Loading...

PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN JAGUNG

PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN JAGUNG
Masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan SL-PTT di Poktan KWT Matahari - BPP Haekesak Kab. Belu : 1. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG Hama pada umumnya diartikan sebagai gangguan pada manusia,ternak dan tanaman. Secara khusus hama di artikan sebagai semua aktivitas hidup hewan yang dapat merusak,merugikan secara ekonomis sehingga dapat menurunkan hasil produksi tanaman tersebut. Penyakit adalah gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Penyakit tidak memakan tanaman melainkan merusak tanaman dengan mengganggu proses- proses di dalamnya. Tanaman yang terserang penyakit umumnya memiliki bagian tubuh yang utuh,tetapi aktivitas hidupnya terganggu sehingga dapat mengalami kematian. Penyakit juga dapat merugikan secara ekonomis dan menurunkan produksi terhadap tanaman tersebut.Secara khusus hama yang di hadapi dalam SL-PTT jagung di poktan Wesaseik adalah Hama Penggerek batang 2. HAMA PENGGEREK BATANG (Ostrinia fumacalis) Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Hama ini juga sering di sebut ''ngengat''.Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi per tahun, umur imago / ngengat dewasa 7-11 hari. Yang menarik, ngengat betina hama ini lebih suka meletakkan telur-telurnya di bawah permukaan daun, utamanya pada daun ke-5 hingga daun ke-9. Seekor ngengat betina mampu meletakkan telurnya sebanyak 600 – 800 butir. Jumlah telur yang diletakkan pada daun pun beragam di antara masing-masing kelompok, yaitu berkisar antara 30 hingga 50 butir, bahkan ada yang lebih dari 90 butir. Umur telurnya sendiri berkisar antara 3 hingga 4 hari. Serangan serangga ini dimulai saat tanaman jagung berumur dua minggu, dimana imagonya mulai meletakkan telur pada bagian-bagian tanaman. Puncak peletakan telur itu sendiri terjadi pada stadia pembentukan bunga jantan hingga keluarnya bunga jantan. 3. PENGENDALIAN TERPADU Untuk mengendalikan hama Ostrinia furnacalis diperlukan langkah terpadu yang tepat, karena serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan. (Anonim. 1992). Selain itu, pola tanam tumpang sari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah juga bisa mengurangi serangan dan kerusakan yang ditimbulkan hama ini. Pemotongan sebagian bunga jantan, yaitu empat baris dari enam baris tanaman, juga mampu mengurangi serangan. Pasalnya, dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan Nafus dan Schreiner menunjukkan bahwa 40 – 70% larva berada pada bunga jantan. Pemanfaatan musuh alami juga bisa dilakukan untuk mengendalikan serangan Ostrinia furnacalis Guenee. Beberapa musuh alami yang bisa digunakan adalah: parasitoid Trichogramma spp. yang mampu memarasit telur, bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki untuk mengendalikan larva, dan predator Euborellia annulata yang mampu memangsa larva dan pupa Ostrinia furnacalis. Sedangkan untuk pengendalian secara kimiawi, bisa menggunakan insektisida berbahan aktif triazofos seperti Sinergy , dan karbosulfan seperti Penalty yang cukup efektif untuk menekan serangan hama ini. Dari hasil yang telah di bahas dapat di simpulkan bahwa tanaman jagung juga merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Untuk menghindari penurunan produksi pada tanaman jagung perlu diperhatikan beberapa faktor yaitu pada pemilihan benih,diharapkan mengunakan varietas ungul seperti varietas jagung Bt. Dan memperhatikan pemakaian pupuk yang sesuai. Penerapan cara bercocok tanam yang baik untuk menghindari banyaknya serangan hama dan penyakit pada tanaman budidaya. Pada serangan hama Ostrinia furnacalis diperlukan langkah terpadu yang tepat, karena serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan. Pelaksanaan SL-PTT Jagung sangat bermanfaat untuk petani dan penyuluh untuk bekerja sama dalam meningkatkan hasil tanaman Jagung dan dalam pelaksanaan SL-PTT secara bersama-sama bisa menemukan hal-hal baru dalam budidaya tanaman Jagung. SL-PTT yang berkelanjutan akan meningkatkan wawasan petani dan peningkatan produksi sehingga petani bisa mandiri. Oleh :THEODORUS ANMAR UKAT,S.Pt PPL PENDAMPING - BPP HAEKESAK KECAMATAN RAIHAT WEMORI KAB. BELU