Loading...

PENGEMBANGAN PERTANIAN KONSERVASI DI KABUPATEN SIKKA

PENGEMBANGAN PERTANIAN KONSERVASI DI KABUPATEN SIKKA
PENGEMBANGAN PERTANIAN KONSERVASI DI KABUPATEN SIKKA Perubahan iklim dimana curah hujan yang tidak menentu, pengolahan lahan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi seperti system tebas bakar, olah tanah sempurnah, penggunaan pupuk dan pestisida secara kimiawi yang berlebihan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah, rendahnya produksi dan produktivitas pertanian, menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan di NTT tidak terkecuali Kabupaten Sikka. Berbagai upaya untuk mengurangi resiko akibat perubahan iklim telah dimulai sejak masuknya Program FAO di NTT melalui System Pertanian Konservasi (PK). Pertanian konservasi memiliki prinsip-prinsip dasar yakni : Pengolahan tanah minimal /pengolahan tanah terbatas Pengolahan tanah minimal /pengolahan tanah terbatas dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu system tugal, alur tanam dan pembuatan lubang tanam permanen.Lubang tanam permanen hanya perlu dibuat pada tanah yang padat, keras, sangat kritis, berbatu, dan tidak prodktif lagi serta pada tanah-tanah miring. Sedangkan alur tanam cocok dibuat padah tanah yang gembur tetapi tidak subur lagi,serta system tugal dapat diterapkan pada tanah yang gembur dan subur. Penutupan permukaan tanah secara permanen dengan mulsa dan sisa tanaman. Penutupan permukaan tanah secara permanen bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma sehingga pertumbuhan tanaman tidak terganggu oleh guma. Penutupan permukaan tanah secara permanen dapat dilakukan dengan menggunakan mulsa dan sisa tanaman. Tumpangsari atau rotasi tanaman dengan leguminosa Tumpag sari atau rotasi tanaman dengan leguminosa bertujuan untuk meningkatkan kulaitas struktur tanah dan mempertahankan kesuburan tanah , meningkatkan produksi. Unsur utama dalam rotasi tanaman adalah pengembalian nutrisi nitrogen melalui tanaman legume setelah tanaman serealia dan tanaman sejenisnya. Tumpangsari atau rotasi tanaman dengan leguminosa dapat mencegah terakumulasinya pathogen atau hama penyakit yang sering menyerang tanaman satu spesies. Implementasi PK di Kabupaten Sikka Di Kabupaten Sikka , Pertanian Konservasi dimulai sejak Tahun 2016 yang sebarluaskan oleh para penyuluh yang telah mengikuti pelatihan Training Of Trainer (TOT). Perkembangan Pertanian Konservasi di Kabupaten Sikka sudah menjangkau 6 desa di 5 kecamatan dengan luas lahan 65,5 ha pada tahun 2018 dengan produksi rata-rata pada lahan dengan PK mencapai 3,3 ton/ha meningkat 83% dibandingkan dengan cara konvensional rata-rata 1,8 ton/ha. Praktek PK ditingkat petani dilakukan dengan motede pedekatan SL dimana petani dapat bekerja dan belajar bersama menemukan masalah, mengidentifikasih masalah serta mampu menemukan solusi untuk mengatasi masalah yang ditemukan dalam kegiatan usaha taninya. Persiapan lahan yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah pengolahan tanah minimalis adalah pembuatan lubang tanam permanen , pembuatan alur gembur pada alur tanaman , penutupan permukaan tanah dengan mulsa dan tumpangsari dengan tanaman leguminosa. Pada lubang tanam permanen ditambahkan dengan pupuk kompos sebanyak 2-5 kg/lubang tanam sedangkan pada alur gembur ditambahkan kompos sebanyak 1-2 kg untuk 1m alur tanam. Permukaan tanah ditutupi dengan sisa tanaman sebagai mulsa untuk menjaga kelembaban tanah dan di tanami jagung sebagai tanaman utama dan tanaman leguminosa sebagai tanaman penutup tanah yang dapat memfiksasi Nitrogen. Varietas jagung yang digunakan pada kegiatan SL-PK adalah Varietas komposit serta tanaman leguminosa yang digunakan adalah kacang kanavalia. Berdasarkan pengamatan dengan PK tanaman dapat tumbuh dengan baik pada musim kering dan memberikan produksi yang lebih baik sehingga pendapatan petani meningkat petani pun sejahtera. Hal ini membuktikan bahwa usaha tani dengan sistem PK dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia secara perlahan, menekan pertumbuhan gulma mengurangi penggunaan herbisida serta menekan biaya produksi dan meningkatkan produksi pertanian. Tantangan dan Kendala Upaya peningkatan produksi pertanian melalui pengembangan system pertanian konservasi tidak berjalan mulus tanpa gelombang, tentunya ada berbagai persoalan yang ditemukan oleh penyuluh dalam melaksanakan tugasnya dilapangan. Adanya anggapan bahwa Pertanian Konservasi diidentikan dengan lubang tanam yang menurut petani mengalami kesulitan dalam persiapan lubang tanam karena membutuhkan waktu dan tenaga. Selain itu ketersediaan pupuk organik untuk mendukung perluasan adopsi pertanian konservasi sangat rendah, kebiasaan petani membakar sisa tanaman setelah panen dan ketersediaan ripper sebagai alat pembuat alur masih kurang. Dari berbagai kendala tersebut kendala dirasakan sangat berpengaruh pada proses penyebaran teknologi tersebut adalah merubah pola pikir /PSK petani dalam mengadopsi teknologi PK. Potensi dan Peluang Dalam menjalankan suatu usaha pasti ada kendala atau persoalan yang akan ditemukan namun hal tersebut tidak menyurutkan tekad para penyuluh untuk menyebarluaskan system pertanian konservasi dengan melihat potensi dan peluang yang dimiliki antara lain adanya tenaga teknis pertanian baik penyuluh PNS,THL_TBPP dan Swadaya, adanya kemauan baik dari pemerintah desa untuk mengalokasikan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat mendukung perluasan adopsi pertanian konservasi serta implementasi PK dapat meningkatkan poduksi dan pendapatan petani. Selain itu peluang yang yang dapat di perjuangkan dalam usaha penyebaran informasi teknolgi pertanian yakni melalui penggunaan dana desa untuk pemebrdayaan masyarakat, mendorong integrasi pertanian konservasi ke RPJMDes dan RKPDes serta jangkauan pertanian konservasi masih kurang. Belajar dari pengalamani di beberapa wilayah yang telah melaksanakan kegiatan SL PK, para penyuluh terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada petani untuk menyebarluaskan system Pertanian Konservasi ke petani dengan metode pendekatan SL, pembuatan demplot PK di lahan petani, memfasiltasi kegiatan temu lapang atau kunjungan silang antar kelompok tani. Kedepan para penyuluh diharapkan bekerjasama dengan pemeritah desa atau mitra kerja lainnya untuk mendukung perluasan adopsi pertanian konsevasi yang implementasinya pada tanaman hortikultura. Sumber : Dokumen Laporan Pelaksanaan SL PK di Kabupaten Sikka (Penulis Helena Hensi,SST adminsikka)