Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK POLONG KEDELAI DENGAN PRINSIP PHT

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK POLONG KEDELAI DENGAN PRINSIP PHT
Hama penggerek polong kedelai Etiella spp. (Etiella zinckenella dan Etiella hopsoni) dapat menimbulkan kerusakan polong yang sangat parah. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80%. Lebih dari itu, jika tidak ada tindakan pengendalian bisa mengakibatkan puso. Tingginya populasi Etiella spp. cenderung meningkat bila pertanaman inangnya semakin luas. Pada dasarnya, pertumbuhan dan perkembangan serangga hama di alam salah satunya dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan. Semakin banyak pakan yang disukai, maka pertumbuhan dan perkembangan serangga hama akan semakin cepat. Selain itu, musim ikut mempengaruhi perkembangan populasi larva Etiella spp.Populasi Etiella spp meningkat dari akhir Mei dan awal Juni kemudian mencapai puncaknya di awal Juni atau awal Juli memasuki musim kemarau, pada musim kemarau suhu yang panas menyebabkan aktifitas metabolisme hama semakin cepat. Hal ini berakibat memperpendek siklus hidupnya dan populasi hama meningkat dengan cepat. Larva Etiella spp. lebih suka memakan biji muda. Biji tersebut digerek habis sama sekali atau hanya tersisa sedikit. Larva lebih senang hidup sendiri dalam polong, jika terjadi dalam satu polong ada lebih dari satu maka akan terjadi kompetisi yang akhirnya larva yang lemah akan keluar dan pindah ke polong lain. Serangan pada polong muda ini dapat mengakibatkan kerontokan polong. Sebaliknya, serangan pada polong tua dapat menurunkan kuantitas dan kualitas biji kedelai. Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berlandaskan pada strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Strategi PHT mendukung secara kompatibel semua teknik atau metode pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. Prinsip operasional yang digunakan dalam PHT antara lain: (1) Budidaya tanaman sehat. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Untuk itu, penggunaan paket-paket teknologi produksi dalam praktik-praktik agronomis yang dilaksanakan harus diarahkan kepada terwujudnya tanaman yang sehat. (2) Pelestarian musuh alami. Musuh alami (parasit, predator dan patogen serangga) merupakan faktor pengendali hama penting yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama di lapang. (3). Pemantauan ekosistem secara terpadu. Pemantauan ekosistem pertanaman yang intensif secara rutin oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan. (4). Petani sebagai ahli PHT. Petani sebagai pengambil keputusan dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan dasar PHT. Adapun komponen pengendalian hama penggerek polong adalah (a) tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10; (b) pergiliran tanaman; (c) pelepasan parasitoid Trichogramma spp.; (d) semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali (klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin, carbosulfan, sihalotrin, sipermetrin) Disusun oleh Sunarmi, SPPPL Pertanian Kecamatan Trucuk