Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Penyakit ini menyerang padi menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun dan blas leher. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman, berbentuk belah ketupat, dengan pusat bercak berwarna putih. Sedang blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah. Pemicu tingginya intensitas serangan penyakit blas antara lain pemupukan nitrogen dalam dosis tinggi dan cuaca lembab, khususnya bila lama pengembunan di permukaan daun lebih dari 7 jam menguntungkan bagi terjadinya infeksi. Kemampuan patogen membentuk strain dengan cepat menyebabkan pengendalian penyakit ini sangat sulit. Pengendalian penyakit blas dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : Benih Sehat Semaikanlah benih bernas dari varietas unggul yang berlabel dan bermutu Lakukan perlakuan benih dengan fungisida sistemik seperti trisiklazole dengan dosis formulasi 3-5 g/kg benih pada saat perendaman. Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam, dan selama periode perendaman, larutan yang digunakan diaduk merata tiap 6 jam. Perbandingan berat biji dan volume air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Benih yang telah direndam dikering anginkan dalam suhu kamar diatas kertas koran dan dibiarkan sampai saatnya gabah tersebut siap untuk disemaikan. Perendaman benih padi sawah dalam larutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman Jarak Tanam Sistem tegel dengan jarak tanam 25 cm X 25 cm Sistem jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam (25 cm-50 cm) X 12,5 cm Pemupukan Berimbang Tanpa bahan organik, dosis per ha gunakan pupuk NPK 15-15-15 : Urea : ZA = 175 : 100 : 100 Jika ada pupuk organiknya 2 ton/ha, maka dosis pupuk NPK 15-15-15 : Urea : ZA = 100 : 100 : 100 Penggunaan Fungisida Kimia Bahan aktif yang di rekomendasikan untuk penyemprotan antara lain Isoprotiolan, Fosdifen, Trisiklazole, Kasugamycin dan Thiophanate methyl sesuai dosis anjuran yang tertera di kemasan pruduk fungisida. Saat aplikasi, genangan air dalam lahan harus di buang. Interval pengendalian dilakukan disesuaikan dengan prosentase serangan. Penulis : Mardiyah, SP