Produktivitas jagung di Indonesia masih rendah, hal ini disebabkan oleh berbagai hal diantaranya karena serangan hama dan penyakit. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengurangi penurunan produktivitas jagung tersebut melalui pengendalian terhadap serangan hama penyakit. Pada umumnya upaya pengendalian oleh petani pada saat ini masih menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Untuk itu diperlukan upaya agar petani jagung dapat melakukan pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengintegrasi komponen pengendalian yang selaras. Pengendalian Hama Terpadu ini terbukti tidak hanya meningkatkan produksi jagung tetapi juga meningkatkan pendapatan petani. Sistim PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama untuk mencapai ambang batas populasi yang merusak secara ekonomi. Sistim PHT yang bertujuan mengupayakan agar OPT tidak menimbulkan kerugian melalui cara-cara pengendalian yang efektif, ekonomis, dan aman bagi khalayak, produsen dan lingkungan diharapkan dapat menjadi acuan dasar dalam pengendalian OPT agar petani tidak bergantung pada pestisida atau bahan kimia lainnya. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis Guenee), merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Hama penggerek batang menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhannya, dan dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda.. Ngengat/imago aktif pada malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi per tahun. Umur ngengat dewasa antara 7 – 11 hari. Telur berwarna putih, diletakkan secara berkelompok antara 30-50 butir pada bagian bawah daun. Seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur diletakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9. Periode telur berlangsung 3?4 hari. Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah. Larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna cokelat kemerahan. Stadium pupa berlangsung 6-9 hari. Gejala seranganLarva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah serta tumpukan tassel yang rusak. PengendalianHama penggerek batang dapat dikendalikan dengan kultur teknis, pengendalian hayati, dan kimiawi. a. Pengendalian secara Kultur teknisPengendalian hama penggerek batang dapat dilakukan dengan menetapkan waktu tanam yang tepat, melakukan penanaman secara tumpang sari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah, serta dengan melakukan pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman). b. Pengendalian hayatiPengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatan musuh alami seperti Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. Furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman. c. Pengendalian kimiawiPenggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan penggerek batang jagung. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian).Sumber: 1. Petunjuk Lapang Hama. Penyakit. Hara pada Jagung.2. https://lutfiafifah.wordpress.com/2011/02/03/pengendalian-terpadu-hama-dan-penyakit-tanaman-pada-tanaman-jagung-di-kelurahan-situ-gede-bogor-barat/