Indonesia adalah urutan ke 4 yang masuk dalam 10 negara dengan penduduk terbanyak didunia dengan jumlah penduduk 255,461,700 jiwa (1) dan urutan ke 61 negara terpadat di dunia dengan kepadatan 126 jiwa/km2 (2). Tidak dipungkiri bahwa nasi adalah sumber karbohidrat utama sebagai makanan pokok bagi mayoritas masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seiring dengan berkurangnya lahan pertanian karena perkembangan industri yang cukup signifikan, menjadikan Pemerintah hawatir akan terjadinya kerawanan pangan sehingga muncul berbagai program untuk meningkatkan produksi, produktivitas, serta diversifikasi bahan makanan untuk mengantisipasi hal tersebut diatas.Indonesia adalah salah satu negara agraris dengan iklim tropis dan berada pada garis katulistiwa, dengan potensi sumber daya alam yang baik merupakan modal utama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Pada tahun 2045 Indonesia memiliki misi sebagai lumbung pangan dunia (3), sehingga Indonesia harus dapat menghasilkan produk pertanian yang baik dari segi Jenis, Kualitas dan Kuantitas.Kecamatan Gunung Labuhan memiliki potensi pertanian yang cukup baik, namun komoditas yang dibudidayakan adalah komoditas perkebunan seperti: Karet; Sawit; Kakao; Lada; Kopi; dll. Ketidak tertarikan masyarakat dalam membudidayakan tanaman pangan salah satunya didasari oleh terbatasnya sumberdaya pengairan untuk mengairi lahan pesawahan. Hal ini memberikan asumsi bahwa kecamatan tersebut harus memenuhi kebutuhan akan beras sebagai bahan makanan pokok dari daerah lain. Program Sosialisasi Pengembangan Desa Mandiri Pangan bertujuan untuk memperkenalkan dan memotifasi masyarakat Kecamatan Gunung Labuhan kususnya Kampung/Desa Tiuh Balak II untuk dapat berbudidaya tanaman pangan pokok yang cocok dengan kondisi lingkungan yang ada seperti Padi Gogo, Jagung, Ubi, Talas, dll (4). Materi sosialisasi tentang subtitusi makanan pokok, disampaikan oleh Ketua Jabatan Fungsional (KJF) sebagai petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) senior dan mitra Dinas Ketahanan Pangan. Selain memberikan alternatif jenis bahan makanan pokok, Dinas Ketahanan Pangan juga menganjurkan untuk adanya lumbung pangan dengan menggerakan pemuda tani atau karang taruna agar menjalankan sistem jimpitan.Disamping hal yang telah dijelaskan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan juga memotifasi masyarakat melalui Kelompok Wanita Tani untuk memanfaatkan lahan pekarangan agar dipergunakan untuk membudidayakan tanaman sayuran. Hasil dari pemanfaatan lahan pekarangan tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan konsumsi rumahtangga, lebih dari itu dapat pula dipasarkan untuk membantu menambah pendapatan keluarga. Dukungan pemerintah dalam melaksanakan program tersebut, tentu tidak dapat lepas dari peran PPL. Karena sebagai garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan petani yang selalu memberikan pendampingan dan bimbingan, serta sebagai pelaksana kebijakan Pemerintah dibidang pertanian. Oleh karena itu PPL diwajibkan memiliki kemampuan teknis berbudidaya, manajemen, serta komunikasi yang baik.Agar upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan petani dapat tercapai dengan baik, kerjasama antar Dinas atau kelembagaan perlu lebih baik lagi, sehingga terdapat singkronisasi kegiatan yang saling mendukung. Dengan kerjasama yang baik tersebut diharapkan Pembangunan Indonesia dari Pinggiran dapat tercapai, hal ini sejalan dengan tujuan Pemerintah yang tertuang dalam Nawa Cita(5). Sumber(1) https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_jumlah_penduduk(2) https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_kepadatan_penduduk(3) http://betcipelang.ditjenpkh.pertanian.go.id/site/upload/common/Mewujudkan%20Indonesia%20Sebagai%20Lumbung%20Pangan%20Dunia.pdf(4) http://www.sampulpertanian.com/2017/05/7-bahan-makanan-alternatif-pengganti.html(5) https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/KSP%202%20Tahun%20Jokowi%20JK.pdf (Galuh Eska Mulyanto)