Kebutuhan gula industri makanan, minuman dan farmasi serta gula konsumsi masyarakat Indonesia, sampai saat ini masih belum tercukupi, sehingga pemerintah masih melakukan impor. Namun demikian pada tahun 2008 Indonesia telah berhasil mencapai swasembada gula konsumsi yaitu produksi gula mencapai 2.702 juta ton sedang kebutuhan gula konsumsi sebanyak 2,69 juta ton. Produksi dan produktivitas tanaman tebu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya budidaya tanaman, panen, pasca panen dan pengolahannya. Khususnya dalam budidaya tebu, yang perlu di perhatikan adalah adanya gangguan gulma yang dapat menurunkan produksi tebu. Untuk itu perlu dilakukan pengendalian secara intensif tanpa merugikan lingkungan yaitu dilakukan melalui cara budidaya dan cara mekanis, cara kimia hanya dilakukan apabila cara-cara lain sudah tidak mampu lagi untuk menanggulanginya. Berbagai macam gulma yang dijumpai pada tanaman tebu diantaranya: gulma berdaun sempit antara lain tuton (Echinochloa), rumput teki (Cynodon dactylon), Leptochloa chinensis, panicum repens dan cyperus rotundus. Berdasarkan penelitian gulma dapat menyebabkan penurunan bobot tebu yang ditanam di lahan sawah mencapai 53% sedang di lahan tegal gulma dapat menurunkan bobot tebu sekitar 22-45%. Khususnya pada pertanaman di tebu lahan kering, gulma lebih beragam dan lebih berbahaya. Gulma yang dominan akan menjadi pesaing kuat pada pertanaman tebu terdiri atas gulma daun lebar dan merambat, gulma daun sempit dan teki-tekian. Gulma daun lebar dan merambat terdiri atas Cleome ginandra, Emilia sonchifolia, Boreria alata, Amaranthus dubius, Spigelia anthelmia, Commelina elegans, Mikania micrantha dan Momordica charantia. Gulma daun sempit tediri atas Digitaria ciliaris, Echinochloa colonum, Eleusine indica, Dactylocta aegyptium dan Brachiaria distachya sedangkan gulma golongan teki adalah Cyperus rotundus. Pengendalian gulma terpaduMengacu pada UU no. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman diantaranya dalam melindungi tanaman dari serangan OPT (organisme pengganggu tanaman) dilakukan dengan cara pengendalian hama terpadu yaitu dalam mengendalikan OPT dilakukan dengan cara non kimiawi. Cara ini antara lain dengan menerapkan budidaya tanaman yang baik atau dengan cara mekanis, pengendalian dengan cara kimiawi hanya dilakukan apabila cara lain tidak mampu lagi. Pengendalian gulma pada tanaman tebu dengan menerapkan budiidaya tanam yang baik:1. Tanah diolah sampai gembur dengan kedalaman minimal 50cm, pengolahan ini dimaksudkan untuk membersihkan gulma sampai ke akar-akarnya kemudian sisa-sisa gulma tersebut dibuang dan dibakar;2. Melakukan pengaturan draenasi dan membersihkan gulma yang tumbuh di genangan air;3. Menanam tebu dengan sistim tumpang sari dengan palawija (kedelai atau kacang tanah);4. Mengatur jarak tanam dengan jarak tanam yang lebih rapat;5. Menutup lahan dengan mulsa dengan tujuan menghambat pertumbuhan gulma dan mengurangi penguapan air tanah serta bahan organik tanah.Pengendalian dengan cara mekanis Pengendalian gulma pada tanaman tebu dengan cara mekanis dapat dilakukan dengan cara manual maupun dengan alat mesin. Pengendalian gulma secara mekanis dilakukan dengan menggunakan Tyne Cultivator dan Terra Tyne. Dilaksanakan pada saat pengemburan tanah. Pengendalian tersebut dilaksanakan pada saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam. Dengan cara manual dilakukan dengan penyiangan gulma dengan cara mencabuti gulma yang tumbuh dengan tangan, sedang penyiangan dengan mesin dapat dilakukan dengan mesin weeder rake, rotavator atau dengan spinner weeder yang berfungsi mencabut gulma diantara juringan tebu.. Untuk pertanaman sistem reynoso, pengendalian lebih dominan dilakukan secara manual. Pengendalian gulma secara manual dilaksanakan oleh tenaga kerja dengan mempergunakan peralatan sederhana, dilaksanakan pada saat kondisi tanaman tebu masih dalam stadia peka terhadap herbisida, gulma didominasi oleh gulma merambat, populasi gulma hanya spot – spot, ketersediaan tenaga kerja yang cukup dan herbisida yang tidak tersedia di pasaran. Kapasitas kerja pengendalian gulma berbeda tergantung pada pengendalian gulma yang dilakukan.Pengendalian dengan cara kimiawiPengendalian dengan cara kimiawi hanya dilakukan pada kondisi gangguan gulma tidak bias dikendalikan baik secara budidaya maupun secara mekanis. Pengendalian dengan herbisida harus dilakukan sesuai anjuran baik dosis maupun konsentrasinya agar tidak merusak tanaman maupun lingkungan. Penggunaan herbisida yang berlebihan menyebabkan daun mengalami fitotoksis dan kering seperti terbakar. Herbisida yang direkomendasikan untuk mengendalikan gulma pada tanaman tebu antara lain:2,4 D dimetil amina 865 gr/liter,ametrin 485 gr/liter, ametrin 500 gr/liter, ametrin 80%, parakuat diklorida276 gr/liter, diuron 80,36% dan diuron 500 gr/liter. Pertanaman tebu di lahan kering, pengendalian gulma umumnya dilakukan secara kimia yang dibedakan menjadi tiga yaitu pre emergence (pra tumbuh), late pre emergence (awal tumbuh) dan post emergence (setelah tumbuh). Pengendalian gulma pra tumbuh (pre emergence) adalah pengendalian gulma yang dilakukan pada saat gulma dan tanaman tebu belum tumbuh. Dilaksanakan pada 3 – 5 hari setelah tanam. Aplikasi herbisida dilaksanakan dengan menggunakan Boom Sprayer yang mempunyai lebar kerja 12 meter (8 baris) yang ditarik oleh traktor kecil 80 HP. Kecepatan kerja sekitar 1,52 km/jam. Late pre emergence adalah pengendalian gulma yang dilakukan pada saat gulma sudah tumbuh dengan 2 – 3 daun dan tanaman tebu sudah berkecambah. Late pre emergence dilaksanakan karena terjadi keterlambatan aplikasi pre emergence, sedangkan post emergence dilaksanakan pada saat gulma sudah tumbuh dan biasanya dilaksanakan 1 – 2 kali. Post emergence diaplikasikan secara manual dengan hand sprayer/knapsack sprayer. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Sri Muyaningsihnn dan Subiyakto, 2015, "Pengendalian Gulma pada Pertanaman Tebu" dalam Warta Litbang Pertanian Vol.37 No.2 th.2015; 2) Pedoman Budidaya Tanaman Tebu Lahan Sawah, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, 2006 .dan 3) Dihimpun dari beberapa sumber