Kelompoktani Berkat Yakin desa Pembengis telah bertekad untuk mengembangkan jagung pada lahan sawah tadah hujan, setelah tanaman padi panen. Lahan sawah seluas 40 ha ini akan di tingkat menjadi IP100 menjadi IP200 dengan variasi komoditas padi dan jagung. Dalam mewujudkan keinginan kelompok tersebut berusaha membuat parit cacing secara swadaya sehingga air yang tergenang bs dengan cepat mengalir keluar. Tanaman jagung jagung (Zea mays) memiliki adaptasi yang luas dapat ditanam di lahan kering, lahan tadah hujan, lahan sawah maupun lahan rawa.Tanaman jagung membutuhkan tanah yang bertekstur lempung, lempung berdebu, lempung berpasir dengan struktur tanah remah, aerasi dan drainase baik. Pengembangan jagung di lahan rawa merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi jagung nasional. Secara umum tanaman jagung dapat tumbuh hampir di setiap jenis tanah termasuk tanah rawa, tetapi agar dapat berproduksi maksimal diperlukan kondisi lahan dengan tingkat kemasaman tanah (pH)>6,8, dengan kandungan hara N, P, K pada kriteria sedang-tinggi, dan kejenuhan Al Penyiapan lahan dilakukan secara gotong royong oleh kelompoktani yaitu dengan cangkul. Untuk pengaturan air, telah di buatkan saluran drainase dengan jarak antar saluran 6-8 m, panjang sesuai ukuran lahan dengan lebar 0,5 m dan kedalaman 0,3 m. Jagung tergolong tanaman yang tidak tahan kelebihan atau kekurangan air, karena itu ketersediaan air perlu diperhatikan agar tanaman tumbuh optimal. Dolomit dan pupuk kandang digunakan sebagai amelioran dengan takaran disesuaikan dengan tingkat kemasaman tanah. Bila pH tanah 3,5-4,5 dolomit yang diberikan dengan takaran 2-3 t/ha bila pH tanah >4,5, dolomit yang diberikan dengan takaran 1-2 t/ha, sedangkan takaran pupuk kandang 2-3 t/ha. Cara aplikasi kedua bahan amelioran tersebut dicampur, kemudian diberikan pada lubang tanam. Tanam dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dengan jarak tanam 75 x 40 cm dengan 2 tanaman/lubang. Sebelum tanam, benih perlu diberi perlakuan benih dengan metalaksil 2 gr/kg benih untuk mengendalikan penyakit bulai. Kebutuhan benih 15-20 kg/ha. Penyulaman dapat dilakukan, bila ada benih yang tidak tumbuh agar populasi optimum tercapai. Pemupukan dasardilakukandengantakaran75-87,5 kg Urea + 100-200 kg SP36 + 37,5--150 kg KCl per hektar pada 7-10 HST, pupuk kedua 150-175 kg Urea + 12,5-50 kg KCl per hektar pada 28-30 HST, dan pupuk ketiga 75-87,5 kg pupuk Urea per hektar pada 40-45 HST . Pupuk diberikan pada lubang yang berjarak 10 cm dari tanaman, kemudian ditutup tanah. Pengendalian gulma dilakukan dengan dua cara, yaitu secara mekanis (manual menggunakan tangan atau alat penyiang gulma), dan secara kimiawi meggunakan herbisida kontak (paraquat) maupun sistemik (glifosat dan sulfosat). Fase kritis tanaman jagung terhadap gulma adalah pada periode dua bulan pertama pertumbuhannya. Oleh karena itu saat pengendalian yang tepat adalah saat fase vegetatif sebelum tanaman berbunga dan fase generatif setelah tanaman berbunga. Oleh : John Romeifa