangnya hulu resapan air dan kerusakan daerah aliran sungai memicu semakin luasnya wilayah yang sebelumnya tidak pernah terjadi puso sehingga rentan terhadap banjir dan kekeringan. Badan Litbang Pertanian yang responsif terhadap kejadian akibat perubahan iklim berinovasi untuk menciptakan varietas padi yang dapat dikembangkan dalam cekaman lingkungan ekstrim. Akhirnya pada tahun 2012 dilepas varietas unggul baru (VUB) dengan nama Inpari 30 Ciherang Sub 1 dengan salah satu kelebihannya tahan terhadap rendaman, sehingga diharapkan dapat menunjang produksi yang tinggi dengan keadaan perubahan iklim yang ekstrim terutama resiko akibat banjir dan genangan. Inpari 30 Ciherang Sub 1 sesuai ditanam di sawah dataran rendah hingga ketinggian 400 m dpl, di daerah luapan sungai, cekungan dan rawan banjir lainnya dengan dengan rendaman keseluruhan fase vegetatif selama 15 hari. Umur tanaman Inpari 30 Ciherang Sub 1 hanya 111 hari setelah semai dengan potensi hasil 9,6 ton/ha. Tekstur nasi pulen yang disukai sebagian besar masyarakat umumnya. Dilihat dari tingkat ketahanannya terhadap hama dan penyakit, varietas ini tergolong agak rentan wereng batang coklat biotipe 1 dan 2 serta rentan terhadap biotipe 3, agak rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, serta rentan terhadap patotipe IV dan VIII. Kelompok tani Nusa Indah Desa Dujung Sakti Kecamatan Koto Baru Kota Sungai Penuh dibawah binaan PPL Refdanil, S.St diberi kepercayaan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura & Perkebunan Kota Sungai Penuh untuk melaksanakan pengembangan bibit padi Inpari 30 label putih dan telah melaksanakan panen dengan hasil ubinan 9,24 Ton/Ha. Ketua Kelompok Tani Nusa Indah Elismar mengatakan, teknologi Varietas Unggul Baru masih banyak yang belum diketahui dan disosialisasikan ke petani. "Karena itu kami berharap perlu disebarluaskan informasinya sehingga dapat digunakan petani untuk mengantisipasi serangan hama penyakit tanaman yang dapat menurunkan produksi padi," jelasnya. Panen yang dilaksanakan oleh Kelompok tani Nusa Indah ini dihadiri oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan & Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura & Perkebunan Kota Sungai Penuh yang diwakili oleh Kepala Seksi Perbenihan Bapak Fitrizal, A.Md, Kepala Seksi Produksi Bapak Fetra Handika, SP, Petugas BPS, KCD Koordinator BPK Koto Baru dan beberapa orang PPL kecamatan Koto Baru. Ditulis Ulang Oleh : Robby Asti Pratama, SP (Admin SMIPP Kota Sungai Penuh) Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan