Loading...

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
PENGENDALIAN HAMA TERPADU PHT adalah memadukan berbagai metode pengelolaan tanaman Budidaya dalam perpaduan yang paling efektif dalam mencapai stabilitas produksi, dengan kerugian minimal mungkin bagi menusia dan lingkungan. PHT meliputi 4 (empat) prinsip dasar : Tanaman Budidaya Yang Sehat SASARAN pengelolaan agroekosistem adalah produktivitas tanaman budidaya. Tanaman yang memperoleh cukup pemupukan, pengairan, penyiangan gulma, dan disertai pengolahan tanah yang baik sebelum masa tanam adalah dasar bagi pencapaian hasil produksi yang tinggi. Masalah lain yang cukup penting adalah pemilihan varietas tahan terhadap penyakit dan hama yang lazim menyerang serta mudah beradaptasi dengan jenis tanah dam iklim lokal daerah tersebut. TANAMAN budidaya sehat dan kuat menjadi bagian penting dalam program pengendalian hama. Perlindungan tanaman terhadap penyakit tergantung pada ketahanan varietas terhadap infeksi dan perkembangan penyakit tanaman. Jika infeksi tetap terjadi, maka tanaman yang kuat dapat mengatasi kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Dalam kasus kerusakan karena serangga, maka tanaman yang sehat dapat mengatasi kerusakan daun atau anakan dengan membentuk daun dan anakan baru, atau dengan petumbuhan yang lebih kokoh dari anakan yang tidak rusak. Melestarikan dan Mendayagunakan Fungsi Musuh Alami. KEKUATAN unsur-unsur alami sebenarnya mampu mengendalikan lebih dari 99% hama kebanyakan lahan agar tetap berada pada jumlah yang tidak merugikan. Tanpa disadari, sebenarnya semua petani bergantung pada kekuatan alami yang sudah tersedia di lahan masing-masing. PHT secara sengaja menggunakan dan memperkuat peranan musuh alami yang menjadi jaminan pengendalian ledakan hama. Pada tanaman padi, ini mengakibatkan berkurangnya frekuensi penyemprotan pestisida menjadi kurang dari 1 kali semprot per musim tanam. Pengurangan penggunaan pestisida berarti mendatangkan keuntungan ekonomis, kesehatan, dan juga berkurangnya bahaya terhadap kelestarian keseimbangan lingkungan. Pengamatan Lahan Secara Mingguan MASALAH hama tidak timbul begitu saja. Masalah ini timbul karena kombinasi pertumbuhan populasi hama. Kondisi lingkungan atau ekosistem sangat penting artinya dalam kaitannya dengan timbulnya masalah hama. Dalam kaitan hal ini, PHT menganjurkan pengamatan lahan secara mingguan oleh petani sendiri untuk mengkaji masalah hama yang mungkin timbul dari keadaan ekosistem lahan yang cenderung berubah dan terus berkembang. Petani Sebagai Ahli di Lahannya Sendiri PADA DASARNYA tidak ada dua lahan yang benar-benar sama. Setiap lahan memiliki ekosistem dengan ciri khas sendiri. Oleh karena itu petani perlu memiliki keterampilan untuk memantau sendiri lahannya, menganalisa kondisi yang ada, membuat keputusan yang bijaksana, dan mengambil tindakan pengendalian hama yang tepat, praktis dan menguntungkan. PENGENDALIAN Hama Terpadu membantu petani untuk mempelajari dan mempraktekkan keterampilan teknologi pengendalian hama. Hal ini penting dalam mencapai sasaran pengelolaan egroekosistem, yaitu hasil produksi yang tetap stabil. Keuntungan Pendekatan PHT DITINJAU dari berbagai aspek Pengendalian Hama Terpadu memiliki keuntungan seperti di bawah : Aspek Stabilitas Produksi SWASEMBADA beras telah tercapai dengan usaha nasional jangka panjang, lebih dari satu dekade. Dengan perpaduan yang meliputi azas-azas dasar seperti diuraikan diatas, PHT menawarkan metode pengelolaan agroekosistem yang menunjang stabilitas produksi dan swasembada pangan. Dan dalam skala nasional, tercapainya stabilitas produksi pangan berarti juga akan mendukung stabilitas nasional. Aspek Ekonomi SEPERTI dikemukakan diatas, PHT pada umunya berarti penguraian penggunaan pesetisida jauh lebih sedikit dari jumlah yang cenderung digunakan oleh petani. Dalam skala nasional pengurangan ini telah menghemat 50-100 juta dollar pertahun yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk mensubsidi penyediaan pestisida. Dari sudut pandang petani, ini berarti mendatangkan keuntungan yang lebih besar karena dengan biaya masukan yang lebih rendah, hasil yang didapat tetap atau bahkan meningkat. Aspek Kesehatan PESTISIDA yang digunakan di lahan pertanian seringkali meninggalkan residu di dalam hasil produksi pertanian. Jika hasil produksi tersebut memasuki pasar konsumen, maka residu pestisida akan sampai ke konsumen dan terkumpul sedikti demi sedikit di dalam tubuh yang memakannya. Pada dosis tertentu penumpukan pestisida di dalam tubuh sangat berbahaya bagi kesehatan, karena pada dasarnya bahan kimia penyusun pestisida adalah racun yang berbahaya bagi manusia. Akibat jangka panjang penumpukan bahan kimia dalasm tubuh manusia dapat menyebabkan kelahiran cacat atau timbulnya kanker. CARA TERBAIK Untuk mengurangi bahaya pestisida terhadap kesehatan manusia adalah dengan pestisida dan itu berarti mengurangi penggunaan pestisida, sesuai dengan anjuran yang tercantum dalam INPRES 3/86. PHT menekan penggunaan pestisida seminimal mungkin, yaitu jika memang benar-benar diperlukan. PHT berarti mengurangi ancaman pestisida terhadap kesehatan manusia. Aspek Lingkungan PENGGUNAAN Pestisida untuk membunuh hama seringkali juga membunuh organisme lain yang bukan sasaran di dalam suatu ekosistem. Jika organisme bukan sasaran yang terbunuh adalah organisme yang menguntungkan Pada budi daya padi secara organik, penggunaan pestisida kimia sama skali tidak dibenarkan dalam pemberantasan hama dan penyakit. Padahal di laha, kemungkinan kehadiran hama dan penyakit perlu dilakukan secara terpadu antara teknik budidaya, biologis, fisik (perangkap atau umpan) dan kimia (pestisida organik) 2. Hama Penting pada Padi Wereng Hama ini berupa serangga kecil dari ordo Homopetra. Ada banyak jenis hama yang sering menyerang padi antara lain wereng coklat, wereng hijau dan wereng putih. Imigo betina mampu bertelur sebanyak 100-200 butir. Telur tersebut diletakkan secara berkelompok dalam jaringan daun tanaman. Stadium terlur berlangsung 7 – 10 hari, nimfa 12 – 15 hari dan imago 10-24 hari. Werang sangat menyukai lingkungan hidup yang lembab dan gelap. Wereng dianggap sebagai hama penting karena serangga dewasa atau imago dan nimfanya mengisap ciran pada pangkal batang dan bulir padi yang masih lunak. Tanaman yang terserang menjadi layu, menguning dan akhirnya mati.2. 2. Walang Sangit Walang Sangit bertubuh ramping dengan tungkai dan antena memanjang. Bila merasa terganggu, imago akan mengeluarkan bau menyengat. Stadium imago ini berlangsung sekitar 2 – 3 bulan. Imago betina mampu menghasilkan telur berwarna merah kecoklatan sebanyak 200 – 300 butir. Telur tersebut diletakkan berkelompok dipermukaan atas daun dekat tulang utama saat tanaman mulai berbunga. Setelah 5 – 8 hari, telur akan menetas menjadi nimfa. Nimfa akan menjadi walang sangit dewasa setelah 17 – 27 hari. 3. Penggerek Batang Imago (ngengat) penggerek batang hanya hidup sekitar 3 – 5 hari. Panjang imago sekitar 13 mm. imago betina bertelur sebanyak 200-300 butir yang diletakkan berkelompok secara tumpang tindih pada permukaa bawah daun dekat tulang daun utama. Telur tersebut menetas menjadi larva setelah 5-6 hari. Larva yang baru menetas segera masuk ke antara pelepah batang padi dan menggerek jaringan tanaman. Serangan yang terjadi saat tanaman masih muda dikenal dengan ama ‘sundep’. Tanda serangan sundep ini antara lain daun termuda mengering dan muda dicabut. 4. Ganjur Imago ganjur berbentuk seperti nyamuk. Wrnanya kemerahan. Fase hidyup imago ini hanya empat hari. Imago betina mampu bertelur 100-250 butir. Telur tersebut diletakkan berkelompok dipermukaan bawah pangkal daun. Telur akan menetas menjadi nimfa setelah 3-4 hari. Penetasan telur ini dibantu oleh titik-titik embun. Nimfa memiliki masa hidup 14-17 hari. Nimfa yang menetas bergerak diantara selundang daun dan batang menuju titik tumbuh tanaman. Selanjutnya nimfa memakan bagian tanaman diantara dasar titik tumbuh dan pucuk tanaman. 5. Tikus Diantara berbagai jenis hama tanaman padi, tikus merupakan hama yang paling menjengkelkan bagi petani karena sulit diberantas. Tikus merupakan binatang bersifat jera hama yaitu tidak akan memangsa umpan beracun lagi bila pernah memangsanya. Perkebangbiakannya pun sangat cepat. Dalam setahun sepasang tikus dapat beranak 1.270 ekor. Tikus menyerang tanaman padi mulai dari yang masih di persemaian, stadia vegetatif, maupun setelah membentuk biji. Artinya tikus sangat menyukai daun, batang maupun biji padi. 6. Burung Pemakan Biji-Bijian Ada beberapa jenis burung pemakan biji-bijian yang dapat menjadi hama padi, diantaranya ialah pipit tudung putih, pipit haji, pipit jawa, gelatik, perkutut dan derkuku. Berbeda dengan tikus yang memakan tanaman mulai dari persemaian hingga berbulir, burung pemakan biji-bijian ini hanay memakan biji padi yang sudah berisi, baik masih muda maupun siap panen. 3. Penyakit Penting Pada Padi Penyakit merupakan suatu kondisi tidak normal yang menyebabkan fungsi tanaman terganggu. Adanya penyakit dapat diketahui dari gejala yang dialami tanaman. Ada beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman padi, yaitu sebagai berikut : Bercak Coklat Blast Tungro Penulis : Rohani, SST (PPL Kel. Borong - Tanralili)