Sebagai bah an pangan utama kedua setelah beras, selain sebagai bahan pangan, jagung juga sangat banyak digunakan sebagai bahan pakan dan juga bahan baku industri Salah satu kendala dalam budidaya jagung yang dapat menyebabkan rendahnya produktivitas jagung adalah adanya serangan hama dan penyakit. Diperlukan berbagai upaya untuk mengendalikan hama dan penyakit, sehingga tidak berpengaruh pada produktivitas jagung. Dalam melakukan upaya pengendalian yang tepat, sangat penting diketahui gejala serangan, hal-hal yang menyebabkan penyakit berkembang, serta cara-caramengendalikannya. Dalam budidaya jagung, dikenal beberapa penyakit utama yang biasanya menyerang dan dapat menimbulkan kerugian. Beberapa penyakit tersebut diantaranya hama Lalat Bibit dan Penyakit Bulai. Hama Lalat bibit (Atherigona sp.) Lalat bibit berukuran kecil, telur berbentuk memanjang dan diletakkan pada daun termuda (hypocoty). Setelah 48 jam telur menetas pada waktu malam, tempayak keluar dari telur lalu bergerak cepat menuju titik tumbuh yang merupakan makanan utamanya. Hama ini mulai menyerang tanaman semenjak tumbuh sampai tanaman berumur sekitar satu bulan. Tempayak lalat bibit menggerek pucuk tanaman dan masuk sampai ke dalam batang. Lalat bibit menyukai tanaman muda yang berumur antara 6 sampai 9 hari setelah tanam (HST) untuk meletakkan telurnya. Pada saat itu tanaman baru berdaun 2–3 helai dan pada umumnya telur lalat terbanyak diletakkan pada daun pertama. Pada kedalaman tertentu biasanya tempayak ini bergerak lagi kebagian atas tanaman setelah menggerek batang, selanjutnya keluar untuk berpupa di dalam tanah (Iqbal et al. 1988). Pada serangan berat, tanaman jagung dapat menjadi layu ataupun mati dan jika tidak mati pertumbuhannya terhambat (Kalshoven 1981). Lalat bibit cepat berkembang biak dengan pada kelembaban tinggi, oleh karena itu di musim hujan lalat ini merupakan hama utama jagung. Siklus hidupnya berkisar 15–25 hari. Seekor lalat bibit betina mampu bertelur 20–25. Untuk pengendaliannya menggunakan varietas tahan dan seeds treatment melalui tanah pada waktu tanam atau diberikan pada kuncup daun pada umur tanaman satu minggu dengan dosis 0.24 kg b.a/ha. Penyakit bulai (Peronosclerospora sp.) Di Indonesia ada 2 jenis cendawan yang dapat menyebabkan penyakit bulai yaitu P. maydis dan P. philippinensis (Semangun 1973) Namun pada tahun 2003 telah ditemukan P. sorghi di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Gejala penyakit bulai ini, daun berklorosis sebagian atau seluruh daun, bila tanaman terinfeksi lebih awal akan menyebabkan tanaman kerdil, tidak berbuah, tetapi bila bertongkol, tongkolnya tidak normal dan dapat pula menyebabkan tanaman mati. Pengendalian : benih yang akan ditanam dilakukan seeds treatment terlebih dahulu dengan menggunakan bahan aktif metalaksil, atau disemprotkan fungisida Nordox 56WP pada tanaman dimulai pada umur 5 hari setelah tanam sampai tidak ada lagi gutasi ditanaman, dan dapat pula menggunakan varietas tahan . Disusun oleh : Yodi Yusnandar,A.Md Admin SMIPP BPP Kecamatan Cijeungjin Kab. Ciamis Sumber: Surtikanti : Hama dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan Pengendaliannya