Pembukaan oleh Pak Hamdi Istiawan (penyuluh di WKPP Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru) sekaligus seorang pemandu dalam Warung Ilmiah Lapangan (WIL) : ucapan terima kasih kepada anggota kelompok tani Ratu Kemalik yang berkesempatan hadir dalam pertemuan Pengenalan Program Pembelajaran Agrometeorologi dalalm Warung Ilmiah Lapangan serta penyuluhan tentang pengamatan hama. Untuk Program Pembelajaran Agrometeorologi dalalm Warung Ilmiah Lapangan nanti akan di sampaikan oleh Baiq Mariana dan untuk Pengamatan Hama Penyakit akan di sampaikan oleh Pak Gufran, A.Md (Penyuluh sekaligus menjadi pemandu dalam WIL) serta Pak Ismail (seorang pengamat hama dan penyakit). Dimana saat ini, tanaman padi kita sangat rentan terserang hama dan penyakit dengan kondisi atau keadaan cuaca dan iklim yang sekarang yang terus-menerus hujan.Tujuannya adalah : menyebarluaskan Pembelajaran Agrometeorologi dalam WIL serta memberikan penyuluhan tentang pengamatan hama dan penyakit di Kelompok Tani Ratu Kemalik Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru.a. PROGRAM PEMBELAJARAN AGROMETEOROLOGI DALAM WARUNG ILMIAH LAPANGAN1. Menceritakan tentang program Pembelajaran Agrometeorologi dalam WILKegiatan ini merupakan gagasan dari Tim PUSKA UI dan ini adalah bentuk pengabdian Ilmuan kepada masyarakat. Program ini merupakan kerjasama PUSKA UI dengan BAPENAS dan ICCTF serta KONSEPSI dan sudah berjalan selama berjalan selama 3 tahun yang ada di beberapa Desa dan Kecamatan di Kabupaten Lombok Timur. Adapun Kecamatan dan Desa yang terlibat adalah Kecamatan Jerowaru yaitu Desa Pandan Wangi, Kecamatan Keruak yaitu Desa Gabungan Senyiur dan Penendem, Desa Sepit dan Desa Setungkep Lingsar, Kecamatan Sakra Barat, Desa Rensing Raya serta Desa Sakra Tepatnya di Kelompok Kasih Sayang Dusun Perue Desa Sakra. Kelompok ini dinamakan kelompok pengukur curah hujan. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ini adalah:a. Mengukur hujan di lahan : adapun hujan yang diukur adalah hujan 24 jam yang turun langsung dari langit, dan alat yang digunakan berupa alat yang sedarhana namun sudah berstandar internasional yang telah teruji oleh ilmuan atau Profesor dari Belanda yaitu Prof. Kees. Alat sedarhanan ini petani namakan Centong. Adapun alat yang lain digunakan untuk mengukur curah hujan adalah lidi yang sudah dicat dan bisa menyerap air, sehingga lidi dicelupkan ke centong air bisa terserap dan diukur mengguankan penggaris. Satuan yang digunakan dalam pengukuran adalah melimeter jadi kalau dipenggaris pada saat diukur besar curah hujan saat ini 1 cm berarti kalau dirubah kedalam melimeter besarnya adalah 10 melimeter. Hujan diukur setiap pagi dan setiap hari mulai dari pukul 06.00-07.00 paling telat 07.30 menit. Kenapa diukur setiap hari dan setiap pagi?karena kita tidak tahu apakah dilahan hujan atau tidak misalnya mungkin dirumah tidak hujan siapa tau dilahan hujan atau sebaliknya. Sehingga kami sepakat untuk pengukuran hujan harus setiap pagi dan setiap hari. Walaupun alat ini sedarhana namun sangat banyak sekali manfaatnya khususnya bagi petani dan umumnya bagi semua Instansi seperti BMKG kemarin di saat terjadi banjir tanggal 19 November 2017,kelompok Pengukur Curah Hujan yang dari Sakra Barat yaitu Pak Iskandar Zulkarnain di hubungi untuk memperoleh data tentang berapa besar curah hujan saat itu. Disamping itu, manfaat yang lain adalah petani lebih sering ke sawah mengamati lahannya sehingga sekarang petani yang tergabung dalam kegiatan pengukur curah hujan ini lebih rajin dan lebih teliti dalam hal pengamatan di sawah, sehingga kalau petani menemukan hama atau penyakit mereka lebih cepat tanggap dengan menghubungi petugas penyuluhan atau petugas pengamat hama dan penyakit.Pertanyaan : apakah hujan yang diukur misalnya pagi ini hujan, terus apakah kita ukur siangnya?Jawaban : tidak seperti itu, misalnya siang hujan terus, berarti kita harus mengukurnya besok pagi sesuai dengan jam yang sudah kita sepakati, atau misalnya pagi itu kita sudah mengukur, kemudian setelah baru selesai diukur tiba-tiba hujan, dibiarkan saja besok pagi baru mengukur, atau kalau hujan terus-menerus dari pagi sampai pagi lagi, berarti hujan yang kemarin pagi sampai malam sampai menjelang pagi kita harus mengukur jam 06.00 atau 07.00 atau paling telat 07.30 kemudian setelah diukur air yang ada dicentong dibuang terlebih dahulu baru kemudian alat dipasang lagi pada tiangnya.Pertanyaan : bagaimana kita mencatatnya sedangkan buku kita tidak bisa bawa karena hujan terus?Jawaban : kita bisa menggunakan payung atau jas hujan ke sawah, tidak apa-apa bawa buku yang penting bapak-bapak ingat atau bapak atau ibu bisa bawa hp yang dilapisi dengan kantung plastik dan bapak bisa catat disana dan dirumah baru diganti.Pertanyaan : bagaimana kalau kita tidak mengukur hari itu :Jawaban : kalau kita tidak mengukur berarti hari itu dibuku bapak tulis strip (-), artinya bapak atau Ibu tidak mengukur hari itu, atau kalau Bapak sibuk bisa minta tolong sama anak atau Istri yang terlebih dahulu diajarkan sama anak atau Istri, jadi kalau Bapak berhalangan, Istri atau Anaka Bapak bisa mengukur curah hujan hari itu.Pertanyaan : kalau tidak hujan ditulis apa?Jawaban : kalau tidak ada hujan dituliskan nol (0), dan kalau hanya grimis saja dan tidak bisa diukur kesepakatan teman-teman pengukur curah hujan ditulis 0,5 mm.Pertanyaan : baiamana kalau misalnya setelah kita ikut tergabung dalam kelompok ini, terus ada kesibukan yang lain?dan apakah anggotanya bisa yang tidak bisa membaca?Jawaban : Kegiatan ini sifatnya tidak memaksa, jadi kalau tidak bisa tidak apa-apa tidak dipaksa. Ini adalah bagi siapa saja yang mau belajar dan meneliti.b. Mencatat hasil pengukuran curah hujan. Setelah curah hujan diukur kemudian dicatat dibuku kecil nanti dirumah baru disalin ke buku besar yang sudah dibuatkan format.c. Pengamatan Agroekosistem. Setelah selesai mencatat curah hujan kemudian nanti Bapak/Ibu bisa turun atau keliling dilahan bapak untuk mengamati apakah ada hama atau penyakit dilahannya. Dan kalau ada hama dan penyakit jangan buru-buru Bapak melakukan penyemprotan, lihat dulu serangan hama atau penyakit melewati ambang batas atau baru mulai. Kalau hama dan penyakit hanya satu dua Bapak-Bapak tidak perlu melakukan penyemprotan tetapi ada cara pengendalian yang lain yang bisa dilakukan. Kalau Bapak menyemprot secara terus-menerus nanti musuh alami yang ada pada tanaman dilahan bisa mati, kalau musuh alami sudah mati siapa yang akan melawan atau memakan hama atau penayakit pada tanaman? Kalau masih bingung dan merasa khawatir Bapak/Ibu bisa menghubungi Bapak-Bapak penyuluh atau Pengamat Hama dan Penyakit atau bisa langsung ke Kantor UPTPP yang ada di Sepapan.d. Pertemuan Berugak. ini bisa kita manfaatkan untuk pertemuan bukan hanya dengan sesama anggota namun juga dengan kelompok tani lainnya dimanapun, tujuannya adalah selain untuk menyebarluaskan apa yang menjadi kegiatan kita juga untuk berbagi ilmu,bertukar informasi, pengalaman dan sebagainya, seperti yang sedang kita lakukan saat ini.e. Evaluasi bulanan. Setiap bulan kami melakukan evaluasi disetiap kelompok, tujuannya adalah untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan oleh anggota selama satu bulan seperti pencatatan curah hujan, usia tanaman, pengamatan dan hasil panen. Dalam kegiatan ini juga kita bisa membandingkan hasil panen dengan petani yang lainnya dalam anggota misalnya mengapa hasilnya tahun ini bisa meningkat atau mengapa hasilnya tahun ini bisa menurun dan bisa juga membandingkan hasilnya dengan tahun sebelumnya. Apa yang menyebabkan peningkatan atau penurunan hasil, apakah karena benihnya,hama dan penyakit atau mungkin karena faktor yang lain seperti jenis tanah, pengelolaan air dan sebagainya. Semua ini bisa kita dapatkan dari hasil-hasil pencatatan dan informasi dari teman –teman pengukur lainnya. Jadi apa yang Bapak/Ibu catat itu sangat berharga dan bermanfaat untuk Bapak/Ibu sendiri dan catatannya bukan untuk kami,bukan untuk Puska UI namun untuk menjadi milik Bapak / Ibu seutuhnya.f. Ekprimen.maksud dari eksprimen ini adalah untuk memperoleh jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak petani tentang apa yang terjadi dilahan mereka masing-masing. Sudah ada beberapa anggota yang sudah melakukan eksprimen dilahannya , dan dari informasi mereka hasil eksprimen sangat bermanfaat dan membantu mereka dalam memecahkan masalah yang selalu mereka tanyakan ke diri mereka sendiri. Contohnya ada salah satu anggota pengukur curah hujan yaitu Pak Sahiban melakukan eksprimen yaitu eksprimen untuk menguji keseragaman/keasaman dari tanah lahan yang dimilikinya, karena jenis tanahnya tanah gedok dimana setiap kali menanam padi selalu mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, sehingga dia mencoba untuk melakukan eksprimen tanah. Lahannya dibagi menjadi tiga petak. Petak yang pertama dengan cara konvesional atau secara kebiasaan yang dilakukan oleh Pak Sahiban, petak kedua dibuatkan saluran pembuangan air, dan petak ketiga ditaruhin biomasa berupa jerami. Setelah panen yang paling bagus hasilnya adalah yang dibuatkan saluran pembuangan, kemudian yang ditaryhin biomasa dan yang terakhir secara kebiasaan. Jadi menurut Pak Sahiban apa yang sudah di coba sangat bermanfaat dan kedepan akan merubah cara bercocok tanam.2. Pengamatan hama dan Penyakit oleh Pak Gupran dan Pak IsmailAdapun saat ini yang sering menyerang tanaman padi adalah :a. Hama penggerek batang/batahHama penggerek batang yaitu pengamatan ada telur penggerek di daun padi, pasti pernah ketemu pada saat pengamatan namun tidak diketahui. Kalau disemprot kurang-kurang pestisida tidak bisa masuk karena bulunya kalis. Cara pengendaliannya tidak perlu menggunakan pestisida. Cara yang paling mudah dilakukan adalah pengamatan disawah pada saat pagi hari yaitu pada saat matahari terbit kemudian diambil atau kalau mau semprot ambil telurnya, taruh ditoples kalau menetas berarti menetas juga ditanaman, dan kalau sudah masuk ke tanaman sulit untuk disemprot kecuali menggunakan pestisida yang bagus, sekali menetas jumlah telur 300 butir. Jadi sebaiknya perlu pengamatan pada pukul 08.00 wita.Pertanyaan : biasanya petani selalu mengandalkan puradan untuk mengatasi hama dan penyakit, dan bagaimana penggunaan puradan yang tepat? (Pak Sueb)Jawaban : penggunaan puradan yang tepat adalah diwaktu sudah pengamatan mingguan diantara umur padi 30-35 hari atau di saat pemupukan ke II atau terakhir. Dosisnya adalah 21 kg/ha, karena puradan ini bersifat sistemik dan puradan terbuat dari pasir halus yang mudah dilempar. Adapun pengamatan mingguan yang diamati adalah pengamatan kupu-kupu, pengamatan sayap kupu-kupu yang sudah jatuh dan setelah itu mengamati telurnya. (Pak Gupran)Pertanyaan: biasanya penyakit timbul setelah pemupukan ? (Sueb)Jawaban : betul juga, kebanyakan petani berprinsip semakin besar dosis pemupukan semakin bagus tanaman, tetapi tidak seperti itu. Bukan karena semakin banyak pupuk semakin bagus tanaman, misalnya penyakit kresek, semakin banyak urea yang diberikan kepada tanaman semakin mudah terserang penyakit kresek, sehingga diperlukan pemupukan berimbang seperti urea 250 kg/ha, NPK=200 kg/ha, ZA=50 kg/ha, SP36=50 kg/ha dan organik 500 kg/ha. b. Penyakit blast atau lokalnya mate tekok/penyakit pinyangKita perlu mengamati daun padi yang terakhir dari atas dan kedua dari atas supaya tanaman padi bersih dari penyakit blast. Ciri-cirinya adalah hitam bulat pada daun padi.Pertanyaan : biasanya kalau tanaman padi terserang penyakit blast, kami mengatasinya dengan fungisida?Jawaban : penyemprotan dengan pestisida dilakukan apabila dalam kondisi diatas ambang batas pengendalian dan sebaiknya jangan menyemprot terlalu pagi.Pertanyaan : mengapa selalu ada cacing pada tanaman padi ?Jawaban : karena kalau terlalu dalam menanam padi itu menyebabkan akar tanaman padi menjadi busuk, dan disini akan timbul cacing sehingga mengakibatkan daun padi menjadi kusut. Biasanya 15 hari setelah tanam padi, tanaman padi dipupuk, padahal akar tanaman padi belum hidup. Sebaiknya dipupuk disaat akar tanaman padi sudah tumbuh. Tidak semua cacing merusak tanaman bisa juga menjadi musuh alami. Biasanya cacing mengerumpuni akar tanaman padi yang sudah busuk, supaya tidak terjadi seperti itu sebaiknya setelah panen lahan digarap dan diberikan dolumit serta pupuk organik (untuk tanam padi kedua), dan sebaiknya setelah panen padi jerami jangan dibakar, karena itu artinya kita membuang pupuk.Beberapa saran dari Pak Ismail (Pengamat hama dan penyakit) :1. Untuk pemupukan tergantung umur tanaman padi, yaitu :a. Ketika tanaman padi berumur 3 hari dipupukb. Umur tanaman padi 10 hari dipupukc. Umur tanaman padi 20 hari dipupukd. Umur tanaman padi 25 hari dipupukIni untuk jenis tanaman padi dengan umur pendek, kalau padi berumur panjang/padi besar bisa agak telat dipupuk. Jangan memupuk tanaman di saat umur 45-50 hari, kalau mau memupuk disaat umur 45 hari airnya harus dikeringkan kalau bisa tanahnya sampai retak.2. Pertumbuhan tanaman padi yang baik tergantung cara tanam. Kalau menanam padi sebaiknya ditanam disaat lahan macak-macak dan disaat umur benih muda.3. Jangan terburu-buru untuk melakukan penyemprotan, dan sebaiknya penyemprotan dilakukan kalau sudah diambang batas4. Pengolahan tanah untuk tanam kedua sebaiknya disingkal terlebih dahulu kemudian 1-2 minggu baru digelebek dan diberikan dolumit serta pupuk organik.5. Biasanya disaat menyemprot petani memberikan oli pada penyemprotan, coba semprot yang keluar hanya oli dan ini diberikan pada tanaman.6. Waktu menyemprot pagi atau sore, tetapi saat padi mau keluar sebaiknya jangan disemprot.7. Perlu memberikan perekat pada tanaman padi karena daun padi sifatnya kalis.8. Untuk pengairan sebaiknya secara basah-kering, tujuannya adalah supaya akar padi bisa bernafas sehingga bisa memperbaiki pertumbuhan.9. Perlu pergiliran varietas, tujuannya adalah untuk memotong siklus penyakit.Setelah selesai penyampaian materi dan diskusi kemudian langsung ke sawah untuk melakukan pengamatan hama dan penyakit karena ada salah seorang anggota yang tanaman padinya terserang hama dan penyakit.