Keberhasilan usahatani jagung diantaranya dipengaruhi ada tidaknya gangguan organisme pengganggu tanaman atau sering disebut OPT. Salah satu OPT yang kehadirannya dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman jagung adalah gulma, Gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Untuk itu, dalam usaha tani jagung kegiatan pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting guna mencapai produksi yang optimum. Kehadiran gulma dapat menjadi pesaing bagi tanaman dalam memperoleh hara, air, sinar matahari dan lahan. Untuk itu diperlukan upaya pengendalian gulma. Pengendalian gulma bukan diarahkan untuk pemberantasan total, tetapi mempertahankan populasi gulma di bawah ambang ekonomi, sehingga tidak merugikan hasil usaha tani. Mengenali jenis gulma merupakan langkah awal mengendalikan gulma, dan dapat menjadi dasar dalam menentukan cara pengendalian yang tepat. setelah mengetahui pengelompokannya, langkah selanjutnya adalah menentukan teknik pengendaliannya. Pengelompokan gulma pada pertanaman jagung pada umumnya berdasarkan pada daur hidupnya, klasifikasi bentuk serta tanggapan terhadap herbisida. Sedangkan teknik pengendalian yang dapat dilakukan ialah secara konvensional dan penggunaan herbisida. 1. Pengelompokan Gulma • Daur hidup Berdasarkan daur hidup dikenal gulma setahun dan gulma tahunan. Gulma setahun, hidupnya kurang dari satu tahun; sedangkan gulma tahunan siklus hidupnya lebih dari satu tahun. • Klasifikasi taksonomi Berdasarkan klasifikasi taksonomi dikenal gulma monokotil (berbiji keeping satu), gulma dikotil (berbji keping dua), dan gulma paku-pakuan. • Tanggapan terhadap herbisida Berdasarkan tanggapan pada herbisida, gulma dikelompokkan menjadi gulma: (1) berdaun lebar, (2) rumputan, dan (3) teki. Tanggapan terhadap herbisida merupakan acuan dalam pengendalian gulma secara kimiawi. 2. Teknik Pengendalian • Mekanis Teknik pengendalian cara ini dilakukan dengan cara pengolahan tanah konvensional dan penyiangan. Pengolahan tanah konvensional dilakukan dengan cara membajak, menyisir dan meratakan tanah, menggunakan tenaga ternak dan mesin. Untuk penanaman berikutnya tidak perlu dilakukan pengolahan tanah. Untuk pertanaman jagung tanpa olah tanah umumnya pertumbuhan gulma lebih sedikit dibanding yang olah tanah.Penyiangan secara mekanis dilakukan dengan tangan. Kegiatan penyiangan umumnya dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada umur 42 hari setelah panen dan menjelang panen. Kelemahan teknik pengendalian secara mekanis memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Untuk menyiang lahan jagung seluas 1 ha setidaknya dibutuhkan 15 hari orang kerja, atau menyerap 35-70% tenaga yang dibutuhkan dalam proses produksi jagung. • Menggunakan Herbisida Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida dilakukan pada pertanaman jagung tanpa olah tanah. Penyemprotan herbisida biasanya dilakukan pada saat sebelum penanaman. Namun demikian, setelah tanaman tumbuh masih perlu dilakukan pengendalian gulma dengan tangan, penggunaan alat mekanis, dan penyemprotan herbisida. Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida dilakukan karena makin terbatasnya tenaga kerja serta mahalnya biaya yang dikeluarkan. Dalam penggunaan herbisida pada tanaman jagung, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a. Cara kerja pestisida Berdasarkan cara kerjanya, ada dua jenis herbisida, yaitu: Herbisida kontak dan herbisida sistemik. Herbisida kontak dapat mematikan bagian tumbuhan/gulma yang terkena herbisida jenis ini cocok untuk jenis gulma berdaun lebar. Sedangkan herbisida sistemik cara kerjanya dapat mematikan tumbuhan/gulma setelah diserap dan tersebar ke suluruh bagian tanaman. Beberapa jenis gulma yang biasa dikendalikan dengan herbisida jenis ini adalah kelompok teki dan alang-alang. b. Jenis gulma Berdasarkan jenis gulma dapat dibedakan menjadi: Herbisida selektif dan herbisida non selektif. Herbisida selektif hanya mampu mematikan gulma tertentu, sedangkan herbisida non selektif dapat mematikan banyak jenis gulma. c. Bahan aktif Memperhatikan bahan aktif yang terkandung dalam herbisida penting dilakukan, sebagai bahan pertimbangan pemilihan jenis herbisida yang tepat sesuai dengan jenis gulma yang akan dikendalikan. Pada usahatani jagung, beberapa bahan aktif herbisida yang banyak digunakan diantaranya: glifosat, paraquat, 2,4-D, ametrin, dikamba, atrazin, pendimetalin, metolaklor, dan sianazin. Herbisida dengan bahan aktif glifosat yang disemprotkan ke daun efektif dapat mengendalikan gulma jenis rerumputan tahunan dan gulma berdaun lebar tahunan, gulma rumput setahun, dan gulma berdaun lebar. Bahan aktif ini sangat cepat tersebar ke seluruh bagian tanaman ketika diaplikasi pada daun, dan cepat terurai dalam tanah. Herbisida bergahan aktif paraquat merupakan bahan herbisida kontak non selektif. Herbisida dengan bahan aktif ini baik digunakan untuk mengendalikan gulma golongan rumputan dan berdaun lebar. • Pengendalian Terpadu Teknik ini dilakukan dengan mengutamakan pengendalian secara alami, dengan cara menciptakan keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan gulma dan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma. Misalnya dengan cara memperbaiki cara budidaya tanaman, salah satunya dengan meningkatkan populasi tanaman. Pengendalian terpadu dapat dilakukan dengan cara mengombinasikan efektivitas dan efisiensi ekonomi. Caranya dengan membatasi penggunaan herbisida namun dibarengi dengan pengolahan tanah setelah tanam. Pengolahan tanah dapat mencegah perkembangan ketahanan populasi gulma terhadap herbisida, mengurangi ketergantungan terhadap herbisida, dan menunda atau mencegah peningkatan jenis gulma tahunan yang sering menyertai dan timbul bersamaan dengan pengolahan konservasi. Sumber: Fadhly dan Tabri: Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung (http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/images/stories/satulima.pdf) Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com