4. Penggerek batangHama jagung juga dapat menyerang batang tanaman. Hama ini dapat mengakibatkan batang menjadi retak atau patah. Saluran makanan dan akar menjadi terputus, sehingga perkernbangan tanaman terhambat sama sekali. sekali. Hama penggerek batang ini digolongkan ke dalam Ordo : Lepidoptera; Familia : Pyralidae; Genus : Pyrausa/Ostninia; Species : Nubilalis/Furnacalis. Hama ini dikenal dengan nama Ostrinia furnacalis. Ngengat betina bertelur mencapai 90 butir tersusun rapi dalam satu kelompok. Periode telur 3 – 5 hari. Larva instar I dan II memakan daun muda. Larva instar III menggerek batang. Stadia larva antara 19 – 28 hari. Pupa terbentuk dalam batang jagung. Stadia pupa antara 5 - 10 hari. Siklus hidup sekitar 1 bulan.Penyerangan hama ini dilakukan sejak tanaman jagung berumur lebih kurang 1 bulan setelah tanam dan dilanjutkan sampai terbentuk tongkol. Bahkan pada saat terjadi proses pernasakan tongkol pun ulat masih rnenyerang juga. Gejala adanya lubang gerekan pada batang dengan kotoran menutupi lubang gerakan. Kemudian hama penggerek ini menuju batang atau bergerak ke arah malai. Bagian tanaman jagung yang diserang adalah ruas batang sebelah bawah dan titik tumbuh tunas daun tanaman jagung. Penggerekan batang jagung tersebut akan mengakibatkan saluran makanan rusak dan pengangkuan zat makanan terhambat sehingga kebutuhan makan pun tidak terpenuhi. Pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal atau bahkan tanaman selanjutnya dapat menjadi layu. Zat makanan yang akan dikirim ke tongkol selalu habis dalam pengangkutan, sehingga proses pembesaran buah tongkol juga terganggu. Apabila batang patah, akan terlihat adanya tanda-tanda bahwa batang tersebut bekas tergerek ulat. Setelah dilakukan pengamatan pada tongkol yang terserang hama akan terlihat luka, ada bagian yang robek/rusak. Bila tongkol dibuka akan tampak ulat penggerek tersebut dan tepung berwarna coklat.Pengendalian terhadap hama penggerek batang ini dapat dilakukan dengan pengeIolaan musuh alami seperti: Brachymeria euplosae, Poreus sirmitans, Spodromythes erythroferus. Musuh alami ini bila dibiarkanakan membantu menekan populasi hama penggerek.Untuk tanaman yang terserang harus dipotong dan ditanam dalam tanah.Penanggulangan dapat juga dengan menggunakan insektisida Azodrin 15 WSC dengan dosis 30 liter dalam 10 liter air. Sebaiknya dalam budidaya tanaman jagung, di sekitar tanaman, tidak terdapat tanaman inang. Hal ini disebabkan tanaman inang dapat memperpanjang kehidupan harna, termasuk rumput. Hama Penggerek UnguHama jenis ini sangat mengganggu tanaman. Ulat penggerek ini sering merusak tanarnan jagung, padi dan tebu. Ikiim yang relatif kering tetapi hujan cukup sangat cocok bagi kehidupan penggerek ungu.Penggerek ungu sering disebut juga penggerek merah jambu. Penggerek jenis ini digolongkan ke dalam Ordo : Lepidoptera; Famili: Noctuidae; Genus: Sesamia. Untuk ciri-cirinya, telur Sesarnia berbentuk bulat kecil-kecil. Diletakkan berderet di antara batang dan seludang daun, biasanya terdiri dan 2 - 3 baris. Ciri-ciri batang yang terserang akan terlihat tanda spesifik berbentuk lubang-lubang yang tidak beraturan pada buku. Besar lubang masuk maupun lubang keluar berbeda-beda. Akibat dari serangan hama ini, pertumbuhan tanaman jagung menjadi terganggu. Hal ini disebabkan jaringan pengangkutan makanan rusak atau terputus. Akhirnya tanaman akan menjadi Iayu.Penanggulangan dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida Hostathion 40 EC dan Nogos 50 EC. Hal ini dilakukan bila dinilai sudah membahayakan. Sebelumnya sebaiknya dengan memanfaatkan musuh alami jangkerik, tabuhan dan laba-laba. Penanaman sebaiknya juga serentak dan areal pertanaman dibersihkan dari tanaman inang. 5. Ulat tongkol (Heliothis armigera)Ciri larva Heliothis armigera diantaranya ulat berkepala hitam, badan berwama kuning, panjang ulat dapat mencapai I md atau 2,5 cm. Penyerangannya muIa-mula telur diletakkan pada rambut di ujung tongkol jagung. Telur diletakkan satu per satu pada rambut tongkol atau bagian lain pada waktu sore sampai malam hari. Setelah menetas, ulat masuk ke dalam tongkol menyusuri rambut rambut sambil makan bagian dan tongkol yang dilewati. Pertama -tama diawali dengan merusak pembungkus/kelobot, kemudian memakan biji-biji jagung. Di dalam satu tongkol jagung, biasanya ditempati satu ulat. Gejalanya dapat dilihat dengan adanya bekas gigitan pada biji dan adanya terowongan dalam tongkol jagung. Pencegahan dapat dilakukan dengan menanam varietas jagung yang memiliki pelepah buah panjang dan kuat. Pergiliran atau rotasi tanaman dapat diterapkan untuk mematahkan sikius hidup hama. Kondisi alam yang cukup membantu menekan hama ini antara lain hujan dapat menjatuhkan telur. Untuk pengendalian dengan penyemprotan menggunakan Furadan 3G atau dengan membuat lubang dekat tanaman, diberi insektisida dan ditutup lagi. Dosis yang digunakan 10 gram tiap meter persegi. Sebaiknya dilakukan pada saat tanaman jagung masih berbunga, jangan menjelang panen, sebab dapat membahayakan kita yang ikut mengkonsumsi jagung karena residu dari insektisida tersebut. Pengendalian bila hama dinilai dapat membahayakan, dapat dilakukan penyemprotan Atabron 25 ULV. 6. Belalang Baik nimfa maupun dewasa memakan daun dan dalam hal tertentu dapat menyebabkan gandulnya daun. Belalang bila bermigrasi dalam jumlah yang cukup besar dapat menyebabkan kerusakan yang berarti. Daur hidup belalang dari telur dileakkan pada lubang tanah yang dalamnya kira-kira 6 cm dari permukaan tanah. Lama penetasan 12 – 25 hari. Untuk pengendalian bila populasi tinggi dapat dilakukan dengan jaring/ net serangga. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : (1) AAK .1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Yogyakarta : Kanisius. (https://books.google.co.id/, diakses 24 Juli 2015); (2). Laksamana, Dedek. Hama dan Penyakit Tanaman Jagung dan Pengendaliannya(http://www.petanihebat.com, diakses 24 Juli 2015); (3).Surtikanti. 2011. Jurnal Litbang Pertanian : Hama Dan Penyakit Penting Tanaman Jagung Dan Pengendaliannya. (http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id, diakses 23 Juli 2015)