PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella) DENGAN CARA AGENS HAYATI (SEMUT HITAM DAN RANGRANG). Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan penting di Indonesia, karena kakao sebagai penghasil devisa Negara, sebagai sumber penghasilan bagi petani maupun masyarakat lainnya. Indonesia merupakan salah satu produsen kakao utama di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Pengendalian hama pada tanaman kakao pada umumnya petani masih menggunakan insektisida kimiawi. Penggunaan insektisida kimiawi yang tidak tepat akan membawa dampak yang buruk, lebih merugikan dibanding yang dihasilkan antara lain dapat menyebabkan timbulnya resistensi hama, munculnya hama sekunder, pencemaran lingkungan dan ditolaknya produk karena masalah residu yang melebihi ambang batas toleransi. Untuk itu petani harus mempunyai bekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk dapat mengelola dengan baik yang dapat diperoleh melalui pelatihan atau pembelajaran di lapangan.Pengendalian Hayati adalah pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) oleh musuh alami (Agens pengendali hayati). Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agens pengendali hayati muncul karena kekhawatiran masyarakat dunia akibat penggunaan pestisida kimia sintetis. Adanya kekhawatiran tersebut membuat pengendalian hayati menjadi salah satu pilihan cara mengendalikan patogen tanaman yang harus dipertimbangkan.Agens Hayati merupakan Agens Pengendali Hayati (Biological Control Agens), setiap organisme meliputi species, subspecies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikroplasma serta organisme lainnya yang dalam semua tahap perkembangannya dapat digunakan untuk keperluan pengendalian hama penyakit tanaman atau organisme pengganggu dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluan. Agens pengendali hayati ini disebut patogen yang dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok yaitu patogen serangga dan agens antagonis patogen tumbuhan. Hama PBK merupakan hama utama dari tanaman kakao, dimana kerugian akibat serangan ini dapat mengakibatkan turunnya kuantitas dan kualitas biji kakao. Usaha pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan pengendalian hama secara agens hayati yaitu dengan menaruh semut hitam atau semut rangrang. Untuk pengendalian PBK semut predator yang digunakan dapat berupa semut hitam (D. thoracicus) atau semut rangrang (O. smaragdina). Langkah-langkah dalam pengendalian hama PBK dapat dilakukan sebagai berikut :• Letakkan semut pada bagian buah atau batang tanaman kakao. • Untuk dapat memelihara dan mengembangkan semut hitam dapat dilakukan dengan menempatkan lipatan daun kelapa kering dan dapat ditambah dengan gula merah dalam sepotong bamboo sebagai makanannya. • Kemudian setelah bambu berisi semut dapat di pindah dari satu pohon ke pohon lain dengan menaruh bamboo atau kayu tersebut. • Setelah semut menyebar pada buah dan batang kakao, hama penggerek buah akan sulit menaruh telur dalam alur buah kakao, dan apabila sudah berupa menjadi larva maka semut akan memakan larva-larva hama penggerek buah tersebut. Gejala serangan hama PBK yaitu :Serangan hama penggerek buah kakao dapat dikenali dari perubahan warna kulit buah menjadi belang hijau-kuning atau tampak seperti matang sebelum waktunya. Buah ini bila dibuka, bagian dalamnya akan berwarna coklat kehitaman.Pada kulit buah yang terserang juga terdapat garis hitam yang merupakan bekas liang gerekan larva penggerek buah kakao. Biji dari buah yang terserang biasanya berukuran kecil dan saling berdempetan satu sama lain. Biji ini sulit dikeluarkan karena melekat kuat pada kulit buah. Biji dari buah yang terserang penggerek buah kakao umumnya memiliki kadar lemak yang rendah sehingga harga jualnya pun rendah. Tanaman kakao yang berumur 3 tahun sudah menghasilkan dan belum terserang hama harus segera di cegah dengan mempelihara semut hitam sebagai predator larva hama penggerek buah kakao. Semut hitam dapat dimanfaatkan dalam pengendalian hama penghisap buah dan PBK. Semut hitam dapat menjadi kompetitor yang menyebabkan serangga PBK betina kesulitan meletakkan telurnya di permukaan buah kakao. Semut hitam juga dapat memangsa larva (ulat) PBK yang baru keluar dari dalam buah kakao yang hendak mempupa.Pengendalian dilakukan di lahan perkebunan kakao yang sudah menghasilkan. Hama Penggerek buah kakao berkembang biak dengan cara bertelur, hama ini biasanya meletakkan telur setelah matahari terbenam pada alur kulit buah kakao yang berlekuk. Kemudian semut dapat diletakkan di alur buah sebagai predator pemangsa larva setelah telur menetas. Pengendalian dilakukan dengan agens hayati karena, pada umumnya petani menggunakan insektisida kimiawi yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu upaya mengurangi dampak negatif dalam Pengendalian hama tersebut yaitu dengan memanfaatkan agens hayati seperti parasitoid, predator dan pathogen yang bersifat ramah terhadap lingkungan, mudah dan relatif murah. Yang melaksanakan pengendalian hama penggerek buah kakao adalah seluruh pekebun binaan yang ingin mempunyai bekal pengetahuan dan mau melaksanakannya. Dengan cara ini petani kakao akan mendapatkan hasil yang di inginkan, yaitu petani memiliki kebun kakao yang bebas dari hama penggerek buah dengan kriteria tanaman memiliki buah yang lebat, menghasilkan produksi yang banyak, kematangan buah sempurna, dan menghasilkan biji yang unggul. Beberapa cara pengendalian telah dilakukan, salah satu cara pengendalian yang relatif murah dan mudah serta aman terhadap lingkungan adalah pengendalian dengan menggunakan agensia hayati. Agensia untuk pengendalian PBK adalah semut hitam dan semut rangrang.