Loading...

Pengembangan Budidaya Bawang Merah Dari Benih (tss, True Shallot Seed) Di Desa Benai Kecil Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi

Pengembangan Budidaya Bawang Merah Dari Benih (tss, True Shallot Seed) Di Desa Benai Kecil Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi
Pendahuluan Bawang merah ( Allium ascalonicum) merupakan tanaman semusim yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari – hari. Kebutuhan bawang merah semakin meningkat karena hampir semua masakan memutuhkan komoditas rempah yang satu ini. Selama ini tanaman bawang merah lebih banyak dibudidayakan dilahan sawah dan jarang diusahakan di lahan kering/tegalan. Secara teknis, bawang merah mampu beradaptasi baik jika ditanam di dataran rendah, baik di lahan irigasi maupun lahan kering. Kebutuhan bawang merah dan sayuran lainnya di Desa Benai Kecil Kecamatan Benai, khususnya maupun Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) secara umum, berasal dari Propinsi Sumatera Barat (Sumbar), yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuantan Singingi. Karakteristik wilayah kabupaten Kuansing secara umum yang cenderung panas dianggap masyarakatnya kurang cocok ditanami sayuran seperti cabe, tomat, bawang merah, kol/kubis, dan lain – lain, berbeda dengan daerah Sumbar yang sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Selain itu masyarakat juga beranggapan bahwa produk hasil komoditi pertanian (sayuran) dari Sumbar lebih baik dan tahan lama, jika dibandingkan hasil pertanian lokal. Tetapi perlahan, komoditas sayuran lokal Kuansing mulai menggeliat dan berkembang. Pengenalan Budidaya Bawang Merah di Kabupaten Kuantan Singingi Bercocok tanam bawang merah mulai dilakukan di Kuansing, tepatnya di Desa Benai Kecil Kecamatan Benai pada tahun 2016. Yunisman, mantan kepala desa Benai Kecil, adalah orang pertama yang mencoba bercocok tanam bawang merah melalui umbi yang dibelinya secara daring dari Nganjuk, Jawa Timur. Dari 100 kg umbi bawang varietas Manjung yang ditanamnya hanya menghasilkan 50 kg bawang merah. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya : adaptasi bibit terhadap kondisi lahan dan iklim, kondisi bibit umbi yang stres akibat jarak transportasi yang cukup jauh, serta kurangnya pengalaman dalam bercocok tanam bawang. Kondisi ini tidak membuatnya patah semangat, dari 50 kg bawang hasil panennya, sebanyak 20 kg dijadikan bibit untuk musim tanam berikutnya. Kali ini beliau berhasil panen sebanyak 120 kg. Keberhasilan budidaya bawang merah di desa Benai Kecil, yang dipelopori oleh bapak Yunisman ini, menjadi terobosan baru dalam budidaya pertanian di Kabupaten Kuansing. Bupati Kuansing, Bapak H. Mursini berkenan melakukan panen perdana bawang merah dan mengapresiasi keberhasilan ini. Pada tahun 2017, Beliau juga menanam bawang merah varietas Cerbon Merah, yang merupakan varietas bawang adaftif dataran tinggi, yang diperolehnya dari hasil study banding ke Alahan Panjang, kabupaten Solok, propinsi Sumbar. Dari umbi sebanyak 15 kg mampu menghasilkan panen sebanyak 120 kg. Hasil panen ini disimpannya untuk dijadikan bibit. Dalam perkembangannya, budidaya bawang merah tidak hanya dapat dilakukan dengan umbi, tetapi juga mulai dikenalkan budidaya dengan benih (TSS, True Shallot Seed). Pada akhir tahun 2017, bersama kelompok tani, Beliau mencoba budidaya bawang merah menggunakan benih TSS. Dari 1 kg benih dengan luas tanam 3000 m2 didapat hasil panen 1600 kg. Keberhasilan ini menjadi momentum berkembangnya budidaya bawang merah di Kuansing. Luas penanaman bawang merah dari benih terus meningkat, dari ± 7000 m2 pada tahun 2018 menjadi ± 3.5 ha hingga pertengahan tahun 2019, di seluruh Kuansing. Luas tanam di desa Benai Kecil sendiri mencapai ± 1.5 ha hingga pertengahan tahun 2019 ini, dengan luas panen 1.5 ha dan hasil panen mencapai ± 15 ton umbi kering siap jual. Untuk terus meningkatkan produksi bawang merah khususnya di desa Benai Kecil, pada tahun 2019 ini Pemerintah Desa Benai Kecil, melalui musyawarah desa, telah menganggarkan dana desa untuk pengembangan bawah merah seluas 1 hektar dengan dana mencapai ±150 juta rupiah. Dana ini disalurkan bagi kelompok tani dalam mengembangkan budidaya bawang merah. Dan telah terealisasi tanam sampai pada bulan Nopember ini seluas ± 0.4 ha. Teknis Budidaya Bawang Merah TSS di Desa Benai Kecil Penggunaan benih dalam budidaya bawang merah dipilih karena lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan umbi. Dalam 1 hektar lahan membutuhkan ± 2 ton umbi bawang. Jika harga umbi bibit Rp. 20,000,- saja per kilogramnya, maka biaya yang dikeluarkan mencapai 40 juta rupiah. Sedangkan jika menggunakan benih, yang dibutuhkan sekitar 4 – 5 kg benih, dengan harga per kg-nya Rp. 4,100,000,-, maka biaya yang dibutuhkan ‘hanya’ 20 an juta saja. Terdapat selisih biaya yang cukup besar antara penggunaan umbi dan benih dalam budidaya bawang merah. Artinya menggunakan benih akan menghemat sekitar 50% biaya pengadaan bibit/benih bawang merah. Selain itu umbi yang dihasilkan dari benih lebih besar daripada yang menggunakan umbi. Persemaian Tahap awal dalam budidaya bawang merah TSS ini adalah melakukan Persemaian. Lahan dipersiapkan lebih kurang 1 minggu sebelum melakukan penaburan benih. Lahan persemaian sebelumnya diolah sempurna dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 cm dengan panjang 20 meter. Setelah bedengan terbentuk kemudian ditabur kapur pertanian atau dolomit sebanyak 8 kg, kompos atau kohe yang telah masak sebanyak 40 kg. Untuk 1 (satu) kilogram benih membutuhkan ± 4 bedengan, atau sekitar 15 bedengan per hektarnya (4 kg benih). Kemudian dibuat larikan di atas bedengan dengan jarak antar larikan 10-15 cm. Sebelum benih ditabur, sebaiknya dicampur dengan fungisida berbentuk tepung. Selain sebagai perlakuan benih juga agar dapat mengatur kerapatan benih saat penaburan benih pada larikan. Kemudian ditutup dengan kompos/kohe yang telah diayak. Sebaiknya benih ditabur agak rapat, sehingga saat berkecambah bersamaan dapat mendorong lapisan tanah penutup persemaian. Kerapatan benih sekitar 2 gram atau ±1sendok teh per larikan. Untuk mempercepat pembentukan umbi semaian, pemupukan persemaian dapat dilakukan pada saat berumur 25 hari setelah semai (hss) menggunakan pupuk NPK 16-16-16 sebanyak 3 gram/10 liter air. Dan menggunakan NPK Grower 3 gram/10 liter air, pada umur 35 hss. Persiapan Lahan. Lahan untuk penanaman bawang sebaiknya disiapkan 2 minggu sebelum penanaman, atau sekitar 2 minggu setelah semai. Hal ini dimaksudkan agar kompos dan pupuk dasar telah masak pada saat pindah tanam. Lahan diolah sempurna dengan bajak atau cangkul, kemudian dibentuk bedengan kasar dengan tinggi 20 - 30 cm, lebar bedengan 100 - 120 cm dan jarak antar bedengan 50 – 80 cm. Jarak 80 cm digunakan jika tanaman bawang merah akan ditumpangsarikan dengan tanaman cabe merah, seperti yang biasa dilakukan kelompok tani Beken Jaya desa Benai Kecil. Bedengan lalu ditaburi kapur pertanian atau dolomit dengan dosis 4 ton per hektar (disesuaikan dengan pH tanah) dan kompos/kohe 20 ton per hektar. Pupuk dasar yang digunakan adalah SS Ammophos 200 kg/ha, Kornkali 200 kg/ha, NPK 16-16-16 50 kg/ha dan Karate plus Boroni 100 kg/ha. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya bedengan diaduk kembali setelah ditaburi dolomit dan kompos/pupuk dasar, dan dirapikan. Jika menggunakan mulsa, pemasangan mulsa dilakukan setelah hujan atau bedengan disiram hingga basah. Saat ini mulsa plastik sudah ada yang dilubangi sesuai pesanan/kebutuhan dengan selisih harga yang tidak terlalu tinggi. Penanaman Bibit bawang siap tanam pada umur 25 – 40 hari setelah semai (hss) dan telah membentuk umbi, kira-kira sebesar pensil. Bibit dicabut dari persemaian dengan hati – hati kemudian sedikit ujung daun dipotong untuk mengurangi penguapan. Penanaman dilakukan segera setelah bibit dicabut, 2-4 umbi per lubang tanam dengan jarak 15 x 15 cm jika musim panas dan 20 x 20 cm jika musim hujan. Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari saat matahari tidak terlalu panas. Penyulaman dilakukan 1 – 2 minggu tanam jika ada tanaman yang mati. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, penyiangan dan pemberian pupuk susulan. Tanaman bawang merah membutuhkan air yang cukup selama masa pertumbuhan dan perkembangannya. Umbi bawang tidak dapat berkembang dengan baik jika kekurangan air. Penyiraman dilakukan setiap hari jika tidak turun hujan. Penyiangan dilakukan untuk menghindari persaingan memperoleh nutrisi antara gulma dan tanaman, serta meminimalisir serangan hama dan penyakit tanaman. Penyiangan dapat dilakukan 2 – 3 kali tergantung kondisi pertumbuhan gulma dan dilakukan sebelum pengaplikasian pupuk susulan. Pemupukan susulan I dilakukan saat tanaman berumur 20-25 hst, menggunakan NPK Grower sebanyak 200 kg/ha, Karate plus 100 kg/ha dan Suburkali 50 kg/ha. Dan pemupukan susulan II saat berumur 35-40 hst menggunakan NPK grower 200 kg ha dan Suburkali 150 kg/ha. Pemupukan dilakukan dengan cara ditabur/larikan. Pengendalaian OPT OPT yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah hama ulat daun (Spodoptera sp), dengan gejala serangan pada daun yang terserang terlihat bercak putih transparan, daun pontong-pontong. Ulat ini menggerek daun dan masuk kedalamnya sehingga merusak jaringan daun sebelah dalam. Cara pengendalian : melakukan rotasi tanaman, secara manual dengan mengutip ulat dan telur untuk dimusnahkan, serta aplikasi pestisida dengan bahan aktif Emmamektin Benzoat dan atau Klorantraniliprol. Panen dan Pasca Panen Ciri – ciri tanaman bawang yang siap panen apabila 60 – 70 % daun mulai rebah, umbi telah terbentuk sempurna (atau melakukan pemeriksaan umbi secara acak). Tanaman bawang merah sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari setelah tanam. Panen dilakukan dengan mencabut tanaman bawang, kemudian diikat pada daunnya kira – kira 0.5 – 1 kg per-ikatnya. Kemudian digantung di para-para untuk proses penjemuran/mengeringkan umbi. Proses penjemuran juga dapat dilakukan langsung setelah panen di bawah sinar matahari langsung. Penjemuran dapat berlangsung selama 1-2 minggu (hingga cukup kering), dan dilakukan pembalikkan setiap 2-3 hari. Saat kering susut bobot umbi mencapai 25-40%. Kemudian dilakukan sortasi dan grading jika akan dijual. Penutup Desa Benai Kecil, melalui kelompok taninya, memiliki cita-cita menjadikan desa Benai Kecil sebagai sentra tanaman hortikultura dan daerah agrowisata untuk mensejahterakan masyarakatnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengalokasikan dana desa untuk pengembangan budidaya bawang merah. Pengembangan tanaman hortikultura seperti cabe merah, bawang merah, labu-labuan dan sayuran lainnya, dikelola secara terencana dan terpadu baik secara monokultur maupun tumpang sari dan polikultur. Perluasan areal tanam terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun demikian perhatian dan bantuan dari para stake holder, pemangku kebijakan di daerah dan pusat masih sangat diharapkan, sehingga cita-cita mulia ini dapat terwujudkan. Oleh : INDRA WINNORA, A.Md (NIP. 19810217 200903 1 002) Penyuluhan Pertanian PNS BPP Kecamatan Benai