Loading...

Pengendalaian Gulma pada Budidaya Padi Sawah

Pengendalaian Gulma pada  Budidaya Padi Sawah
Kebutuhan beras di Indonesia semakin meningkat berbanding lurus dengan pertambahan dan pertumbuhan jumlah penduduk. Kebutuhan beras pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 48.5 juta ton atau setara dengan 70 juta ton GKG (BPS 2013). Upaya peningkatan produksi beras pada masa yang akan datang dihadapkan pada berbagai kendala seperti tingginya konversi lahan sawah pertanian menjadi non pertanian, degradasi kesuburan lahan hingga munculnya organisme pengganggu tanaman (OPT). Salah satu OPT yang dapat menurunkan produksi serta produktivitas padi adalah gulma. Kehilangan hasil padi akibat gulma di seluruh dunia diperkirakan mencapai 10 sampai 15%, bahkan kehilangan hasil dapat mencapai 86% jika tanpa pengendalian gulma (Pane et al. 2004). Selain penurunan produksi, keberadaan gulma di pertanaman padi sawah menyebabkan meningkatnya biaya pengelolaan dan pengendalian, sehingga menurunkan pendapatan petani (Tungate et al. 2007).Pengelolaan dan pengendalian gulma merupakan issue yang paling penting dalam produksi pertanian (Sakai & Upadhyaya 2007). Kehilangan hasil dapat ditekan dengan berbagai pendekatan, termasuk dengan pendekatan sistem budidaya dan teknik pengendalian. Gulma dapat menurunkan hasil panen karena adanya persaingan antara gulma itu sendiri dengan padi, dalam pengambilan unsur hara, air dan cahaya. Di samping itu ada beberapa gulma yang dapat dijadikan tanaman inang oleh hama dan penyakit tanaman padi, sehingga kalau kita membiarkan gulma tumbuh tanpa dikendalikan, jelas kerugian akan kita dapatkan termasuk kerugian akibat peledakan hama dan penyakit.Pengendalian gulma padi sawah, umumnya sudah dilakukan oleh para petani, baik dengan penggunaan tenaga manusia (penyiangan tangan) dengan peralatan khusus (landak/gasrok) ataupun cara kimiawi dengan penggunaan herbisida.Cara pengendalian dengan penyiangan tangan, sekarang ini sudah jarang sekali dilakukan karena adanya keterbatasan dan semakin langkanya tenaga penyiang, terlebih lagi untuk daerah-daerah yang sulit mendapatkan tenaga kerja. Demikian juga penyiangan dengan alat (landak) di beberapa tempat juga sudah ditinggalkan mengingat penggunaan alat ini juga memerlukan banyak tenaga dan kadang-kadang juga bisa mengakibatkan kerusakan pada perakaran padi yang sedang tumbuh. Dengan adanya kendala-kendala itu, sekarang petani banyak beralih menggunakan cara lain yang lebih mudah dan efisien, yaitu penggunaan racun kimia atau lebih populer dengan nama (herbisida). Pengendalian Secara KimiaBanyak sekali jenis herbisida yang bisa digunakan untuk mengendalikan gulma pada padi sawah. Cara penggunaan herbisida (racun rumput) ini banyak sekali macamnya. Ada yang harus disemprotkan pada saat gulma sudah tumbuh, ada juga yang digunakan khusus untuk membunuh gulma yang baru mulai tumbuh/yang belum tumbuh. Herbisida yang disemprotkan sesudah gulma tumbuh biasanya jenis yang dapat membunuh gulma secara cepat. Kadang-kadang herbisida itu juga dapat mengenai padi, sehingga daun padi akan menguning untuk sementara sebelum sembuh kembali setelah diberi pupuk susulan.Perkembangan teknologi telah membantu kita untuk mendapatkan herbisida yang bersifat selektif. Artinya, kalau kita semprotkan pada lahan padi sawah akan sangat efektif mengendalikan gulma tetapi tidak meracuni atau mengganggu tanaman padi.Herbisida Setoff 20 WG adalah salah satu dari banyak jenis herbisida yang dapat dipergunakan untuk menanggulangi gulma di pertanaman padi di sawah. Herbisida ini sudah terbukti dapat mengendalikan secara efektif gulma-gulma yang sering terdapat pada areal padi sawah seperti eceng, wewehan, genjer, semanggi dan lain-lain.Setoff 20 WG adalah herbisida dari golongan Sulfonylurea yang paling mutakhir, karena mengandung bahan aktif Cinosulfuron dan diperlukan hanya dalam jumlah yang kecil untuk untuk mengendalikan gulma di pertanaman padi sawah. Setoff 20 WG dipasarkan dalam bentuk sachet 10 gram, terdiri dari 5 strip sachet yang masing-masing berisi 2 gram. Ini dilakukan untuk memudahkan petani mendapatkan takaran dosis yang tepat, yaitu 2 gram (1 strip sachet) untuk satu tangki penyemprotan dan digunakan untuk menyemprot lahan seluas ± 400 m2.Herbisida Setoff 20 WG cukup disemprotkan sekali selama musim tanam, pada saat padi berumur 2 -6 hari setelah pindah tanam. Dosisnya 50 gram per hektar luasan. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat sawah tergenang setelah saluran pemasukan dan pembuangan di tutup, dengan ketinggian air ± 2-3 cm. Kemudian lahan sawah dibiarkan pada kondisi tergenang selama 1- 2 hari sebelum saluran air dibuka kembali. Sejak saat itu gulma akan terkendalikan hingga saat panen datang.Kelebihannya kalau kita menggunakan Setoff 20 WG adalah tidak meracuni tanaman padi dan gulma bisa terkendalikan sejak dari awal, sehingga semua pupuk yang diberikan dimanfaatkan secara maksimal oleh padi. Dengan penggunaan Setoff 20 WG, padi akan terbebaskan dari persaingan dengan gulma dan akhirnya kita bisa mengharapkan hasil panen yang tinggi dan bermutu baik. Ruslia Atamaja ppmkp-bppsdmp (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)BB.Penelitian Tanaman Padi-Badan Litbang Pertanian 2014