Penggerek batang padi merupakan salah satu hama penting yang sering menyerang tanaman padi. Hama ini termasuk dalam kelompok Ordo Lepidoptera, imago dewasa berbentuk ngengat yang aktif pada malam hari. Seekor ngengat betina dapat bertelur sebanyak 100-600 butir selama satu siklus hidupnya, telur diletakkan berkelompok di bagian ujung daun dan ditutupi oleh bulu-bulu halus. Setelah menetas larva dari penggerek batang padi akan masuk ke dalam batang padi dengan cara menggerek/membuat lubang gerekan, biasanya terdapat 1-2 ekor/batang. Hama ini dapat menyerang tanaman pada fase vegetatif dan generatif. Gejala kerusakan yang ditimbulkan pada fase vegetatif (sundep) yaitu matinya pucuk tanaman karena gerekan larva dari penggerek batang padi, sedangkan pada fase generatif (beluk) dicirikan dengan adanya malai yang hampa, berwarna putih dan berdiri tegak. Stadia kritis tanaman padi yang diserang oleh hama penggerek batang padi ini mulai dari pembibitan sampai dengan pembentukan malai. Pengendalian hama penggerek batang padi dapat dilakukan dengan berbagai upaya Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) sebagai berikut: Pengendalian secara kultur teknis Pengaturan pola tanam, penanaman serempak dan pergiliran dengan tanaman selain padi Pengendalian fisik dan mekanik Secara fisik dapat dilakukan dengan cara penyabitan tanaman serendah mungkin saat panen diikuti dengan penggenangan air ± 10 cm sehingga larva atau pupa mati Secara mekanik dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan kelompok telur di persemaian dan pertanaman (telur dipelihara dalam bumbung bambu bila keluar parasitoid akan kembali ke pertanaman) Pengendalian secara hayati/biologi Pemanfaatan agen hayati menggunakan cendawan Metarhizium sp. Konservasi musuh alami terutama parasitoid Trichogramma sp. dan predator dengan menanam tanaman refugia di sekitar tanaman padi Pengendalian secara kimiawi Apabila sudah mencapai ambang kendali dapat menggunakan insektisida Furadan (Carbofuran 3%) dengan dosis 5/500 m2 Juwita Suri Maharani