Loading...

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU
Pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar. PHT merupakan paduan berbagai cara pengendalian hama dan penyakit diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman, sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat lebih tepat. Hama yang sering menyerang tanaman padi sawah adalah: Tikus, Penggerek Batang, Walang Sangit, Keong Mas, Hawar Daun Bakteri (HDB) dan Blast.A. TIKUSPengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa repro duksi. Kegiatan tersebut meliputi gropyokan masal, pemasangan pagar plastic.Gropyokan dilaksanakan dengan melibatkan semua anggota kelompoktani, berupa pembongkaran sarang tikus pada habitat utama seperti sepanjang tanggul irigasi, pematang besar, tanggul jalan dan batas sawah dengan perkampungan. Pada daerah endemi tikus, lindungi persemaian dengan memasang pagar plastik dan memasang dua bubu perangkap.Pada periode vegetatif lakukan sanitasi gulma pada habitat tikus, baik pada hamparan sawah mupun sekitar sawah agar tidak digunakan sebagai sarang tikus. Bila populasi tikus masih tinggi, lakukan fumigasi asap belerang pada tiap sarang aktif tikus.B. PENGGEREK BATANGStadia tanaman yang rentan terhadap serangan penggerek batang adalah mulai pembibitan sampai pembentukan malai.Gejala kerusakan yang ditimbulkan mengakibatkan anakan mati. Pada stadia vegetatif serangan penggerek batang disebut sundep, sedangkan pada stadia generatif disebut beluk (malai hampa) Siklus hidupnya 40-70 hari. Ambang ekonomi penggerek batang adalah 10 % anakan terserang, 4 kelompok telur per rumpun (pada fase bunting).Bila populasi tinggi (di atas ambang ekonomi) aplikasikan insektisida. Bila genangan air dangkal, aplikasikan insektisida butiran seperti karbofuran dan fipronil, dan bila genangan air tinggi aplikasikan insektisida cair seperti dimehipo, bensultap, amitraz dan fipronil.C. WALANG SANGITWalang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Fase pertumbuhan tanaman padi yang rentan terhadap walang sangit adalah dari keluarnya malai sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur serta hampa.Ambang ekonomi walang sangit adalah lebih dari 1 ekor walang sangit per dua rumpun pada masa keluar malai sampai pembungaan. Cara pengendaliannya adalah (a)Kendalikan gulma di sawah dan di sekitar pertanaman (b)Pupuk lahan secara merata agar pertumbuhan tanaman seragam (c)Tangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan.(d)Umpan walang sangit dengan menggunakan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, terasi atau dengan kotoran ayam.(e)apabila serangan telah mencapai ambang ekonomi, lakukan penyemprotan dengan insektisida (f) Lakukan penyemprotan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi. D. BLAST Blast dapat menginfeksi tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan. Gejala khas pada daun yaitu berbentuk belah ketupat-lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya. Ukuran bercak sekitar 1-1,5 x 0,3-0,5 cm, berkembang menjadi berwarna abu-abu pada bagian tengahnya. Bila infeksi terjadi pada ruas batang dan leher malai (neck blast), akan merubah leher malai yang terinfeksi menjadi kehitam-hitaman dan patah, mirip gejala beluk pada penggerek batang. Cara pengendaliannya adalah: (a)Gunakan varietas toleran blast secara bergantian (b) Gunakan pupuk nitrogen pada pemupukan pertama 0,3-0,5 dosis anjuran.(c)Upayakan waktu tanam yang tepat, agar waktu awal pembungaan tidak banyak embun dan hujan terus menerus (d) Gunakan fungisida yang berbahan aktif metal tiofanat, atau fosdifen dan kasugamisin. (e) Perlakuan benih E. WERENG COKLAT Wereng coklat merupakan hama tanaman padi yang penting sejak awal tahun 1970-an. Serangga dewasa berwama cokIat, berukuran 4 - 5 mm. Semua stadia wereng cokIat mula i dari nimfa sampal imago menghisap cairan jaringan tanaman. Namun yang sangat ganas adalah nimfa Instar 1 - 3. Gejala kerusakan, daun­ daun berwama kuning dan pangkal batang berwama kehitaman. Bila parah, tanaman mengering seperti terbakar (hopperbum).PoIa penyebaran Wereng Coklat (WCk) yang dimulai dari satu titlk, kemudlan meyebar ke segala arah dalam bentuk Iingkaran. Dalam keadaan demikian, populasi WCk biasanya sudah sangat tinggi.Gagal panen atau puso dapat terjadi ketika jumlah serangga lebih dari 20 ekor/ rumpun. Oleh karena itu pengendalian perlu jika wereng coklat telah mencapai ambang ekonomi (4 ekor/rumpun pada fase vegetatif dan 7 ekor/rumpun pada fase generatif.Peningkatan populasi wereng coklat di dorong oleh :((a)Penanaman varietas padi rentan (b)Penanaman padi tidak serentak (c)Penggunaan insektisida tidak tepat (jenis dosis, waktu dan cara), (d)Pemupukan tidak sesuai kebutuhan tanaman Penyusun :Sad Hutomo PribadiSumber : Irfan BPTP Riau