Beberapa Penyakit Yang Sering Menyerang Tanaman Kedelai KARAT DAUN. Penyebabnya adalah cendawan Phakopsora pachyrhizi Syd. Sinonim penyebab penyakit ini antara lain disebut P. melbomiae (Arth) Trooter, P. sojae Fujikuro, E. viginae (Bres) Arth,Physopellci concors Arthur, Uredo concors Art., U. sojae P.Henn, U. vignae Bres., dan U. mucunae Rab. Penularan penyakit karat daun ini melalui spora yang diterbangkan oleh angin. Penyakit ini muncul pada pertanaman kedelai di musim hujanatau kondisi lingkungan lembab dan suhu udara tinggi sekitar20° - 35° C. Berbagai jenis tanaman kacang-kacangan merupakan sasaran penyakit karat daun. Pada gejala serangan, penyakit karat terutama menyerang daun-daun kedelai yang agaktua, mulai saat tanaman berbunga hingga biji berkembang penuh.Gejala pada daun yang terserang adalah terjadi perubahan warna dari hijau menjadi coklat yang kemudian mengering dan akhimya layu. Sebelumnya terdapat bintik-bintik kecil kemudian menjadi bercak-bercak berwarna coklat pada bagian bawah daun. Serangan berat menyebabkan daun gugur dan polong hampa. Infeksi awal dimulai dari daun-daun pada batang sebelah bawah dan terus menjalar ke daun-daun sebelah atas. Pengendalian penyakit karat dianjurkan dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian yang ramah lingkungan untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas kedelai yang tahan penyakit karat serta dengan penyemprotan fungisida nabati (penyemprotan minyak cengkeh). Tak hanya itu, pengendalian dapat menggunakan cara pengendalian lain yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi jamur parasit. Jamur parasit Verticillium lecani. Jamur ini dapat memparasit jamur karat pada tanaman kacang tanahDikatakan bahwa menunjukkan bahwa Verticillium sp. mampu memparasit jamur karat kedelai lebih 40%. Ketiga langkah pengendalian tersebut tidak hanya efektif namun juga aman dan tidak akan mencemari lingkungan, ANTRAKNOSE. Penyakit ini disebabkan patogen Colletotrichum dematium. Pada tanaman yang terserang penyakit ini, akan terlihat pada batang, tangkai daun dan polong ada bercak coklat-hitam tak teratur. Daun nekrosis pada tulang daun dan menggulung atau kanker pada tangkai daun. Pada daun muda penyakit dapat menyebabkan matinya daun atau sebagian dari helaian daun. Gejala ini yang sering disebut sebagai hawar daun. Pada daun dewasa penyakit dapat menyebabkan terjadinya bercak-bercak nekrosis (jaringan mati) yang terbatas tidak teratur. Biji terinfeksi berbercak coklat. Kotiledon kecambah bercak coklat hitam. Pada cuaca lembab atau berkabut , patogen membentuk spora(konidium).Konidia tersebut kemudian dapat disebarkan oleh air hujan, angin, dan serangga. Di dalam air konidia sudah berkecambah dalam waktu 3 jam, sehingga hujan yang kecil pun dapat mendukung terjadinya infeksi.Patogen Colletotrichum dapat bertahan pada ranting-ranting sakit atau pada daun daun sakit di pohon atau di permukaan tanah. Pengendalian penyakit ini bergantung pada intensitas serangan patogen. Bila terindikasi serangan kategori berat, maka dapat dilakukan sanitasi serta penyemprotan fungisida yang berbahan aktif karbendazim dengan konsentrasi 0,2% formulasi. Bila sudah terindikasi kategori sangat berat, maka dilakukan eradikasi yang dilakukan dengan pembongkaran tanaman sakit. MOSAIK KEDELAI. Salah satu penyakit kedelai yang disebabkan virus adalah penyakit mosaic kedelai. Infeksi virus pada biji dapat menyebabkan viabilitas atau daya tumbuh benih rendah. Penyakit ini membuat daun melilit, melengkung, tulang daun jernih (vein clearing), mosaik, berwarna lebih tua dibandingkan dengan daun sehat, serta rapuh. Pada tanaman yang terkena penyakit, bentuk polong menjadi tidak normal. Kulit biji yang terdapat belang coklat yang radial.Penyakit ini disebabkan oleh Soybean Mosaic Virus (SMV). Virus tersebut menghasilkan gejala biji mottle (burik) dan non-mottle. Oleh karena itu biji non-mottle tidak dapat dijadikan jaminan bebas SMV.Virus ini akan aktif setelah benih disemaikan dan menyebabkan tanaman terinfeksi. Infeksi SMV pada awal pertumbuhan akan menghasilkan produktivitas yang semakin rendah. Virus ini dapat mengakibatkan penurunan produksi 50-90%.Pengendalian dapat dilakukan dengan pemeliharaan tanaman yang baik seperti dengan penyiraman, pemupukan, pengendalian gulma serta pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Cara pengendalian virus SMV diantaranya dengan eradikasi gulma, isolasi tanaman, penanaman bibit sehat, pembongkaran tanaman sakit, pengendalian vektor, dan penggunaan kultivar tahan. Pengendalian secara biologi menawarkan cara yang relatif lebih murah dan ramah lingkungan. Alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dapat dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme sebagai agen biocontrol. Terdapat teknologi pengendalian SMV melalui pemanfaatan agens hayati Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). PGPR dapat berperan sebagai bioprotectan dan biostimulan. Rhizobakteria dapat menekan insiden penyakit virus pada tanaman cabai melalui mekanisme induksi ketahanan secara sistemik atau menghasilkan hormon tumbuh. Salah satu bakteri rhizobakteria yaitu Pseudomonas aeruginosa dapat mengurangi kejadian penyakit yang disebabkan virus soybean stunt virus (SSV) pada tanaman kedelai antara 10% hingga 75%. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Penyuluh Pertanian) Sumber :1. BPPSDM Pertanian. 2015. Petlap : Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (Opt) Tanaman Kedelai. (http://www.pertanian.go.id/pajale2015, diakses 10 Desember 2015)2. Ramlan dan Nurjanani (BPTP Sulsel)Pengenalan Penyakit Karat Daun (Phakopsora Pachyrhizi) Dan Pengelolaannya Pada Kedelai. (http://www.academia.edu, diakses 11 Desember 2015)3. Setyowibowo, Nugroho&Widyaiswara Pertama (BPP Jambi). 2015. Peran Bakteri Dari Akar Tanaman Kedelai Dalam Meningkatkan Ketahanan Tanaman Terhadap Soybean Mosaic Virus SMV. (http://www.bppjambi.info/dwnfilemanager.asp?id=1432, diakses 11 Desember 2015)4. Syahnen dan Sry Ekanitha. Ancaman Penyakit Antraknosa (Colletotrichum Gloeosporioides) Pada Tanaman Kakao Dan Pengendaliannya (http://ditjenbun.pertanian.go.id, diakses 11 Desember 2015)