Lahan sawah pasang surut yang berada di kecamatan Pengabuan dan Kecamatan Senyerang merupakan sumber pangan terutama padi untuk kabupaten Tanjung Jabung Barat. Permasalahan utama bagi petani dalam melakukan usaha budidaya padi yaitu serangan burung pipit (Lonchura leucogastra) atau sering disebut burung emprit oleh penduduk setempat. Burung pipit menyerang tanaman padi pada saat padi menjelang panen. Waktu yang paling di sukai oleh burung untuk memakan padi adalah pada pagi hari sekitar jam 6.00 sampai jam 10.00 dan pada sore hari sekitar jam 3.00 sampai matahari terbenam. Habitat burung pipit adalah daerah terbuka seperti sawah, padang rumput dan ladang. Ciri – ciri burung pipit yaitu kepala, punggung, sayap dan ekor berwarna cokelat, leher perut sampai bawah ekor berwarna dasar putih dengan coretan cokelat membentuk pola sisik ikan, dan paruh berwarna putih kebiruan. Burung pi[pit merupakan jenis burung yang biasa hidup secara berkelompok, satu kelompok biasa terdiri dari 10 – 30 ekor, tapi tidak jarang lebih dari itu. Burung ini akan menghasilkan anakan 3 – 6 ekor setiap kali bersarang. Pada satu hamparan sawah burung pipit dapat terdiri dari banyak kelompok, sehingga pada saat melakukan serangan terhadap padi sawah jumlahnya akan sangat banyak. Pengendalian terhadap serangan burung pipit yang di lakukan daoleh petani di kecamatan Senyerang dan Pengabuan dengan berbagai cara diantaranya yaitu dengan membuat orang – orangan sawah, membuat layangan berbentuk burung elang, memasang kepingan CD yang tidak di gunakan dan memasang jaring pada permukaan padi. Akan tetapi cara – cara di atas hanya bisa mengurangi serangan burung terhadap tanaman padi yang hampir memasuki masa panen. Cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya, pemasangan jaring di permukaan tanaman padi di anggap yang paling efektif dalam mengendalikan hama burung pipit. Bila dilihat dari biaya produksi, pembelian jaring akan menambah biaya produksi, akan tetapi dari segi waktu dan kehilangan hasil menguntungkan. Berdasarkan pengalaman petani di kecamatan pengabuan dan senyerang jaring dapat di gunakan antara 3- 4 kali masa panen asalkan pemasangan dan penggulungan di lakukan dengan benar. Burung pipit menyerang tanaman padi menjelang panen dengan intensitas tertinggi pada pagi hari antara jam 6 – jam 7.30 di dan jam 5 – matahari terbenanm. Lebiasaan petani pada saat jam – jam tersebut mereka sudah tidak berada di sawah lagi atau dalam persiapan menuju rumah, sehingga apabila pengendalian dengan memasang jaring walaupun tidak ada yang menunggu di sawah padi tetap aman. Secara literatur, pengendalian burung pipit juga bisa dilakukan dengan sistem kimiawi. Pengendalian hama burung yang dilakukan oleh petani di kecamatan senyerang dan pengabuan tidak pernah melakukan pengendalian secara kimiawi, hal ini akan merusak lingkungan. Untuk mengurangi serangan burung tersebut, petani selalu menerapkan tanam serempak, sesuai dengan perkiraan musim hujan dan pasang naik. Sebagai penggerak dalam penentuan musim tanam, penyuluh pertanian di wilayah BPP Senyerang dan BPP Pengabuan mempunyai peran yang sangat vital, terutama dalam melakukan koordinasi di tingkat kecamatan dan desa.rti: