Loading...

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Jagung

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Jagung
Peningkatan produksi jagung dalam negeri masih berpeluang besar baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam utamanya di luar Jawa. Meskipun produktivitas jagung meningkat, namun rata-rata tingkat produktivitas jagung Nasional dari areal panen sekitar 3,60 juta hektar baru mencapai 3,40 t/ha. Kegiatan litbang jagung dari berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta telah mampu menyediakan teknologi produksi jagung dengan tingkat produktivitas 4,0 – 9,0 ton/ha, tergantung pada potensi lahan dan teknologi produksinya. Upaya peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam akan berlangsung pada berbagai lingkungan atau agro-ekosistem yang beragam mulai dari lingkungan berproduktivitas tinggi (lahan subur) sampai yang berproduktivitas rendah (lahan sub-optimal dan marjinal). Untuk itu diperlukan penyediaan teknologi produksi jagung yang beragam dan spesifik lingkungan. Penerapan teknologi budidaya jagung oleh petani yang sekarang berlaku, pada umumnya masih bersifat parsial khususnya bagi wilayah berproduktivitas rendah. Memadukan sejumlah komponen teknologi produksi diharapkan akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani jagung. Keberhasilan perbaikan produktivitas dan pendapatan tersebut pada gilirannya akan memperlancar upaya pengembangan areal pertanaman jagung di Indonesia. Budidaya jagung dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) diharapkan mampu memberikan produktivitas dan pendapatan petani yang otimal karena efisiensi produksi akan meningkat, serta penerapannya pada skala luas akan dapat mingkatkan produksi jagung nasional dan ekonomi masyarakat yang terkait. Pengendalian Hama dan Penyakit merupakan faktor penentu dan salah satu bagian dalam pengelolaan tanaman terpadu tanaman jagung. Oleh karena itu kita harus dapat mengenal jenis hama dan penyakit serta pengendaliannya. a. Hama tanaman jagung dan pengendaliaanyaPenggerek batang (Ostrinia furnacalis Guenee)Hama ini menyerang semua bagan tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Pengendaliannya dapat dilakukan secara : a). Kultur teknis : waktu tanam yang tepat, tumpengsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah, pemotongan sebagian bunga jantan (empat dari enam baris tanaman), b) hayati : berupa musuh alami seperti parasitoid Trichogramma spp. Atau Beauveria bassiana dan Metarhizium anisapliae, c). kimiawi : menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklorofos, dan karbofuran. Lalat Bibit (Atherigona sp)Lalat bibit dapat merusak pertanaman jagung hingga 80%, dan bahkan puso. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul diatas permukaan tanahPengendaliannya dapat dilakukan secara ; a). kultur teknis : pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung atau tanam serempak, b). menggunakan varietas yang tahan seperti jagung QPM putih atau kuning, c). hayati : parasitoid Trichogramma spp, opius sp, Tetrastichus sp. Atau Clubiona japonicola, d). kimiawi : dengan perlakuan benih (seed dressing), yaitu Thiodikarb atau karbuforan sesuai dosis. Ulat/Penggerek Tongkol (Helicoverpa aemigera Hbn)Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 10%. Meskipun relative rendah, serangannya mempengaruhi mutu tongkol jagung. Imago betina akan meletakan telur pada slik (rambut) jagung. Sesaat setelah menetas, larva masuk ke dalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang berkembang.Pengendaliannya dengan cara : a). kultur teknis : pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi hama ini, b). hayati : parasitoid Trichogramma spp, Eriborus argentiopilosa, Bacilus thuringensis atau virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV), c). Kimiawi menggunakan insektisida Decis. b. Penyakit Tanaman Jagung dan Pengendaliannya Bulai/Downy MildewKehilangan hasil jagung akibat penyakit bulai dapat mencapai 100% pada varietas rentan. Gejalanya terlihat adanya warna putih pada permukaan daun sampai kekuningan, diikuti oleh garis-garis klorotik. Ciri lainnya pada pagi hari disisi bagian bawah daun terdapat lapisan berbulu halus warna putih yang terdiri atas konidofor dan konidium jamur.Pengendaliannya dengan cara, menanam varietas tahan seperti sukmaraga, lagaligo, srikandi K-1, lamuru dan gumarang, periode tanaman jagung minimal 2 minggu hingga satu bulan di areal pertanaman serta tanam serentak. Busuk TongkolTongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan dapat menjadi busuk dan klobotnya saling menempel erat pada tongkol, badan buah berwarna biru hitam tumbuh dipermukaan klobot dan tongkol. Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.Pengendaliannya dengan cara pemeliharaan tanaman yang sebaik-baiknya, anatara lain dengan pemupukan berimbang, tidak membiarkan tongkol terlalu lama mongering dilapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipatahkan agar ujung tongkol tidak mengarah ke atas, mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi padian, karena pathogen ini mempunyai banyak tanaman inang. Ditulis oleh : R. Dani Medionovianto Sumber : BPTP Sulawesi Tengah, Balit Serealia Maros